Biarkan Kami Hidup Adil, Walau Kami Berakhir Tanpa Memberi Kenangan Bagi Peradaban

Kita semua mengetahui bahwa semesta tidak hanya dihuni oleh manusia namun juga dengan hewan dan tumbuhan. Kita semua diciptakan untuk saling melengkapi dan menjaga satu sama lain. Tumbuhan diciptakan untuk membantu memproduksi oksigen dan menjadi sumber pangan bagi manusia dan hewan. Hewan juga dapat membantu pekerjaan manusia dan juga memberi sumber pangan bagi manusia. Manusia menjadi pengendali dan penjaga seluruh aspek yang ada di muka bumi karena kita diciptakan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna yakni dengan anugrah fisik lebih baik dan bekal akal sehat.

Doktrin di luar kepala bahwa kita sebagai makhluk paling sempurna, paling kuat, yang dibekali akal pikiran terkadang membuat sebagian dari kita melupakan bahwa bumi adalah milik bersama. Sebuah hal yang sering kita lupakan atau bahkan tidak kita ketahui adalah hewan juga memiliki hak asasi dan undang-undang yang menjamin kebebasan mereka. Ada banyak upaya manusia peduli hewan menyelamatkan hewan-hewan dari berbagai penyiksaan diluar etika. Bermula di Paris, Prancis pada tanggal 15 Oktober  1978 dideklarasikan sebagai hari Hak Asasi Hewan. Akan tetapi deklarasi tersebut baru diresmikan oleh UNESCO dengan dihadiri 48 negara beserta 330 kelompok pendukung binatang.

Isi deklarasi tersebut adalah membahas mengenai Setiap hewan memiliki lima hak asasi, yaitu bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari ketidaknyamanan, penganiayaan, dan penyalahgunaan; bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit; bebas dari rasa takut dan tertekan; serta bebas mengekspresikan perilaku alami (dikutip dari mediaindonesia.com

  1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009, yang terakhir direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada pasal 66 mengenai kesejahteraan hewan disebutkan “untuk kepentingan kesejahteraan hewan, dilakukan tindakan yang berkaitan dengan penangkapan dan penanganan; penempatan dan pengandangan; pemeliharaan dan perawatan; pengangkutan; pemotongan dan pembunuhan; serta perlakuan dan pengayoman yang wajar terhadap hewan.
  2. Pasal 66A (1) UU 41/2014, menyebutkan bahwa setiap orang dilarang menganiaya dan/atau menyalahgunakan hewan yang mengakibatkan cacat dan/atau tidak produktif. Ancaman hukuman paling singkat satu bulan dan peling lama enam bulan.
  3. Pasal 302 KUHP; Ayat 1 : “Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan”. Ayat 2 : “Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan”.

Deklarasi dan UU tersebut merupakan secuil bentuk kesadaran bahwa hewan adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang sering mendapat perlakuan tidak adil oleh manusia. Mengapa hanya secuil? Karena itu hanya deklarasi atau lebih tepatnya sebagai alarm peringatan. Di sisi lain deklarasi itu terdapat seluruh tindakan dan kesadaran yang menjadi tugas, satu dari milyaran manusia di bumi yang sulit dikontrol.

Upaya yang dilakukan juga hadir di dalam organisasi dan komunitas pecinta, penyelamat dan pelindung hewan, salah satunya adalah komunitas Let’s Adopt! Indonesia, berdirinya komunitas ini bertujuan untuk menyelamatkan hewan-hewan yang terlantar di jalanan, khususnya anjing dan kucing. Let’s Adopt! Indonesia memiliki misi yakni melawan kekejaman terhadap hewan dalam bentuk apapun. Hal serupa juga dilakukan oleh Jakarta Animal Aid Network, ia merupakan LSM nirlaba terbesar di Jakarta yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan di Indonesia. Walaupun dikenal dengan program penyelamatan satwa liar dan lautnya, JAAN juga memiliki divisi penyelamatan hewan domestik. Divisi ini tidak hanya berfungsi untuk menyelamatkan hewan peliharaan tetapi juga hewan ternak dan pekerja. JAAN berhasil mempertahankan sistem adopsi dan pengasuhan yang efisien.

Memang benar bila hewan diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia dan menjadi sumber pangan. Namun saat mereka berada di habitat alam alangkah baik bila kita menjaga dan melindunginya dari segala bentuk penyiksaan atau menyalahgunakan hewan yang dapat berdampak pada kelangsungan populasi serta ekosistem alam. Adapun ketika akan dijadikan sebagai bahan pangan akan lebih baik bila memilih dan memilah umur serta pertimbangan kondisi hewan sebelum disembelih dengan prosedur dan cara yang baik yaitu tidak dengan melakukan kekerasan tidak beretika.

Tindak kekerasan yang paling sering terjadi adalah eksploitasi habitat alami. Tidak puas dengan hal tersebut masih terjadi eksploitasi hewan untuk bahan fashion seperti jaket, tas, sepatu, dan lain sebagainya. Penculikan anjing dan kucing untuk disembelih dan diperdagangkan dagingnya, atau bentuk siksaan lainnya yang hanya sebagai kepuasan semata, kegiatan membajak sawah dengan tenaga krakal sapi atau kerbau, dan pertunjukkan topeng monyet.

Terdapat beberapa kasus-kasus terkini penganiayaan hewan, antara lain:

  • Kasus pria memakan kucing hidup-hidup di Kemayoran, Jakarta Pusat pada tahun 2019
  • Orang utan “Pony” dijadikan PSK di Rimba Borneo, Kalimantan Tengah pada 2013
  • Pembantaian masal lebih dari 1.400 lumba-lumba di Kepulauan Faroe pada 2021
  • Kasus jual beli hamster di sebuah market place menggunakan ekspedisi reguler sehingga menyebabkan hamster mati kehabisan nafas, 2021

Dari kasus-kasus tersebut dapat dilihat bahwa tanpa sadar manusia kehilangan akal sehat dalam hidup berdampingan dengan makhluk lain sesama ciptaan tuhan. Dalam memperingati Hari Hak Asasi Hewan, kami mengecam atas tindak kekerasan dan ekploitasi terhadap hewan dalam bentuk apapun.

Ditulis oleh Kastrat HM Sejarah UNDIP

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *