Forum Diskusi Mahasiswa Sejarah: “Melihat September Hitam Melalui Perspektif Sejarah”

Pada Selasa, 21 September 2021, Himpunan Mahasiswa Sejarah kembali mengelar Forum Diskusi Mahasiswa (Fordim) yang bertemakan mengenai “September Hitam.” Pada bulan September terjadi banyak sekali tragedi pelanggaran HAM di Indonesia seperti Pembunuhan Munir, Peristiwa Tanjung Priok, Pembunuhan Pendeta Yeremia, Tragedi Semanggi I, Tragedi reformasi dikorupsi, Pembunuhan Salim Kancil, Penembakan dua mahasiswa Universitas Haluleo Randi dan Yusuf, serta peristiwa G30S.

Dalam jalannya diskusi ini, turut serta diundang dua pembicara yaitu Ibu Sumarsih sebagai Ibunda Wawan yang merupakan korban dari tragedi Semanggi I dan juga aktivis HAM serta Bapak Andi Achdian yang merupakan seorang sejarawan. Diskusi ini dibagi menjadi dua sesi yang dibuka oleh Ibu Sumarsih dengan pembahasan mengenai pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.

Ibu Sumarsih adalah ibunda dari Wawan yang merupakan korban dari tragedi Semanggi I. Wawan meninggal pada 13 November 1998 karena tembakan peluru tajam standar ABRI yang menembus jantung dan paru-parunya saat menolong korban yang tertembak saat aksi semanggi I. Dalam sesi ini Ibu Sumarsih menceritakan kembali pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia serta perjuangan Ibu Sumarsih bersama rekan-rekan keluarga korban dalam memperjuangkan HAM di Indonesia. Dalam upayanya menegakkan HAM di Indonesia, Ibu Sumarsih dengan rekan-rekan keluarga korban Semanggi I membentuk peguyuban keluarga korban Semanggi I, mengadakan seminar dan diskusi tentang HAM, serta membentuk JSKK (Jaringan Solidaritas Keadilan Untuk Korban) yang salah satu aksinya adalah aksi kamisan berdiam di depan istana kepresidenan sejak 18 Januari 2007 dengan pakaian dan payung hitam. JSKK bekerjasama dengan Guru Sejarah Indonesia membuat  buku “Panduan Bahan Ajar Sejarah Perlindungan Hak Asasi Manusia” dengan harapan ada kesadaran bahwa kasus pelanggaran HAM harus menjadi tanggung jawab sebuah negara sebagaimana tercantum pada Undang-Undang Pasal 28 i ayat 4 dan 5.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Bapak Andi Achdian dengan judul pembahasan “September Hitam : Kisah Kekerasan Dalam Sejarah Indonesia”. Bapak Andi Achian dalam kalimat pembukanya berkata bahwa “Kita berdiri di atas kerangka para korban”. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa di balik kehidupan nyaman yang sedang kita jalani ini ada sesuatu yang berusaha dihapus dari kita. Sebuah kekerasan tidak akan pernah selesai dan sudah menjadi budaya di Indonesia. Setiap kekerasan memiliki dalang dibaliknya yaitu  negara dan organisasi masyarakat sipil. Sedangkan korban-korban mereka adalah kelas buruh, petani, kelompok marjinal, kelompok minoritas, perempuan, anak-anak, dan aktivis politik. Kelompok yang tertindas adalah kelompok yang lemah. Hal ini akan terus terjadi karena terjadi sebuah permasalahan yang terus terjadi akibat salah satu bug yang terus ada walaupun sudah diperbaiki atau dianalogikan sebagai “a bug in the system”. Bapak Andi pun juga menjelaskan berbagai faktor yang membuat tindak kekerasan terus terjadi secara terus menerus.

Sesi kedua berakhir dengan sebuah sesi tanya jawab mengenai kedua pembahasan tadi. Di sesi tanya jawab ini terjadi diskusi yang menarik antarara mahasiswa dengan narasumber mengenai penegakan HAM di Indonesia. Ketika semua pertanyaan sudah dijawab, dilakukan pembacaan dua buah puisi tentang Alm. Wawan dan Alm. Munir. Kemudian, forum resmi ditutup oleh pembawa acara.

Reporter          : Egi Salma Sugiharto

Penulis            : Hawari Jaelani Fadilah

© Divisi Penerbitan HM Sejarah UNDIP 2021

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *