DI BAWAH BAYANG-BAYANG LOCKDOWN: APAKAH INDONESIA SIAP? (Ditinjau Dari Aspek Sosio-Historis Mengenai Perkembangan Wabah di Indonesia)

LATAR BELAKANG

Kesehatan memiliki peran penting dalam segala aktifitas kehidupan manusia sehari-hari. Imunitas tubuh seseorang memengaruhi apakah seseorang tersebut dapat dikatakan sehat atau tidak. Salah satu fungsi dari imunitas tubuh adalah untuk menangkal penyakit menular, apabila seseorang tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat maka akan dengan mudah Ia terjangkit penyakit tersebut. Penyakit menular adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur, dan dapat berpindah ke orang lain yang sehat (sumber: https://www.alodokter.com/penyakit-menular-yang-umum-di indonesia).

Berdasarkan jangkauan penyebarannya penyakit menular terbagi menjadi dua yaitu, epidemi dan pandemi. Epidemi adalah kondisi di mana kelompok masyarakat atau wilayah terkena penyakit menular dan kejadiannya terjadi secara cepat. Sedangkan pandemi adalah wabah penyakit yang terjadi secara luas di seluruh dunia. Dengan kata lain, penyakit ini sudah menjadi masalah bersama warga dunia (sumber: https://www.alodokter.com/penyakit-menular-yang-umum-di indonesia).

Baru-baru ini dunia dihebohkan dengan penyebaran virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Covid-19 ini bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok kemudian menyebar ke seluruh dunia, sehingga World Health Organization (WHO) menaikan status wabah ini dari epidemi menjadi pandemi. Sekarang ini Covid-19 sudah menyabar ke 189 negara dan wilayah Eropa menjadi yang terparah akibat pandemi ini. Hal inilah yang menyebabkan banyak beberapa negara yang pada akhirnya memilih mengunci rapat pintu keluar-masuknya manusia (lockdown) sebagai opsi terakhir dalam menangani wabah tersebut.

 PEMBAHASAN

PENINGKATAN WABAH COVID-19

Wabah Covid-19 atau yang lebih dikenal sebagai wabah virus corona jenis baru merupakan salah satu wabah terbesar dalam sejarah umat manusia. Wabah ini pertama kali diidentifikasikan di Kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019. Hingga saat ini masih belum diketahui penyebab terjadinya wabah tersebut, ada yang menyebutkan bahwa wabah ini berasal dari perdagangan hewan-hewan liar yang seharusnya tidak untuk dikonsumsi, ada juga isu yang menyebutkan bahwa wabah ini merupakan senjata biologis yang diciptakan untuk menghancurkan separuh penduduk dunia. Pemerintah Tiongkok juga hingga saat ini masih mencari siapa pasien pertama yang didiagnosa virus tersebut.

Jika belajar dari sejarah sebenarnya bukan hanya virus corona yang menyebar dengan cepat, ada beberapa virus yang pernah mengguncangkan dunia, seperti virus influenza tahun 1918 berasal dari Amerika kemudian berkembang pesat di Spanyol dan sampai menyerang Penduduk di Hindia Belanda pada Bulan Juli 1918. Beberapa dekade kemudian dikejutkan dengan adanya pandemik virus Ebola tahun 1979 yang pertamakali ditemukan di Zaire hingga menyebar di hampir seluruh dunia. Virus terakhir tahun 2013 dikejutkan dengan penemuan virus Sars dan Mers yang melanda Timur Tengah yang diduga berasal dari Unta sebagai tempat perkembangan virus tersebut.

Penyebaran virus COVID-19 sempat membuat Penduduk Kota Wuhan merasa terisolir yang diduga sebagai awal terjadinya pandemik. Banyak isu-isu yang berkembang selama terjadinya wabah ini. Salah satunya yang dimuat dalam suatu Artikel Epoch Time (suatu artikel yang kontra dengan Tiongkok) yang berjudul Pejabat Komunis Tiongkok Sembunyikan Skala Sebenarnya Wabah Mematikan dari Warga Tiongkok Sehingga Menyulut Krisis dengan kutipan:

‘’Seorang sumber orang dalam mengatakan kepada The Epoch Times berbahasa Mandarin pada tanggal 24 Januari mengatakan bahwa Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok memanipulasi jumlah kasus yang dipastikan, dengan mengendalikan jumlah kit diagnostik yang tersedia untuk rumah sakit’’ (sumber: Epoch Time, Februari 2020 https://etindonesia.com/2020/02/07/pejabat-komunis-tiongkok-sembunyikan-skala-sebenarnya-wabah-mematikan-dari-warga-tiongkok-sehingga-menyulut-krisis/) .

            Jika dikaji lebih dalam, bahwa apa yang disampaikan dalam artikel tersebut berisikan tentang dugaan mengenai virus tersebut yang menyatakan bahwa Tiongkok lah yang bertanggung jawab atas pandemi ini. Tegasnya Tiongkok sebagai ‘biang’ dari penyebaran wabah ini. Dari luar Tiongkok negara Jepang menjadi kasus paling pertama yang terjangkit wabah pandemi ini. Bermula dari Tindakan Pemerintah Jepang yang mengkarantina sebanyak 3.700 orang penumpang sebuah kapal Pesiar Princess Diamond dengan masing-masing 2.666 penumpang dan 1.045 kru termasuk beberapa warga negara Indonesia (WNI) yang ikut dikarantina dalam kapal tersebut.

Selama hampir 4 minggu Pemerintah Jepang melakukan karantina hingga pada akhirnya seluruh penumpang beserta anak buah kapal (ABK) yang dikarantina berhasil melewati masa karantina dan hanya 285 orang yang terindikasi virus tersebut. Pemerintah Indonesia kemudian memulangkan 69 Orang WNI dan ABK pada tanggal 1 Maret dengan menggunakan pesawat yang telah disewa oleh Pemerintah seperti yang dikutip dari artikel yang berjudul Pemulangan WNI ABK dari Kapal Diamond Princess (Sumber: https://kemlu.go.id/portal/id/read/1094/berita/pemulangan-wni-abk-dari-kapal-diamond-princess).

            Sedangkan kasus terbesar dengan jumlah korban yang terjangkiti virus Covid-19 adalah Italia. Italia dan beberapa negara Eropa lainnya menjadi sebagai episentrum baru dalam penyebaran Covid-19. Total dari korban yang meninggal di Italia per tanggal 23 Maret 2020 sudah mencapai 5.476 orang. Apa yang terjadi di Italia saat ini adalah akibat dari pemerintah Italia yang sangat lamban dalam menangani kasus wabah tersebut.

Covid-19 pertama kali diidentifikasikan di Milan, wilayah Italia Bagian Utara, kemudian penyakit tersebut dengan mudah menyebar, efek dari masyarakat yang enggan dengan instruksi pemerintah setempat dan banyaknya masyarakat yang pergi ke kampung halaman masing-masing, dengan dalih akan tinggal bersama keluarga jikalau terjadi lockdown. Akhirnya  Italia kemudian memutuskan untuk melakukan lockdown dan melarang warganya untuk keluar, jika terbukti melanggar maka akan dipenjara dan dibuatkan semacam surat kriminal oleh aparat Italia.

  • Perkembangan Covid-19 di Indonesia

Kasus Covid-19 pertama kali diidentifikasi di Depok, dua orang dinyatakan positif Covid-19, masing-masing berusia 64 dan 31 tahun. Dua orang tersebut sebelumnya sempat mempunya kontak dengan salah satu warga negara Jepang yang dinyatakan positif virus Covid-19 ketika sampai di Malaysia. Status positif Covid-19 keduanya diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo, pada hari Senin 2 Maret 2020. Pengumuman itu sontak mengagetkan masyarakat sekaligus membuat panik. Pasalnya, sebelum kejadian itu pemerintah Indonesia selalu menampik Indonesia sudah terpapar Covid-19.

Pada perkembangannya dari minggu ke minggu terus menular hingga data terbaru pada tanggal 28 Maret 2020 telah mencapai  1.155 orang dengan 102 meninggal dan 59 orang sembuh. Jumlah tersebut kemungkinan akan meningkat dikarenakan sifat dari penularan virus Covid-19 sangat masif. Penyebaran virus sangat rentan menyerang orang yang berusia 50 tahun ke atas, mengingat daya tahan tubuh senior citizens sudah mulai menurun.

Penyebaran Covid-19 yang semakin meningkat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: 1) kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, 2) masih sulitnya masyarakat dalam menaati instruksi yang dikeluarkan oleh pemerintah terbukti kemarin publik dihebohkan dengan kunjungan wisatawan ke tempat wisata di Banten sehari setelah pemerintah melakukan instruksi tersebut, 3) Kordinasi yang berjalan buruk antar pemerintah pusat dan daerah akibat ego sektoral yang muncul. Sehingga upaya ini harus mendapatkan perhatian serius bagi setiap masyarakat.

Penyebaran virus ini dilakukan melalui kontak dengan sesama manusia, ini perlu dihindari dan mengapa pentingnya untuk melakukan pembatasan kegiatan sosial dengan menjauhi diri dari keramaian dan selalu mencuci tangan.  Mengingat tenaga medis yang menangani wabah tersebut sudah mulai kewalahan dan hampir menerima kurang lebih 50 pasien dalam setiap harinya. Banyak rumah sakit juga kekukarangan alat pelindung diri (APD) sehingga beberapa pihak rumah sakit terus mendapatkan keluhan dari petugas medis. Bahkan beberapa tenaga medis telah mendapatkan persekusi dari masyarakat sekitar, sebagai contoh ada seorang perawat dari RSUP Persahabatan yang harus diusir dari kosnya oleh pemilik kos dikarenakan dianggap sebagai pembawa virus, para tenaga medis nampaknya telah mendapatkan dampak psikis dari adanya wabah tersebut.

Selain terus menghantui kesehatan masyarakat, pandemi Covid-19 juga berimbas pada sektor ekonomi, sosial, dan politik Indonesia. Sudah beberapa sektor usaha yang terganggu, sebut saja sektor industri penerbangan, industri pariwisata, haji dan umroh, manufaktur, tekstil, dan bahkan sekarang hampir semua lini ekonomi berjalan lambat. Walhasil target pertumbuhan ekonomi yang sudah dicanangkan meleset, semula dalam rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) ekonomi nasional pada 2020 ditargetkan tumbuh 5,3%. Penurunan pertumbuhan ekonomi ini diakui sendiri oleh Presiden Joko Widodo, penurunan dipicu pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan rontok dari 3 persen menjadi 1,5 persen atau, bahkan, lebih rendah akibat wabah virus covid-19. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula 5 persen sampai 5,4 persen juga akan mengalami penurunan,” ungkap Jokowi, Jumat (20/3) (sumber: https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20200320113444-532-485273/jokowi-sebut-ekonomi-2020-turun-karena-corona).

Dari sinilah kita belajar bagaimana suatu wabah dapat menghentikan seluruh aktifitas manusia yang sering melakukan perusakan alam sekaligus merupakan hukuman yang diberikan oleh alam dari apa yang telah diperbuat.

  • Sejarah Berkembangnya Wabah di Hindia Belanda Awal Abad 20

Penduduk Hindia Belanda sudah sejak abad ke-17 akrab dengan wabah penyakit. Kala itu demam (koortsziekte) menyerang pegawai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan penduduk yang ada di Batavia juga sekitarnya. Penyakit itu diduga berasal dari tanah rawa-rawa yang menguap karena tersorot sinar matahari. Selain itu kondisi lingkungan Batavia yang sudah tidak sehat lagi. Lebih lanjut dikatakan bahwa tata ruang kota dianggap sebagai penyebab termasuk kanal-kanal yang tersumbat dan mengakibatkan genangan air.

Namun ada masa di mana Hindia Belanda mengalami wabah penyakit terus menerus. Kisaran tahun 1910-1940 menjadi periode berbagai penyakit mewabah di Hidia Belanda, antara lain:

Nama Penyakit Daerah Terdampak
Kusta Bangkalan
Kolera Surabaya
Pes Semarang
Influenza Seluruh Jawa

Sumber: Muhsin, M. (2012). Bibliografi Sejarah Kesehatan Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda.

Penyakit-penyakit tersebut kemudian dengan cepat menyebar hingga merenggut korban jiwa sebanyak 586.757 orang pada tahun 1916. Jika dilihat dari korban meninggal dunia, zaman itu lebih banyak dibandingkan dengan kasus pandemik Covid-19. Terlebih saat itu di Jawa keempat penyakit tersebut telah menyerang secara bersamaan. Kasus influenza atau yang lebih dikenal dengan Flu Spanyol menyumbang angka kematian tertinggi yaitu, 1,5 juta orang (sumber: artikel Hendri F. Isnaeni, Wabah Penyakit Mematikan di Banten dan Jawa Tengah, dalam historia.id).

Penyebutan Flu Spanyol lebih populer di masyarakat karena pertama kali negara yang menginformasikan penduduknya terkena penyakit ini adalah Spanyol. Saat itu Spanyol adalah negara yang netral atau tidak terlibat dalam Perang Dunia I (PD I), sehingga bebas memberitakan hal tersebut kepada khalayak luas, dengan kata lain tidak melakukan sensor kepada pers. Sedangkan pihak yang terlibat di PD I melakukan sensor ketat terhadap pers, alasannya adalah agar moral pasukannya tidak runtuh. Seperti yang dilakukan Amerika Serikat, padahal saat itu tentarnya di Perancis sudah lebih dahulu mengidap influenza, namun mereka tidak menyadari itu.

Pandemi Influenza (Flu Spanyol) di Hindia Belanda

Secara global, Flu Spanyol menelan korban 20-40 juta orang, bahkan sumber lain mengatakan sampai 100 juta orang. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan oleh beberapa hal penting, di antaranya jenis virus yang menyebabkan Flu Spanyol ini adalah tipe paling berbahaya, yaitu tipe A H1N1 dengan masa inkubasi hanya tiga hari dan mudah menular melalui droplet (lendir atau bulir bersin atau batuk). Kondisi dunia yang sedang tidak kondusif, imbas dari PD I tahun 1918 juga mempercepat penularan, saat itu sensor ketat terhadap pers dilakukan, dampaknya informasi tidak menyebar secara masif, orang tidak mengetahui gejala dan pencegahannya. Di samping itu, pelayanan kesehatan yang tidak memadai akibat carut-marut dunia juga menjadi masalah utama pada saat itu.

Kondisi yang tidak kondusif akibat PD I dan penanganan medis yang berantakan, mengakibatkan penyakit itu menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Hindia Belanda. Meski Belanda tidak terlibat dalam PD I bukan berarti menghindarkannya dari penularan Flu Spanyol ini. Flu Spanyol juga menyebar lewat interaksi para pelaku usaha perkapalan dan pelabuhan. Disinyalir Flu Spanyol yang menyebar ke Hindia Belanda tahun 1918 berasal dari China dengan Hongkong sebagai pelabuhan utamanya. Padahal sebelumnya, konsul Belanda di Singapura memberikan peringatan kepada pemerintah Hindia Belanda di Batavia agar mencegah kapal-kapal dari Hongkong merapat di dermaga Batavia dan menurunkan penumpang disana, namun imbauan itu tidak diindahkan oleh pemerintah setempat.

Flu Spanyol mulai menyebar di Hindia Belanda pada pertengahan tahun 1918. Kemudian akhir Oktober 1918, Pemerintah Hindia Belanda telah menerima laporan bahwa penyakit itu telah melanda Jawa Timur, dan sebulan kemudian sudah sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Penyakit terus menular karena tidak ada kontrol pemerintah terhadap mobilitas penduduk di tempat-tempat ramai seperti pasar dan palabuhan. Belum lagi kondisi pemukiman yang padat penduduk dan kumuh mempercepat penyebaran virus Flu Spanyol. Rata-rata usia yang meninggal akibat penyakit ini adalah 20-40 tahun, usia muda dan anak-anak.

Melihat kondisi yang semakin sulit dikendalikan, pada bulan November 1918 pemerintah membentuk tim pengendalian Flu Spanyol di bawah Kepala Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke Gezondheid Diens) di kepalai langsung oleh dr. de Vogel. Tim ini ditugaskan untuk mengendalikan penyebaran virus dan mengedukasi masyarakat terkait gejala-gejala dan pencegahannya. Pemerintah pusat Hindia Belanda juga membuat propaganda melalui birokrat-birokrat di daerah. Selain itu mereka juga membagikan informasi lewat media, buku belajar di sekolah dengan menggunakan ilustrasi punakawan bertulisan dan berbahasa Jawa.

Usaha pemerintah dalam membuat tim pengendalian Flu Spanyol nampaknya menunjukkan hasil setelah setengah tahun berjalan, tim ini mampu menekan angka kematian. Keberhasilan tim pengendali Flu Spanyol ini membuat pemerintah memberikan kepercayaan lebih kepada Dinas Kesehatan Rakyat. De Vogel sebagai ketua, menyarankan Gubernur Jendral  van Limburg Stirrum untuk membuat peraturan yang berlaku di seluruh Hindia Belanda. Peraturan itu berguna untuk menindak lanjuti pencegahan di daerah. De Vogel memperkirakan penyebab terbesar menularnya Flu Spanyol ada di awak kapal yang masuk dari Hindia, sehingga Ia menginginkan peraturan yang ketat berlaku di sana. Dari sini lah konflik kepentingan antar kelompok meruncing, dalam bisnis perkapalan misalnya, direksi Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM). Perusahaan yang mendominasi jalur-jalur perkapalan di Hindia Belanda sejak akhir abad XIX itu merasa keberatan terhadap usul dari Dr. de Vogel yang dianggapnya membatasi kinerja dan usaha mereka.

Direksi KPM mengingkan pihak pelabuan lah yang andil besar dalam pencegahan penumpang terjangkit Flu Spanyol. Setelah perdebatan berlangsung panjang, diperkirakan sampai satu tahun peraturan (Influenza Ordonnantie)  disahkan, tepatnya pada 20 Oktober 1920. Untuk pencegahan Flu Spanyol perlu kerjasama antar Dinas Kesehatan Rakyat, Perkapalan, dan Pelabuhan agar prakteknya berjalan seimbang dan masif. (Sumber: Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda/Priyanto Wibowo, dkk, -Depok: Kerjasama antara Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Unicef Jakarta dan Komnas FBPI 2009)

Buruknya Pelayanan Untuk Bumiputera

Pandemi Flu Spanyol dan penyakit lainnya yang pernah terjadi di Hindia Belanda selalu menyisakan pilu bagi rakyat Bumiputera. Bumiputera tidak mendapatkan pelayanan kesehatan seperti layaknya orang-orang Eropa dan China. Dokter-dokter Eropa enggan memberikan pelayanan terbaik karena umumnya rakyat Bumiputera tidak punya uang banyak untuk membayar mereka. Rakyat Bumiputera pun memilih untuk menggunakan cara-cara tradisional untuk mencegah dan mengobati Flu Spanyol. Sebagian dari mereka masih percaya penyakit yang mereka derita itu asalnya dari kekuatan supranatural tak kasat mata, karena hal itu mereka pun lebih memilih ke dukun untuk dijampi-jampi. Atau sebagainya lagi memilih untuk meminum jamu dari tumbuh-tumbuhan, seperti temulawak dan kina. Oleh karena penanganan yang tidak tepat ini, tak ayal menyebabkan jumlah kematian akibat Flu Spanyol ini tinggi. Angkanya secara keseluruhan di dunia mengalahkan angka kematian wabah hitam (black death) di Eropa.  (Sumber: Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda/Priyanto Wibowo, dkk, -Depok: Kerjasama antara Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Unicef Jakarta dan Komnas FBPI, 2009)

  • Akankah Indonesia Siap Jika Di Lockdown?

Jika merefleksikan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia yang dahulu bernama Hindia Belanda, ada beberapa hal yang bisa diambil intisarinya. Sebenarnya pola yang terjadi terbilang sama, sumber virus Covid-19 yang sekarang menyebar di Indonesia sama-sama berasal dari luar negeri. Sama halnya dengan Flu Spanyol yang melanda Hindia Belanda tempo dulu, virusnya pun berasal dari luar negeri tepatnya China. Meski kasus positif Covid-19 di Indonesia bukan bermula dari interaksi perdagangan luar negeri, melainkan interaksi antar WNI dan WNA Jepang dalam satu acara dansa, tidak menutup kemungkinan kasus lain yang sekarang berkembang disebabkan karena interaksi WNI dan WNA di negara-negara terdampak dan mereka kembali ke Indonesia melalui jalur udara dan laut. Dari sana kemudian virus itu terus menyebar di Indonesia dari hari ke hari.

Untuk mengendalikan Covid-19 itu, sejak 16 Maret 2020 Jokowi sudah memerintahkan untuk melakukan pembatasan aktifitas (social distancing) dengan kemudian meliburkan sekolah dan perguruan tinggi (baca: belajar daring dari rumah), dan menerapkan bekerja dari rumah. Istilah itu belakang diganti dengan physical distancing. Selain itu masyarakat juga diimbau untuk terus menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungannya dengan menganjurkan untuk menyemprotkan desinfektan ke setiap ruangan, menggunakan hand sanitizer, dan masker penutup mulut. Pemerintah juga menerapkan standar operasional prosedur (SOP) pencegahan di setiap masuk negara baik bandara maupun pelabuhan, dan ikuti oleh tempat-tempat keramaian lainnya seperti perkantoran, swalayan, dan hotel.

Kendati usaha pencegahan sudah dilakukan, angka positif covid-19 terus meningkat, hingga beberapa pemerintah daerah sudah mulai melirik opsi lockdown. Menurut Dian Novita yang dikutip pada sebuah artikel yang berjudul Siapkah Indonesia melakukan Lockdown? Dalam sebuah artikel tersebut menjelaskan tentang pengertian lockdown yakni

‘’ Lockdown sendiri diartikan sebagai larangan warga untuk masuk kesuatu tempat karena kondisi darurat. Kebijakan China melakukan lockdown di daerah tersebut berdampak baik jika dilihat dari menurunnya tingkat penyebaran virus bahkan WHO pun menyebut lebih dari 70% dari jumlah total pasien virus corona telah berhasil sembuh’’ (Sumber: Dian Novita. (2020). https://ibtimes.id/siapkah-indonesia-melakukan-lockdown)

            Artinya jika merujuk pada pernyataan diatas bahwa Kebijakan Lockdown merupakan salah satu kebijakan efektif dalam menangani berbagai wabah penyakit salah satunya penyakit pandemik Covid19. Namun masalah yang dihadapi adalah hampir sekitar 65% masyarakat Indonesia berprofesi sebagai free lancer, artinya profesi yang dimiliki oleh Masyarakat Indonesia lebih cenderung bekerja di luar ruangan ketimbang bekerja di dalam ruangan. Sebagai contoh ojek online, hari-hari mereka dihabiskan di luar ruangan atau para pedagang UMKM yang terus keluar rumah ditengah wabah yang melanda dan menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Sehingga lagi-lagi faktor ekonomi menjadi suatu alasan sehingga sebagian mereka tetap untuk berada di luar.

Seiring berjalannya waktu pengertian lockdown untuk konteks Indonesia pun bergeser, Menko Polhukam Mahfud Md, mengatakan lockdown  sama dengan karantina kewilayahan. Menurut Mahfud, karantina kewilayahan diatur dalam aturan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Mahfud menyebut, dalam UU itu disebut karantina kewilayahan atau lockdown adalah kira-kira membatasi perpindahan orang, membatasi kerumunan orang, membatasi gerakan orang demi keselamatan bersama (sumber: https://m.detik.com/news/berita/d-4956587/memahami-lagi-arti-lockdown-covid-19-dan-pandemi).

Kendati begitu, lockdown harus didasarkan pada penyeimbangan tujuan perlindungan pelayanan kesehatan dan stabilitas ekonomi, sosial dan politik. Dalam proses pengambilan keputusan harus didasarkan pada data-data real, dan perhitungan yang terukur, sehingga dapat lebih meningkatkan transparansi kebijakan. Dari data dan perhitungan terukur itu, proses pengambilan kebijakan menjadi lebih transparan.

            Di sisi pihak, pemerintah sangat lamban dalam menangani wabah tersebut dengan kegagapan dalam melakukan berbagai upaya dari penyebaran wabah tersebut. Pada tanggal 23 Maret 2020 pemerintah telah menyiapkan 105 ribu APD yang dibelikan langsung dari Tiongkok dan akan siap didistribusikan ke beberapa daerah yang terdampak parah. Pemerintah juga terlihat begitu panik dalam menghadapi wabah tersebut sehingga masih memikirkan untuk memilih Lockdown sebagai opsi terakhir. Pemerintah takut akan masalah collapse terutama bidang ekonomi jika diberlakukannya sistem Lockdown.

KESIMPULAN

Pada dasarnya pemerintah Indonesia masih belum siap dalam menerapi sistem Lockdown dengan motif ekonomi akan tetapi disisi lain dalam sejarah penyebaran wabah penyakit . Banyak rumah sakit dan tenaga sangat mengeluhkan mulai dari kekurangan APD (Alat Pelindung Diri) hingga mendapatkan tindakan persekusi yang dilakukan oleh masyarkat terkait penyebaran virus. Bahkan  puluhan dokter meninggal dunia dan 1 diantaranya adalah Pakar Kesehatan dari UGM.

Bangsa Indonesia pernah mengalami wabah terbesar yang mengakibatkan korban lebih dari 1/3 penduduk di Jawa Masa Hindia Belanda. Kita seharusnya belajar dari sejarah dalam menangani berbagai wabah yang pernah terjadi dan menimpa Bangsa Indonesia. Terakhir, alam seakan memberitahukan kepada kita agar untuk rehat sebentar dan menyembuhkan luka-luka yang diderita oleh alam akibat ulah perilaku manusia yang serakah terkait dengan masalah kerusakan alam.

Oleh : Irvan Hidayat, Samudra Eka Cipta

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *