Hari Peringatan Reformasi

Tanggal 21 Mei diperingati sebagai hari Reformasi, di mana pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto berhenti dari jabatan sebagai Presiden. Berhentinya Presiden Soeharto merupakan hasil perjuangan para Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi, aktivis dan didukung oleh berbagai elemen masyarakat dari berbagai daerah. Bukan tanpa alasan masyarakat menuntut Presiden Soeharto terutama para mahasiswa yang paling gencar melakukan protes dan aksi-aksi unjuk rasa terhadap pemerintah saat itu. Tanggal 21 Mei menjadi titik perubahan menuju babak baru yaitu Reformasi.

Mendengar kata Orde Baru langsung terbesit Soeharto sebagai bapak pembangunan dan keberhasilannya pada swasembada pangan, itu merupakan sisi yang pro dengan Presiden Soeharto, namun disisi lain terbesit banyak peristiwa kelam yang terjadi di Indonesia pada masa Orde baru. Masa atau peristiwa kelam itu menjadi latar belakang menuju babak baru.

Pada masa Orde baru demokrasi mengalami suatu kejanggalan. Kebebasan pers dibungkam dan dibredel demi menjaga citra pemerintahan Presiden Soeharto. Para aktivis yang mengkritik dan melakukan protes dianggap melawan pemerintah sehingga dijatuhi hukuman bahkan ada aktivis yang diculik dan tidak kembali hingga saat ini. Kasus tersebut termasuk dalam kejahatan HAM yang dilakukan oleh aparat negara pada masa Orde baru.

Maraknya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang dilakukan oleh lingkaran keluarga Soeharto dan para kroni-kroni Soeharto. Banyak aset negara yang dikelola oleh anggota keluarga Soeharto dan para kroninya sehingga kekayaan selalu mengalir ke dalam keluarga Soeharto dan para kroninya tanpa mementingkan nasib rakyat. Pemerintahan yang sentralis kekayaan daerah mengalir ke pusat dan berpengaruh pada pembangunan. Pembangunan terlalu difokuskan di Jawa sehingga daerah lain tidak dapat menikmati pembangunan.

Maraknya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme mengakibatkan keuangan negara tidak stabil sehingga pemerintah pada waktu itu “mendapat bantuan pinjaman” dari Bank Dunia. Bantuan pinjaman dari Bank Dunia sebenarnya merupakan utang. Utang yang semakin menumpuk dan situasi diperparah dengan krisis moneter maka mengakibatkan rakyat semakin tercekik karena sulit mendapatkan bahan pokok dengan harga normal dan harga bahan pokok menjadi naik salian itu terjadi PHK secara masal menjadi menambah derita rakyat.

Dari permasalahan tersebut menimbulkan permasalahan baru yaitu terjadi kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran di kota-kota. Yang menjadi sasaran amukan orang-orang etnis Tionghoa, karena dianggap sebagai pengganggu perekonomian rakyat.

Mahasiswa, aktivis, dan para cendikiawan tidak bisa tinggal diam melihat rakyat yang semakin sengsara dan situasi negara yang tidak stabil. Mereka menuntut adanya perubahan seperti keterbukaan informasi, kejujuran dalam pemilu, dan kebebasan berpendapat. Selain itu mereka melakukan aksi menuntut keadilan dan penegakan hukum yaitu mengenai permasalahan korupsi, karena korupsi merupakan musuh bersama, para aktivis menuntut adanya perubahan. Masyarakat juga menilai bahwa Soeharto telah gagal dalam menangani terjadinya krisis moneter yang melanda pada waktu itu. korupsi yang marak terjadi menjadi salah satu penyebab merosotnya kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.

Gerakan para mahasiswa dan aktivis mendapat perlawanan dari aparat negara. mereka ditangkap dan dibui, mereka dianggap telah melawan pemerintah. Adanya desakan agar keadilan ditegakkan dan perlawanan terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dianggap sebagai sumber permasalahan. Gerakan-gerakan perlawanan dari mahasiswa dan aktivis semakin kuat untuk menurunkan Soeharto dan menjalankan agenda reformasi.

Para mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi protes dan menuntut adanya perubahan dengan menggulirkan agenda reformasi yang berisikan enam tuntutan yaitu pergantian presiden atau turunkan Soeharto, mengamandemen UUD 1945, Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, penghapusan Dwifungsi ABRI, penegakkan Supremasi Hukum, dan Otonomi Daerah. Para aktivis dan mahasiswa mendapat serangan dari aparat negara untuk membubarkan aksi mereka. Banyak tragedi yang menjadi cacatan hitam bagi aparat negara seperti tragedi kasus Trisakti yang terjadi pada 12 Mei 1998. Rasa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Soehato menurun secara drastis. Bahkan masyarakat dari berbagai elemen mendukung aksi para mahasiswa tersebut.

Walaupun berkali-kali mendapat tindakan kekerasan dari aparat negara, para mahasiswa tidak gentar untuk mundur walau nyawa taruhannya dan gerakan meraka tak akan surut. Gerakan aksi mahasiswa tersebut mendapat dukungan dari tokoh nasional, mendesak agar Soeharto mundur dari jabatan.

Aksi-aksi dari para mahasiswa dan aktivis yang tidak dapat terbendung dan berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Desakan terhadap Soeharto untuk mundur dari jabatan semakin mencuat. Unjuk rasa para mahasiswa semakin deras. Bentrokan sering terjadi dan memakan korban. Situasi semakin memanas pada pertengahan Mei 1998. Di Istana Merdeka Jakarta, 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyampaikan pidato pengunduran diri dari jabatan Presiden. Pidato pengunduran diri Soeharto disambut dengan tangis kegembiraan karena tuntutan dan perjuangan para mahasiswa membuahkan hasil dan agenda reformasi dijalankan sebagai masa yang baru.

Sudah 22 tahun agenda reformasi dijalankan, namun masih ada agenda yang belum selesai. Agenda reformasi yang belum selesai samapi saat ini adalah pemberantasan korupsi. Korupsi semakin marak terjadi walaupun sekarang ini sudah ada Lembaga untuk memberantas korupsi yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Banyak tokoh negara sampai pejabat daerah yang terkena kasus korupsi, hal tersebut seakan-akan korupsi seperti budaya kita. Sudah berganti Presiden namun tetap saja salah satu masalah terbesar negara ini adalah korupsi.

Belum lama ini lebih tepatnya tahun 2019 terdapat keputusan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi dilemahkan melalu Undang–undang yang dibentuk oleh DPR dan disetujui oleh Presiden Joko Widodo. DPR juga membuat beberapa Undang-undang yang dianggap kontroversi. Dilemahkannya KPK membuat para koruptor semakin bahagia. Hal tersebut sudah merusak agenda reformasi yaitu pemberantasan korupsi, bukannya diperkuat dan digencarkan pemberantasan korupsi malah dilemahkan. Alasan KPK di lemahkan karena para pejabat takut terhadap KPK yang berhasil mengungkap kasus korupsi. Sebelum disahkannya Undang-undang tersebut terjadi tekanan terhadap Presiden salah satunya tekanan dari mahasiswa yang menuntut dibatalkannya pengesahan Undang-undang tersebut. Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi dan dari berbagai daerah melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD diberbagai daerah dan unjuk rasa di depan gedung DPR/MPR. Disahkannya Undang-undang yang melemahkan KPK tersebut sudah melukai hati para mahasiswa yang sudah berjuang. Cita-cita dari agenda reformasi yaitu pemberantasan korupsi saat ini harus terhalangi.

Oleh : Divisi Kastrat dan Penerbitan HM Sejarah Undip 2020

Referensi:

“Anak Milenial, Jangan Lupakan Sejarah Orde Baru dan Reformasi. https://www.quipper.com/id/blog/mapel/sejarah/sejarah-orde-baru-dan-reformasi/. Diakses pada 12 Mei 2020 pukul 08.17 dan 13 Mei 2020 pukul 12.07

“Reformasi sampai di sini: Jokowi Robohkan Warisan Demokrasi Indonesia”. https://theconversation.com/reformasi-sampai-di-sini-jokowi-robohkan-warisan-demokrasi-indonesia-125434. Diakses pada 13 Mei 2020 pukul 13.34

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *