HARAPAN PERSATUAN DI PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL

20 Mei 1908 ditandai sebagai hari kebangkitan nasional dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo yang diprakarsai oleh sejumlah mahasiswa STOVIA. Hari kebangkitan nasional begitu penting bagi republik ini karena menandai rasa kesadaran diri sebagai suatu bangsa yang bersatu. Meskipun begitu, Hari kebangkitan nasional baru mulai diperingati pada 20 Mei 1948 atau 40 tahun setelah berdirinya Boedi Oetomo.

Saat itu Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya mendapat berbagai tantangan dari dalam maupun luar. Krisis politik internal dan agresi militer Belanda mengancam eksistensi bangsa yang baru merdeka ini. Belanda melakukan berbagai upaya untuk merebut kembali Indonesia dengan melakukan agresi militer pertama. Beberapa wilayah di Indonesia berhasil diduduki sehingga terpaksa memindahkan pemerintahan ke Yogyakarta. Situasi itu diperparah dengan konflik antar partai yang ingin jalan sendiri-sendiri. Maka dari itu sejarawan Hilmar Farid mengatakan bahwa pemerintah memerlukan sebuah organisasi yang mewakili kepentingan nasional. Selain itu, ada kebutuhan untuk memberi legitimasi historis pada perjuangan melawan kolonialisme dengan menelusuri asal-usul atau akar perjuangan tersebut. Maka dipilihlah Boedi Oetomo untuk mempersatukan bangsa.

Beberapa tahun belakangan ini Indonesia sedang dihadapi dengan situasi perpecahan yang menghawatirkan. Lembaga riset Polmark Indonesia menyebut nyatanya keretakan kerukunan sosial akibat Pemilu. Berdasarkan survey Pilpres 2014 terdapat 95,2 persen pemilih yang mengaku tidak rusak hubungan pertemanannya pasca pemilihan itu, sementara di survey Pilkada DKI 2017 ada 93,8 persen responden menyebut hal sama. Angka tersebut cukup tinggi bila diproyeksi ke jumlah pemilih. Tidak berhenti sampai di situ, masih ada agenda Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 yang menambah daftar tahun politik yang melelahkan dan memecahkan. Situasi ini diperparah dengan penggunaan media sosial yang merusak kondisi persatuan dan kesatuan dengan hoaks-hoaksnya yang tumbuh subur. Bahkan polarisasi politik pasca Pilpres 2019 masih terjadi bahkan jauh setelah Pilpres selesai.

Jika kita berkaca pada sejarah, maka situasi seperti ini pernah dialami bangsa ini pada masa awal kemerdekaan. Ancaman internal saat itu adalah krisis politik yang membuat masing-masing partai untuk jalan sendiri-sendiri. Begitu juga dengan kondisi saat ini yang cukup serupa di mana terjadi polarisasi politik pasca tahun politik yang melelahkan. Dari sisi eksternal ada ancaman Belanda yang masih belum puas menggeruk kekayaan Indonesia dengan melancarkan agresi militer pasca proklamasi. Sedangkan ancaman eksternal yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah wabah Covid-19 yang telah menjangkiti lebih dari 15.000 orang.

Situasi sulit yang dihadapi saat ini dan hari kebangkitan nasional hendaknya menjadi momentum bagi bangsa ini untuk kembali bersatu dan melupakan perbedaan-perbedaan. Latar belakang dan peringatan hari kebangkitan nasional menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia dapat kembali bersatu dan akan terus bersatu.

Oleh : Divisi Kastrat dan Penerbitan HM Sejarah Undip 2020

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *