Forum Diskusi Mahasiswa Sejarah: “Barkeley” Bukan Sembarang Mafia

Seperti biasa ajang ini dimanfaatkan untuk memantik terkhusus mahasiswa sejarah UNDIP untuk selalu bersikap kritis dan peka terhadap apapun yang sedang terjadi lingkungan kita, entah berkaitan dengan peristiwa masa lalu ataupun yang sedang terjadi di depan mata. Tidak hanya piawai dalam mengkritisi diambang pikiran idealisme mahasiswa, tetapi juga harus realistis dalam kenyataan, tentu harus bisa memberikan solusi yang nyata. Forum Diskusi Mahasiswa (FORDIM) kali ini cukup menarik (18/10/21) yang dimana bagian dari projek Divisi Kastrat HM Sejarah UNDIP 2021 dengan menghadirkan pembicara yang berkompeten dan ada relevansinya dengan tema FORDIM ini. FORDIM ini mengusung tema yaitu “Barkeley” Bukan Sembarang Mafia, yang dimulai pukul 19.00 WIB, Senin Malam melalui platform Zoom Meeting. Pembicaranya adalah seorang Konsultan Kebijakan Ekonomi atau kerap biasa disapa dengan Arkan Diptyo. Dalam pemaparannya Arkan Diptyo menjelaskan mengenai pasang surut kebijakan ekonomi pada masa Pemerintahan Presiden RI ke-2 yakni Soeharto. Dalam diskusi ini menggunakan istilah Mafia Berkeley yang merupakan sebuah julukan pada sekelompok menteri bidang ekonomi dan keuangan sekitar pada tahun 1973. Mafia Berkeley pertama kali dicetuskan dalam artikel yang ditulis oleh David Ransom dengan judul “The Berkeley Mafia and the Indonesian Massarce”. Salah satu inovasi yang diciptakan adalah adanya sistem ekonomi Pancasila yang menjanjikan stabilitas, modernitas, dan pertumbuhan kemakmuran yang setara. Tujuan lain tidak hanya untuk menyelamatkan negara dari isu finansial namun juga membuka peluang pertumbuhan manufaktur dan agrikultur untuk menghapus jutaan angka kemiskinan. Kemudian juga menyinggung mengenai Time Travel sebelum Pak Soeharto naik tahta menjadi Presiden RI pada tahun 1950-an. Adanya campur tangan dari Prof Mitro (Soemitro Djojohadikusumo) yang dimana memiliki track record yang cukup banyak (Menteri Perdagangan 1950-1951, Menkeu 1952-53, 1955-56, Kader PSI, Dekan FE UI I, dan satu-satunya dosen kala itu yang bergelar Doktor /S3).

Selain itu dikarenakan problem pada masa itu adalah jumlah tenaga pengajar ekonomi sangat sedikit. Dengan begitu adanya upaya untuk “penyelamatan ekonomi” era awal Orde Baru diantaranya penyelamatan (Juli-Des 1966), rehabilitasi / pemulihan (Jan-Juli 1967), konsolidasi / memperkuat (Jul-Des 1967) dan stabilisasi / keseimbangan (1968). Tak hanya itu saja, mengenai stabilisasi ternyata terdapat tiga pilar utama stabilisasi ala Mafia Berkeley yaitu ilusi anggaran, stabilisasi pangan dan bahan bakar serta liberalisasi ekonomi. Selanjutnya, dalam hal pengamanan bahan makanan (beras) dan bahan bakar terdapat dua aspek yang mempengaruhi diantaranya 1) Terdapat sebuah kebijakan penyeragaman makanan pokok (beras). Usaha untuk menangani krisis pangan di Jawa membuat singkong dan jagung menjadi pengganti beras tetapi tidak pernah bisa menggantikan posisi beras sebagai bahan pokok makanan di Indonesia; 2) Transmigrasi digalakkan oleh Soeharto untuk mengurangi kepadatan penduduk di Jawa. Diberi subsidi untuk membuka lahan di Sumatera, Kalimantan, Papua sehingga menimbulkan beberapa konflik antar masyarakat. Menariknya justru transmigrasi sendiri berfungsi sebagai mesin utama penyeragaman. Ini adalah ide lama karena telah ada sejak Belanda. Adanya subsidi dan kemudahan bagi Transmigran menjadikan sering terjadi konflik sosial seperti yang terjadi di Sampit, Kalimantan, Lampung, dan Aceh. Adapula terdapat hegemoni budaya dan bahan pangan Jawa. Bahan pangan lokal yaitu sagu dan shogum terpinggirkan. Selain itu adanya liberalisasi ekonomi: investasi asingyang dimanaUU Penanaman Modal Asing (UU pertama setelah Surpersemar untuk menyelamatkan Bulog). Berlanjut mengenai penerimaan minyak dan gas tahun 1970 melonjak tinggi setelah adanya UU PMA. Paradigma Indonesia negara minyak membuat Indonesia tidak menarik pajak kepada perusahaan asing migas. Lalu, terdapat konglomerasi lokal: perusahaan asing berkerjasama dengan perusahaan lokal, misalnyaToyota+Grup Astra: dan KijangIndofood+Sankyo: Indomie. Dengan demikian menimbulkan konsekuensi dari liberalisasi ekonomi yaitu 1) Paper Tiger,ekonomi Indonesia terlihat menjanjikan tetapi tidak resilient (mudah jatuh) sampai akhirnya memunculkan kritis ekonomi terburuk se-Asia tahun 1997-1998; 2) Bertahannya Konglomerat era Orba,industri-industri besar masih terikat pada komoditas, sektor keuangan, dan industri bahan konsumen (FMCG) dan 3) Tradisi Ekonom UC Barkeley/Bappenas berlanjut. Dengan pemaparan tersebut tentu memantik para peserta FORDIM untuk berdiskusi bersama.

Penulis            : Divisi Kastrat HM Sejarah UNDIP 2021

Editor              : Rika Vrindia Perdana

© Divisi Penerbitan HM Sejarah UNDIP 2021

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *