Forum Diskusi Mahasiswa Sejarah: Ngobrolin Lingkungan “Sudah Rusak, Terus Rusak, Makin Rusak Lantas Mau Tinggal di Mana?”

Pada hari Rabu (19/05/21) Divisi Kastrat HM Sejarah Universitas Diponegoro kembali menggelar Fordim atau Forum Diskusi Mahasiswa. Dipandu oleh Raihan Immadudin sebagai moderator, fordim dimulai pada pukul 19:14 WIB dengan mengangkat judul “Ngobrolin Lingkungan: Sudah Rusak, Terus Rusak, Makin Rusak Lantas Mau Tinggal di Mana?” dan pemaparan materi oleh Dhea Paradita dari komunitas Earth Hour kota Semarang. Dalam sesi awal diskusi tersebut, Dhea Paradita dan Raihan sama-sama menyinggung mengenai kurangnya kepedulian akan permasalahan lingkungan. Diskusi-diskusi yang telah berjalan lebih banyak menyinggung isu-isu sosial maupun politik padahal bumi yang menjadi tempat manusia hidup bermasyarakat sedang berhadapan dengan berbagai kerusakan yang mengancam. Sebagai makhluk dianugerahi akal, logika, serta perasaan tentu keselamatan dan kelestarian bumi menjadi tanggung jawab bersama umat manusia.

Perubahan iklim atau krisis iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global menjadi isu lingkungan yang dibahas dalam diskusi malam ini. Revolusi industri yang selama ini diagung-agungkan karena membawa perkembangan teknologi dan modernisasi rupanya membawa dampak yang cukup parah bagi bumi, contoh dari dampak tersebut adalah terjadinya bencana kekeringan dan kebakaran hutan.

Permasalahan iklim, pemanasan global, dan bencana-bencana alam yang disebutkan di atas tidak pernah terlepas dari efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah proses yang terjadi saat atmosfer menyerap gelombang panas sinar matahari bumi, efek rumah kaca bisa terjadi karena adanya gas-gas di dalam atmosfer terutama karbon dioksida yang menyerap panas. Sebenarnya efek rumah kaca dapat bermanfaat untuk menjaga suhu bumi. Sayangnya perkembangan teknologi membuat lonjakan karbon dioksda terjadi di atmosfer, hal ini disebut dengan pemanasan global dan secara berantai efek rumah kaca itu berubah menjadi ancaman bencana bagi manusia. 90% penyebab adanya peristiwa lonjakan karbon dioksida ini adalah kegiatan manusia. Efek rumah kaca serta akibat besar pada lingkungan yang mengekori ini sebenarnya berangkat dari aktivitas harian yang dilakukan oleh banyak orang seperti penggunaan listrik yang dihasilkan dari pembakaran batu bara, pertanian dan lahan yang melibatkan pembakaran lahan, kegiatan industri, CFC, emisi gas yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor, food waste, serta bangunan. Kegiatan-kegiatan tadi akan menghasilkan gas emisi berupa karbon dioksida yang dapat menebal di atmosfer lalu mengganggu proses penyerapan panas. Proses penyerapan panas yang terganggu ini lah yang mengakibatkan perubahan iklim ekstrem dan memunculkan bencana-bencana lingkungan.

Dalam rangka berjuang demi eksistensi kaum di muka bumi maka manusia akan berusaha memecahkan permasalahan dengan mencari solusi atas apa yang sedang dihadapi. Menghadapi ancaman kerusakan lingkungan, manusia perlu untuk aware akan segala hal yang sekiranya bisa memperlambat atau mengurangi kerusakan lingkungan, disebut perlu karena manusia hidup bergantung pada kearifan lingkungan dan lingkungan bergantung pada bagaimana manusia merawatnya. Dewasa ini sudah mulai muncul campaign merawat lingkungan, seperti contohnya gaya hidup 3 R, menjadi vegetarian, dan penerapan konsep berbelanja beliyangbaik. Gaya hidup 3R yaitu reuse, reduce, dan recycle mengedepankan konsep memanfaatkan barang lama selagi masih layak dalam reuse dan recycle serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dalam reduce. Selain gaya hidup 3R, gaya hidup vegetarian atau menghindari memakan makanan hewani juga menjadi pilihan kedua untuk menyelamatkan lingkungan. Gaya hidup ramah lingkungan yang ketiga adalah konsep belanja beliyangbaik, gaya hidup ini memperkenalkan konsep : Beli yang perlu, beli yang lokal, beli yang alami, beli yang awet, dan beli yang eco label.

Ruang diskusi yang disediakan oleh Kastrat tampak dimanfaatkan dengan maksimal baik oleh pemateri maupun peserta diskusi. Hal yang cukup menjadi sorotan sepanjang jalannya diskusi adalah campaign gaya hidup yang dianggap kurang dapat membidik masyarakat secara menyeluruh. Pendekatan campaign gaya hidup ramah lingkungan dirasa hanya merangkul masyarakat millenial dan para pelajar, tidak merasuk ke dalam sendi-sendi kelompok masyarakat khususnya masyarakat marjinal. Campaign yang dilakukan dirasa tidak sesuai dan kurang ramah dengan kehidupan masyarakat marjinal. Hal tersebut mungkin diakibatkan oleh kurangnya konsistensi pengajaran lingkungan kepada kaum marjinal. Kegiatan gaya hidup ramah lingkungan yang juga ramah dengan masyarakat marjinal sejauh ini hanyalah bank sampah, selebihnya merupakan PR bersama untuk mewujudkan masyarakat marjinal yang sadar akan lingkungan.

Bumi tidak perlu manusia untuk tetap hidup, tetapi sebaliknya manusia membutuhkan bumi agar tidak mati. Berbagai usaha menjaga bumi dari kerusakan telah digaungkan oleh banyak pihak termasuk perusahaan-perusahaan besar yang mulai memberi label eco friendly dalam setiap produknya, tren zero waste untuk mengurangi emisi gas yang sudah mulai dikenal oleh masyarakat lokal, serta gerakan mematikan listrik yang terus dipromosikan demi memerangi pemanasan global. Tugas kita sebagai penghuni bumi adalah menerapkan, menyebarkan, dan mengajarkan perawatan lingkungan tersebut kepada banyak orang secara berkelanjutan agar semua lapisan masyarakat mampu mampu mengambil bagian dalam menjaga bumi.

Ilustrator: Divisi Kantor Media dan Informasi (KMI)

Reporter : Nisrina Fatin Nabila

Penulis : Hawari Jaelani Fadilah

© Divisi Penerbitan HM Sejarah Undip 2021

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *