KONFERENSI ASIA-AFRIKA 1955, BAGAIMANA REALISASINYA?

65 Tahun Konferensi Asia Afrika

65 tahun sudah, tepatnya tanggal 18 April 1955, Konferensi Asia-Afrika dibuka oleh Presiden pertama kita Ir. Soekarno. Kala itu, sebanyak 29 negara Asia, Afrika, dan Timur Tengah berkumpul. Jumlah peserta yang hadir dalam konferensi diperkirakan 1.500 orang. Pada saat pembukaan, Presiden Soekarno membacakan sebuah pidato yang berjudul “Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru”. Inti dari pidato ini adalah mengecam kolonialisme dan rasialisme. Wajar, karena pada saat itu Negara-negara di Asia-Afrika kebanyakan baru merdeka dan masih ada juga yang masih dijajah.

Semangat KAA merupakan semangat yang cukup tegas untuk menyatakan sikap menolak segala bentuk penjajahan di seluruh dunia khususnya Asia Afrika. Hal ini tertuang jelas saat pengesahan “Dasasila Bandung” yang merupakan hasil dari Konferensi Asia Afrika 1955 tanggal 24 April. Dalam “Dasasila Bandung” disepakati negara-negara di Asia dan Afrika bahu membahu untuk menghilangkan kolonialisme di negaranya dan menghalau segala jenis neo-kolonialisme baik oleh blok barat maupun blok timur. Selain itu konferensi ini juga bertujuan untuk bekerja sama dalam bidang, ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Dasasila Bandung yang disepakati pada Konferensi Asia Afrika 1955 tersebut belum dapat terwujud sepenuhnya, bisa kita lihat dari masih banyak negara-negara di Asia Afrika yang sedang dalam keadaan yang tidak stabil sehingga menghambat kemajuan negaranya.

Semangat untuk memajukan negara negara di Asia Afrika sepertinya cenderung memudar. Seperti semangat untuk menyetarakan derajat negara-negara di Asia Afrika dengan negara negara lain cenderung tidak berjalan, karena sekarang masih dapat ditemui pengkotak-kotakan negara menjadi negara “Dunia Pertama, Kedua dan Ketiga”. Dalam bidang ekonomi juga masih banyak negara-negara di benua Asia dan Afrika yang masih tertinggal. Memang China sudah dapat tumbuh menjadi raksasa ekonomi dunia, tetapi masih ada saja negara-negara yang tertinggal dan memicu pengkotak-kotakan negara di dunia.

Melihat kenyataan pahit di lapangan bahwa cita-cita Konferensi Asia Afrika 1955 masih dapat dibilang jauh dari kenyataan, mengharuskan negara-negara di Asia Afrika untuk berubah. Kerjasama antar negara-negara Asia Afrika harus bisa lebih digiatkan lagi, agar cita-cita tersebut dapat terwujud, dan bukan hanya menjadi angan angan, he…he…. Selamat hari Peringatan Konferensi Asia Afrika ke 65.

Oleh : Kastrat dan Penerbitan HM Sejarah Undip 2020

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *