MALANG DALAM RUNDUNGAN MAUT HITAM

Awal 2020, menjadi satu momen yang akan terus dikenang oleh umat manusia di dunia ini tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Tidaklah heran apabila penulis mengatakan begitu, sebab di penghujung tahun 2019 menuju awal 2020 terhitung ada beberapa persoalan-persoalan yang menggegerkan masyarakat dunia seperti kebakaran hebat yang melanda berbagai hutan di dunia, kasus pembunuhan petinggi militer Iran yang digadang-gadang dapat berujung pada Perang Dunia ke-3, banjir di beberapa titik wilayah Indonesia sampai dengan penyakit baru yang disebut dengan COVID-19.

Bicara tentang COVID-19, penulis akan memaparkan sedikit tentang fakta dari penyakit ini. COVID-19 atau biasa dikenal dengan Coronavirus ini merupakan suatu virus yang menyerang sistem pernafasan, virus yang pertama kali dideteksi terjadi di Wuhan, China ini dapat menyebabkan gangguan pada pernafasan, pneumonia akut bahkan sampai kematian. Pergerakan yang cepat dari virus ini, tentunya mengakibatkan jumlah penderita positif Coronavirus di dunia terus meningkat tajam, termasuk didalamnya adalah Indonesia.

Namun perlu kalian ketahui bahwa sebelum kemunculan coronavirus yang menggemparkan dunia salah satunya di Indonesia, masyarakat Indonesia di awal abad ke-20 dapat dikatakan telah merasakan hal yang sama yaitu bergulat dengan teror penyakit berbahaya dan mematikan, namanya adalah pes atau sampar. Dewasa kini diketahui pes atau sampar merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri bernama Yersinia pestis. Penyakit tersebut terbagi menjadi beberapa jenis yaitu pes pada sistem limfatik (pes bubonik), pes pada aliran darah (pes septikemik) serta pes pada paru-paru (pes pneumonik). Setiap orang yang terserang pes pada umumnya akan menunjukkan gejala seperti demam, diare, nyeri otot namun disamping gejala umum itu terdapat juga gejala khusus berdasarkan apa jenis penyakit pes-nya, adapun beberapa bagian tubuh menghitam menunjukkan orang itu menderita pes septikemi; pembengkakan di sekitar kelenjar getah bening dialami oleh penderita pes bubonik; dan batuk dibarengi dengan sesak nafas merupakan gejala khusus bagi penderita pes pneumonik.

Dalam tulisan ini penulis akan mengulik secara singkat mengenai Pes yang menjangkiti wilayah Malang, yang menjadi awal dari teror epidemi pes di Hindia Belanda.

Sejarah wabah pes di dunia

Wabah pes termasuk ke dalam penyakit tertua dalam sejarah kehidupan manusia. Menurut Satria P. Andhika dalam tesisnya yang berjudul “Wabah Pes di Semarang tahun 1916-1918” menyebutkan bahwa wabah pes telah ada sejak 1480 tahun yang lalu tepatnya di Mesir dan Etiopia pada tahun 540 M, dan menyebar hingga ke kawasan Afrika utara lainnya bahkan Eropa melalui jalur sutera.

Wabah ini pertama kali menjadi suatu pandemi yang mematikan ketika terjadi di Konstantinopel, Byzantium pada masa Kaisar Justinian I di tahun 541-542. Laman History di dalam artikelnya yang berjudul 6 Devastating Plagues menyebutkan bahwa begitu ganasnya wabah ini sampai dapat menelan korban yaitu masyarakat Konstantinopel sebanyak 10.000 dalam satu hari, bahkan penulis dalam artikel tersebut meyakini korban dari pandemi pes di Konstantinopel pada akhirnya menginjak sedikitnya sampai 25 juta orang.

Teror masih terus berlanjut, setelah menewaskan banyak korban di Konstantinopel kini eropa menjadi mangsa empuk bagi wabah ini. Pandemi kedua diketahui terjadi di Eropa pada tahun 1346 yang bermula di Genoa, Italia kemudian merembet hingga Russia dan Skandinavia, istilah Black Death atau Maut Hitam muncul di masa itu. Pandemi kedua yang terjadi di Eropa ini diketahui menjadi pandemi pes yang paling mengerikan sampai saat ini karena diperkirakan telah menelan 50 juta orang Eropa yang pada saat itu setara dengan setengah populasi di benua Eropa, bahkan Satria P. Andhika memberikan beberapa fakta menarik bahwa ditahun 1386 tepatnya di kota Smolensk, Rusia hanya lima orang yang tidak terserang wabah itu dan di London, sangat sedikit peluang untuk bertahan hidup. Di Pandemi kedua ini, sebenarnya tidak hanya Eropa saja yang menderita, tetapi terdapat beberapa kasus lain seperti yang terjadi di Asia, India, Timur Tengah dan Cina.

Setelah terjadinya pandemi kedua di Eropa, pada abad ke 17-18 muncul kembali beberapa kasus yang disebabkan oleh wabah pes ini seperti yang terjadi di Italia pada 1629-1631 (280.000 korban tewas), London pada 1665-1666 (sekitar 75.000 – 100.000 korban tewas) dan Marseille pada 1720 (100.000 korban tewas).

Pandemi pes ketiga diketahui terjadi di Provinsi Yunan, Cina pada tahun 1855. Kemunculan pes di Cina sebelumnya telah terjadi beberapa abad yang lalu namun di abad ke-19 ini wabah pes kembali muncul dibarengi dengan perkembangan industri di Cina, perkembangan industri yang terjadi di Cina itu diketahui menjadi penyebab utamanya. Tercatat pada awal abad ke-20, diketahui Cina dan India menjadi wilayah dengan jumlah kematian terbesar akibat pandemi pes ketiga ini.

Walaupun demikian, dibalik kengerian yang dihasilkan oleh penyakit ini, kemunculannya yang dibarengi dengan perkembangan dari sektor industri maupun pengetahuan termasuk dalam bidang medis mengakibatkan sebagian masyarakat disana (China dan India) mulai mengetahui dan paham darimana asal dan bagaimana penyakit pes itu dapat berkembang dengan begitu cepat. Kesimpulan bahwa pes disebabkan oleh bakteri bernama Yersinia pestis dan menyebar ke manusia melalui kutu-kutu tikus ini pertama kalinya muncul di masa pandemi pes ketiga oleh seorang dokter bernama Alexander Yersin yang pada saat itu tengah bekerja di Hong Kong tahun 1894.

Beras Impor Pembawa Petaka di Malang

Syefri Luwis dalam skripsi-nya yang berjudul Pemberantasan Penyakit Pes di Malang 1911-1916 menuliskan bahwa sampai awal abad ke dua puluh, penyakit pes tidak pernah ada di Jawa. Kasus pes yang pertama di ketahui di Indonesia terjadi di Pantai Timur Sumatra pada tahun 1905, namun kasus tersebut menghilang begitu saja tanpa memberikan tanda-tanda akan datang kembali atau tidak.

Pes diketahui mulai masuk ke Pulau Jawa pada bulan November 1910, ketika Pulau Jawa kala itu tengah dilanda bencana kelaparan dikarenakan semakin memburuknya kondisi pangan di beberapa daerah salah satu-nya di Jawa Timur. Memburuknya kondisi pangan itu didasari karena telah terjadinya kegagalan panen di Residensi Surabaya yang disebabkan oleh serangan hama mentek. Menghadapi kondisi ini, pemerintah Hindia Belanda langsung bergerak cepat untuk menemukan solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut, adapun solusi yang dipilih oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu adalah dengan melakukan kegiatan impor beras sebanyak-banyaknya dari negara-negara penghasil beras di Asia seperti Cina, Singapura, Bengal, Rangoon (Burma), Thailand, dan Saigon.

Pada kisaran tahun 1910-1911, beras Rangoon (Burma) menjadi beras impor yang paling dominan di Hindia Belanda dikarenakan harganya yang pada saat itu sangatlah murah apabila dibandingkan dengan beras impor dari negara lainnya. Dengan berlandaskan motif ekonomi itulah mulai banyak berdatangan karung-karung beras dari Burma yang kemudian memenuhi Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 3 November 1910, beras kemudian akan diangkut kembali melalui jalur kereta api yang bermula di Surabaya untuk disalurkan ke beberapa daerah yang mengalami krisis pangan pada 5 November 1910. Namun belum selesai proses penyaluran/pengiriman, di tanggal 10 November 1910 rupanya jalur transportasi kereta api antara Malang dan Wlingi terputus dikarenakan banjir baru saja terjadi. Kereta yang seharusnya pada saat itu bertolak menuju Wlingi terpaksa harus bertahan di Malang, dan persedian beras yang juga seharusnya dikirimkan menuju Wlingi kemudian disimpan di beberapa gudang penyimpanan yang lokasinya tidak jauh dari stasiun. Sebelumnya perlu kalian ketahui bahwa disaat itu Burma sedang menghadapi ganasnya penyakit pes namun akibat kurangnya pemberitaan ataupun kurangnya pengawasan dari pemerintah Hindia Belanda sehingga tidak ada kecurigaan apapun terhadap impor beras Rangoon tersebut, tetapi sudah dapat dipastikan bahwa beras-beras Rangoon itu telah disusupi oleh bakteri-bakteri yang menimbulkan penyakit pes dikarenakan sebelum beras-beras Rangoon ini bertolak menuju Surabaya, beras telah lebih dulu dimasuki oleh tikus-tikus yang telah terinfeksi bakteri pes.

Sehingga dengan begitu beras-beras Rangoon yang kini menginap di gudang-gudang penyimpanan di dekat stasiun Malang menjadi penyebab tersebarnya penyakit pes dengan Daerah Turen, tepatnya di Dampit menjadi daerah yang terindikasi pertama kali terkena wabah pes. Persebaran semakin meluas di setiap daerah-daerah di Malang terutama yang memiliki gudang-gudang beras, dimana-mana beras-beras Rangoon itu dititipkan seperti di Singosari, Blimbing, Malang, Batu, Kepanjen, Gondang Legi termasuk Dampit dan Turen. Namun, lagi-lagi pemerintah belum merasa curiga terhadap beras-beras Rangoon tersebut, karena mereka tidak dapat mendapati tikus-tikus yang mati dalam jumlah besar di gudang-gudang penyimpanan beras, padahal sebelumnya telah didapati kasus-kasus kematian di beberapa daerah yang menjadi sebaran wabah pes seperti di Turen yang harus kehilangan 17 orang warganya dikarenakan wabah ini.

Dilema Pemerintah Hindia Belanda

Pada Maret 1911, mulai bermunculan pemberitaan mengenai darurat wabah pes di luar Hindia Belanda. Mendengar hal tersebut pemerintah berusaha melakukan tindakan pencegahan untuk melindungi Hindia Belanda, salah satunya dengan mempertegas peraturan tentang pes (pestordonantie). Penegasan itu menyebutkan bahwa kapal-kapal yang didalamnya sebelum sampai di Hindia Belanda telah terjangkit penyakit pes, tidak diizinkan sama sekali untuk menyentuh daratan Hindia Belanda. Mereka juga diharuskan untuk terus berada di lautan selama 7 hingga 10 hari. Peraturan ini juga mewajibkan setiap awak kapal yang kapalnya ingin bersandar di salah satu pelabuhan di Hindia Belanda untuk terlebih dahulu memeriksakan dirinya ke dokter apabila dokter yang memeriksa memberikan izin dan memastikan pengidap pes telah sehat dan tidak ada tikus di kapal-kapal yang terinfeksi penyakit ini maka kapal diperbolehkan untuk berlabuh di Hindia Belanda. Walaupun peraturan mengenai pes ini telah direvisi sedemikian rupa namun apa yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dapat dikatakan terlambat dan tidak berjalan sesuai ekspektasi dikarenakan krisis pangan yang melanda Hindia Belanda yang apabila angkutan barang berupa bahan pangan harus ditahan selama 7 sampai 10 hari sehingga akan membawa Jawa kedalam kondisi yang semakin terpuruk.

Walaupun peraturan mengenai pes yang direvisi oleh pemerintah tidak berjalan dengan baik dan sikap sebagian besar pejabat pemerintahan yang belum serius dalam menanggapi masalah ini, usaha mengenai penelitian terhadap korban akan adanya kemungkinan mereka telah terjangkit penyakit pes telah lebih dulu dilakukan. Penelitian yang dilakukan pada 28 Februari 1911 di Laboratorium Medis Batavia ini menggunakan contoh serum dari seorang wanita yang diduga terjangkit pes, namun setelah diteliti hasilnya adalah negatif. Memasuki penelitian yang di adakan pada akhir Maret 1911, Laboratorium Medis Batavia kembali menerima sampel darah dari korban tewas yang diduga terjangkit pes dan rupanya hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa korban memang positif terjangkit pes. Penelitian itu kemudian membuka kesadaran terhadap pemerintah Hindia Belanda bahwa pes telah menjangkiti Hindia Belanda tepatnya di Malang.

Namun rupanya Malang menjadi pembuka dari sekian banyak tragedi berdarah yang disebabkan pes dalam sejarah medis di Hindia Belanda. Penyebaran pes semakin meluas bahkan setelah menggerogoti seisi Malang, wabah ini kemudian memporakporandakan masyarakat di daerah Jawa Timur bagian barat seperti Kediri, Blitar, Tulungagung, dan Madiun bahkan Surabaya yang menjadi tempat transit barang-barang ataupun tujuan pengiriman barang dari luar negeri tidak terlepas dari persebaran penyakit ini. Di April 1911, mengetahui semakin cepatnya pergerakan penyakit yang diikuti dengan banyaknya jumlah korban yang berjatuhan mengakibatkan pemerintah menetapkan penyakit ini sebagai suatu epidemi. Dan dalam meminimalisir korban yang berjatuhan, pemerintah Hindia Belanda juga kemudian dengan terpaksa memutus beberapa kegiatan impor termasuk pengiriman beras dari luar Hindia Belanda yang mengakibatkan terjadinya penurunan drastis. Disaat itu pemerintah beserta rakyatnya seakan-akan terlihat putus asa, bagaimana tidak? Di satu sisi mereka harus menghadapi ganasnya penyakit pes yang menyerang sebagian besar wilayah di Jawa Timur, di sisi lain rupa-rupanya krisis pangan belum sepenuhnya selesai.

BGD dalam Pemberantasan Pes di Malang

Mendapati informasi dari surat kabar mengenai jumlah korban yang meninggal akibat pes, Burgerlijken Geneeskundige Dienst (BGD) pun langsung bertindak dalam usaha mencari latar belakang bagaimana penyakit pes dapat mewabah di Malang. Dalam usaha pengumpulan bukti mengenai terjadinya penyakit ini dan bagaimana menanggulanginya, di awal April 1911, dr. de Vogel selaku Inspektur Kepala dari Burgerlijken Geneeskundige Dienst (BGD) bersama dengan dokter-dokter dari Belanda maupun pribumi diterjunkan langsung menuju Malang. Laporan yang dikeluarkan oleh Komisi Pemberantasan Pes India menjadi patokan dr. de Vogel dan tim-nya dalam melakukan pemberantasan pes di Malang, dengan berlandaskan pada laporan tersebut dr. de Vogel mengusulkan beberapa tindakan yang diperlukan dalam melawan dan memberantas pes, yaitu adanya sosialisasi terhadap masyarakat mengenai penyakit pes, pembasmian tikus, memisahkan pasien pes dengan lingkungan sekitar, membersihkan rumah-rumah yang ditinggalkan, memberikan sosialisasi mengenai penanganan dalam mencegah penyakit pes di sekolah-sekolah maupun di rumah-rumah gadai, dan memberikan vaksinasi.

Walaupun begitu, rupanya dalam praktiknya dr. de Vogel bersama dengan tim-nya menemui beberapa kendala seperti sosialisasi mengenai penyakit pes di kalangan masyarakat yang masih meremehkan penyakit pes dan dengan meminta obat ke controleur (petugas penyedia obat), maka masalah akan segera selesai. Usulan-usulan lainnya tidaklah begitu sulit sebagaimana usulan yang pertama, perburuan tikus dapat berjalan dengan cukup baik walaupun masyarakat harus dibujuk dahulu melalui iming-imingan duit, kemudian sterilisasi yang dilakukan oleh dr. de Vogel disini ialah dilakukannya kegiatan penyemprotan disinfektan dan pengasapan dengan belerang, walaupun begitu apabila kedua metode itu tidaklah cukup berhasil maka akan dilakukan usaha yang kedua yaitu dengan membakar rumah para penderita penyakit pes, dalam usulan ini air kapur juga sering digunakan untuk menyirami bagian-bagian dinding rumah. Langkah selanjutnya adalah akan dibangunnya perkampungan-perkampungan baru yang terdiri dari perkampungan para pengidap pes dan perkampungan masyarakat yang negatif penyakit pes, sehingga pada saat itu banyak rumah-rumah maupun barak-barak isolasi yang berdiri di Malang.

Sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan di sekolah-sekolah maupun di pegadaian-pegadaian juga dilakukan, dimana diperintahkan kepada para murid untuk mengganti baju yang mereka pakai dengan baju yang telah disediakan pemerintah di sekolah. Pakaian yang mereka pakai dari rumah kemudian dijemur dan setelah sekolah usai, mereka diperbolehkan lagi untuk mengenakan pakaian mereka kembali dan pakaian yang disediakan pemerintah diharuskan untuk ditinggalkan di sekolah. Lain halnya yang terjadi di pegadaian, terdapat beberapa peraturan yang harus diterapkan untuk barang-barang yang terdapat di pegadaian, peraturan tersebut ialah, barang-barang yang ada di pegadaian seharusnya di gantuung di dalam ruangan yang telah diberikan formalin. Barang-barang tersebut tidak segera dikeluarkan dari ruangan tersebut karena harus dipanaskan terlebih dahulu dengan cairan formalin, lalu disimpan untuk beberapa hari. Setelah didiamkan untuk beberapa hari dan diketahui barang tersebut tidak mengandung kutu-kutu pembawa pes maka barulah barang tersebut dapat dikeluarkan.

Di tanggal 28 April 1911, vaksin untuk penyakit pes telah dikirim dari Institut Pasteur dan akan segera diberikan kepada masyarakat. Setelah tujuh bulan, diketahui terdapat 65.720 orang telah disuntik; 54.017 menggunakan vaksin yang dibuat dengan metode Jerman, dan 11.703 orang dengan vaksin jenis Haffkine. Vaksin jenis Jerman dibuat di Batavia, tepatnya di Pasteur Institute, vaksin yang dibuat dengan metode Jerman ini diambil dari bangkai tikus atau mayat manusia, sedangkan vaksin jenis Haffkine dikirim langsung dari Bombay, India.

Sebagai penutup. Di sepanjang tahun 1911, telah dilaporkan adanya 2300 kasus dengan 2100 pasien yang meninggal dunia dimana Malang menjadi wilayah dengan korban meninggal terbesar saat itu. Kabar selanjutnya, penyakit pes kembali berulah di tahun 1912 dan merenggut sebanyak dua ribu korban jiwa. Bahkan di tahun 1915, penyakit pes telah menjangkiti Surakarta dan Madura.

Penyakit pes juga mewabah di Jawa Tengah pada tahun 1919 sampai 1928. Yang diawali di Pegunungan Ungaran, Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Merapi. Di Jawa Barat sendiri, penyakit ini mulai masuk pada tahun 1930-1934, sebagai wilayah yang pertama kali terpapar penyakit ini ialah Cirebon kemudian menjalar menuju Priangan dan berakhir dengan kematian dua ribu orang disana.

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *