Cerita Tentang Bumi : Bumi Kami yang Kian Hari Kian Bersedih

~ Inay, Tangerang Selatan

Malam ini aku sempat menstalker instagram teman-temanku yang pernah mengikuti sekolah iklim atau mereka-mereka yang aktif mengikuti kampanye peduli Bumi. Berbicara mengenai kondisi Bumi akhir-akhir ini aku jadi teringat beberapa kejadian di masa lalu. Sejak kecil, aku memiliki perasaan emosional yang tinggi, dengan itu apa yang aku dengar dan lihat kerap kali menjadi faktor penyebab aku bertindak secara emosional. Berawal ketika aku tinggal di rumah pertamaku setelah orangtuaku memutuskan pindah dari Bandung. Sedari TK aku dikenal sebagai anak yang penyayang, peduli, dan berani walaupun gampang menangis. Begitu ketika SD, kepedulianku naik level sampai-sampai aku pernah memarahi pengendara sepeda yang membuang sampah sembarangan tepat di depan mata kepalaku, dengan cepat aku mengambil sampahnya kembali dan berlari berusaha menyamai kecepatan sepeda sambil berteriak, “Berhenti! Buang sampah pada tempatnya! Gak kesihan apa sama Bumi?” Namun tetap saja si pengendara tidak mau berhenti, siapa memang yang mau mendengarkan ocehan anak kecil berumur 7 tahun saat itu? Ya, saat itu aku sangat kesal dengan manusia dewasa yang tidak mau bertanggung jawab atas sampahnya.

Kekesalan itu juga terjadi ketika menjelang akhir tahun, tentu saja terdengar dentuman petasan dan kembang api di luar. Kebetulan saat itu bertepatan dengan bulan ramadhan (kalau tidak salah, berarti benar) saat keluargaku dan keluarga teman kecilku berdiam diri di masjid menunaikan ibadah itiqaf. Aku dan teman-teman keluar dari ruangan menuju pelataran masjid Pondok Indah, Jakarta. Terdengar banyak sekali dentuman-dentuman, saat itu juga aku memarahi orang-orang dewasa yang turut serta menyalakan petasan dan kembang api untuk merayakan tahun baru. Dari atas aku meneriakinya, “Berisik! Ga kesihan apa sama langit? Lapisan ozonnya kesihan, tau gak?” Dengan PDnya aku berbicara seperti itu, padahal aku sendiri tidak tau apakah kembang api yang dilemparkan ke langit itu akan mempengaruhi lapisan ozon atau tidak.

Hingga, sekarang aku telah bertumbuh menjadi lebih dewasa walaupun tetap sering menangis. Suatu hari, aku dan sahabatku mengunjungi pameran “Sejauh Mata Memandang”. Di dalamnya terdapat potret kehidupan laut yang meprihatinkan, ada banyak ribuan koleksi plastik dalam ruangan-ruangannya. Hal ini menyadari kami berdua bahwa, plastik merupakan produk buatan manusia yang sangat lama terurainya. Sehingga kami berdua berkomitmen untuk mencoba mengurangi sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat keadaan Tangsel dan masyarakat sekitarnya, sampah yang kian semakin banyak dan hanya sedikit orang yang peduli. Bahkan saat ini, aku terus merasa berdosa ketika beberapa kali mau tidak mau harus terpaksa menggunakan plastik. Jika tidak dibiasakan, maka bisa jadi beberapa puluh tahun ke depan negeri ini berubah menjadi negeri sampah.

~ Endi, Semarang.

Siang ini, kurasakan hawa panas begitu menyeruak masuk kedalam kamar kosku. Kipas yang sedari tadi berputar – putar pun tak mampu juga mengusir hawa panas tersebut. Pakaianku pun kuyup terbasahi oleh peluh keringatku sendiri. Huuhhh… rasanya ingin aku mengguyur sekujur tubuhku dengan air es. Tapi apa boleh buat, rasa malasku untuk bergerak membuatku akhirnya hanya berbaring saja ditempat tidur sambil bersambat dengan keadaan panas Kota Semarang. “asuuu ihhh…. panasnya” sambatku dalam hati.

Kota Semarang tempatku merantau dan menempuh pendidikan ini memang terkenal dengan suhu panasnya. Entah apa yang membuat suhu di kota ini tidak begitu bersahabat dikala siang. Apakah karena tempatnya yang secara geografis terletak dipesisir utara Pulau Jawa? Ataukah karena memang cahaya sinar matahari hanya berfokus menyinari kota ini saja? Hahahaha….. kurasa juga tidak. Menurut Pak Samino -orang asli sekitar- yang pernah kutanyai perihal ini, memang suhu di Kota Semarang saat ini tidaklah seperti dahulu.

 “Dahulu, suhu Kota Semarang ini boleh dikatakan tidak begitu panas seperti ini” ucapnya.

Akupun seketika berpikir. Dahulu ketika ku kecil suhu udara juga tidak sepanas ini. Padahal aku tinggal di Kota Jakarta yang notabene nya sedikit banyaknya sama dengan Kota Semarang. Dan memang iya juga, ketika ku kecil masih banyak pohon – pohon tertanam disetiap pinggir jalan dekat rumahku. Ruang terbuka hijau pun dengan mudahnya dapat ditemui. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu ketika pembangunan mulai digalakkan sedikit demi sedikit pepohonan pun mulai ditebang dan ruang terbuka hijau mulai berubah fungsi menjadi perumahan dan perkantoran.

Kurasa permasalahan meningkatnya suhu udara ini bukan hanya terjadi di Kota Semarang dan Jakarta saja. Akan tetapi juga, banyak terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia sebagai sebuah akibat dari terjadinya pembangunan – pembangunan yang begitu masif dan tidak bertanggung jawab yang telah dilakukan oleh manusia.

Pembangunan – pembangunan yang dilakukan tersebut, telah mengakibatkan kerusakan yang begitu luar biasa seperti hilangnya ruang terbuka hijau yang menjadi sumber dari oksigen (O2). Disamping itu  emisi karbon dari Industri – industri yang dihasilkan juga mengakibatkan terjadinya pencemaran udara serta menipisnya lapisan ozon (O3) yang juga mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi serta mencairnya lapisan es.

*

Suhu bumi telah menjadi kian memanas dalam kurun dua abad terakhir sejak munculnya Revolusi Industri. Hal ini tidak hanya menjadi penyebab meningkatnya suhu dipermukaan bumi saja. Akan tetapi juga, telah mengakibatkan daerah Kutub  kehilangan sekitar 279 Miliar Ton Es tiap tahunnya. Dan sebagai akibatnya, keselamatan ratusan juta populasi manusia terancam oleh rendaman air pada tahun 2100.

Selain hal tersebut, jika kita perhatikan lebih dalam keadaan bumi yang kian malang ini, banyak hal yang banyak telah berubah disekitar kita. mulai dari frekuensi dan intensitas curah hujan yang jauh lebih tinggi selama 20 tahun terakhir di suatu daerah, sehingga menyebabkan terjadinya banjir.  Hingga intensitas curah hujan yang menjadi kian rendah disautu daerah, sehingga menyebabkan terjadinya kekeringan. Suatu hal yang anomali bukan?

Melihat gejala tersebut kita dapat berkaca dari peristiwa sekitar kita yang terjadi baru – baru ini ketika Kota Jakarta dan Semarang terendam banjir akibat curah hujan yang begitu tinggi. Kita juga dapat melihat saudara kita di daerah Nusa Tenggara yang hampir 250 hari dilanda kekekeringan akibat curah hujan yang begitu sedikit. Dampak dari hal tersebut, selain terjadinya krisis air juga mengakibatkan terjadinya sejumlah kebakaran hutan.

Kebakaran yang terjadi di Indonesia sendiri telah mengakibatkan jumlah hutan terus berkurang dari tahun ke tahun. Hampir banyak kasus kebakaran hutan yang terjadi disebabkan sengaja dibakar oleh para oknum dari perusahaan rakus yang ingin buka lahan. Bahkan dari kurun tahun 2015-2019 kemarin di Indonesia sendiri telah banyak luas hutan yang terbakar yang jika ditotal lahan memiliki luas sekitar 70 kali pulau Bali. Yang mana akibat dari kebakaran tersebut terdapat jutaan orang terkena infeksi saluran pernapasan dan ratusan ribu diantaranya meninggal, serta menyebabkan keberadaan hewan-hewan yang ada disana juga turut terancam keberlangsungannya.

Berbicara tentang kerugian materiil tentu saja ada. hampir 300 Triliun rupiah kerugian yang disebabkan akibat dari kebakaran hutan ini.  yang jikalau dihitung-hitung mungkin akan cukup untuk membiayai 100 ribu orang pelajar terbaik kita untuk berkuliah di Harvard secara gratis. Tidak hanya di Indonesia saja, di seluruh dunia pun tiap tahunnya ada sekitar 15 miliar pohon yang ditebang dan terbakar. Yang jikalau tidak segera ditangani, mungkin dalam kurun 200 tahun lagi akan menghabiskan semua pohon yang ada di Bumi dengan begitu saja.

Permasalahan pemanasan global ini bukanlah hal yang dapat dianggap sebagai terpesan kosong belaka, sebab dari pembangunan yang telah terjadi ini mengakibatkan banyaknya emisi karbon yang dihasilkan yang mana mengandung senyawa CO2, CH4, HFC, CFC, dll. Yang terus memenuhi lapisan atmosfer di bumi kita yang membuatnya menjadi semakin memanas. Sebagai contoh  total Jumlah emisi karbon yang dihasilkan manusia dari penggunaan bahan bakar fosil saja bisa mencapai 37.000.000.000 Ton. Yang jika diumpakan setara dengan membuang 6000 Piramida Giza ke atmosfir Bumi. (climate.nasa.gov)

Secara global mayoritas emisi disebabkan akibat dari pola-pola konsumtif kita, seperti penggunaan listrik dan AC, makanan yang kita makan, produk yang kita beli, dan transportasi yang kita gunakan. Yang mana hal tersebut terjadi akibat dari kemajuan pembangunan dan teknologi. Jika 20 tahun terakhir saja kita sudah merasakan perubahan iklim akibat hal tersebut, lalu bagaimana dengan kondisi yang akan terjadi 80 tahun mendatang? Mungkin saja  permasalahannya akan menjadi lebih ekstrim.

Entah butuh waktu berapa lama lagi agar seluruh manusia menyadari bahwa bumi yang kita huni ini kian memburuk keadannya dari hari ke hari. Seluruh ekosistem yang ada saat ini sedang  mengalami kerapuhan. Dan kita semua berada diambang kepunahan massal. Oleh karena itu, perlunya sebuah kesadaran kolektif untuk mencegah hal tersebut.

Kita dapat melakukan berbagai macam upaya dan kerjasama untuk mengurangi dan memperlambat emisi karbon ke udara. Tentunya kerjasama ini haruslah dilakukan berbagai lapisan. Mulai dari kelompok kecil, sektor industri, hingga para pembuat kebijakan. Hal ini semata kita lakukan sebagai sebuah kesadaran  agar bumi yang menjadi tempat kita tinggal bisa terus terjaga kelangsungannya hingga generasi mendatang. Namun, gagasan ini hanya akan menjadi sebuah wacana dan omong kosong saja jika tidak diiringi oleh aksi yang nyata. Pertanyaannya, maukah kita melaksanakannya?

Oleh Nur Ainayah Al-faatihah & Andrew Sentanu

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *