Memilih Pemimpin untuk 2021: Dari Nihilnya Calon di Pemira hingga KMI Tetapkan Pimpinan HM Sejarah yang Baru

Sehubungan dengan nihilnya pasangan calon yang maju pada masa pendaftaran pemira sejarah, maka Kongres Mahasiswa Istimewa (KMI) diselenggarakan. Meski tak berturut-turut, KMI berlangsung selama 3 hari. KMI menetapkan ketua dan wakil ketua Himpunan Mahasiswa (HM) Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) baru, yaitu Debora Alfi Dwidi Teofani dan Munifatun Farda.

Yogi Aji Pangestu, Ketua Komite Pemilihan Raya (KPR) Sejarah, mengatakan, tidak ada yang mendaftarkan diri sebagai calon ketua dan calon wakil ketua HM Sejarah selama masa pendaftaran berlangsung.

Berdasarkan jadwalnya, masa pendaftaran yaitu pada 23 hingga 25 Desember 2020. Bahkan masa pendaftaran telah diperpanjang selama 48 jam. Namun tetap nihil calon juga.

“Apabila tidak terdapat calon ketua HM dan calon wakil ketua HM sejarah, maka akan dilaksanakan KMI guna memutuskan ketua dan wakil ketua HM sejarah 2021,” kata Yogi, Rabu (30/12/2020).

Agar KMI berjalan lancar, HM Sejarah selaku fasilitator KMI, mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Rabu, 30 Desember 2020. RDP ini membahas dan menetapkan beberapa ketentuan teknis soal mekanisme pemilihan ketua dan wakil ketua HM pada KMI.

Agenda KMI hari pertama, Senin, 4 Januari 2021, adalah pengajuan calon-calon ketua HM. Pada hari itu, menghasilkan 2 kandidat, yaitu Mochammad Ferdian Triyagie (mahasiswa Sejarah 2019) dan Debora Alfi Dwidi Teofani (mahasiswa Sejarah 2019). Kesepakatan forum memutuskan untuk menunda KMI selama 3 hari, agar para kandidat mempersiapkan Grand Design Organization (GDO).

Kemudian KMI dilanjutkan pada Kamis, 7 Januari 2021. Pada hari kedua, kedua kandidat menyampaikan GDO-nya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi, yang sebagian besar merupakan tanya jawab antara kandidat dengan peserta KMI.

KMI hari ketiga, Jumat, 8 Januari 2021, masih melanjutkan sesi diskusi. Namun sesi diskusi kali ini dibatasi. Semula hanya 3 termin, namun kemudian ditambah 1 termin. Termin tersebut dikhususkan untuk mahasiswa Sejarah angkatan 2020 berpendapat atau bertanya kepada kedua kandidat.

Setelah sesi diskusi dengan kedua kandidat selesai, forum berdiskusi menentukan siapa yang menjadi Ketua HM (Kahim) di antara kedua kandidat tersebut. Hasilnya, forum menyepakati bahwa Debora Alfi Dwidi Teofani sebagai Kahim Sejarah 2021.

Setelah Kahim ditetapkan, pembahasan forum beralih menentukan Wakil Ketua HM (Wakahim) Sejarah. Forum sepakat untuk memberikan kesempatan kepada Debora selaku Kahim yang baru untuk mengusulkan sosok yang layak menjadi wakilnya, kemudian akan ditanyakan kesediaannya dan dibahas pada forum.

Debora mengusulkan dua calon sebagai wakilnya, yakni Munifatun Farda (mahasiswa Sejarah 2019) dan Nur Ainayah Al-faatihah (mahasiswa Sejarah 2019). Namun hanya Farda yang bersedia, Ainayah tidak. Tak hanya kesediaan calon, forum juga menyepakati bahwa Farda sebagai Wakahim Sejarah 2021.

Selaku Kahim Sejarah yang baru, Debora menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa sejarah yang tergabung dalam forum KMI karena telah memercayainya untuk melanjutkan kepengurusan HM Sejarah. “Saya berharap teman-teman terus turut aktif dalam kegiatan HM ke depannya, sebagai bentuk dukungan bagi periode yang akan berjalan,” kata Debora, Sabtu (9/1/2021).

Debora berpendapat, HM Sejarah bukan sekadar organisasi mahasiswa di Departemen Sejarah, melainkan sebagai rumah. Karena, menurut Debora, HM Sejarah bisa menjadi wadah mahasiswa sejarah belajar mengenai organisasi di kampus sekaligus menjadi tempat awal mahasiswa sejarah dibentuk, berproses, dan belajar agar lebih baik dalam berorganisasi.

“Ketika kita sudah memiliki dasar yang baik dari “rumah” itu, maka ketika kita terjun keluar dari “rumah” setidaknya sudah terbentuk hal-hal baik dalam diri kita dan diluar berusaha mencoba belajar bagaimana memperbaiki apa yang harus diperbaiki di dalam “rumah” itu dan melengkapi hal-hal yang belum didapatkan di dalam “rumah”,” terang Debora.

Menurutnya, persoalan dari HM yang perlu dibenahi antara lain soal hubungan antar angkatan maupun internal HM dan program kerja di beberapa divisi yang dinilai kurang maksimal.

“Nantinya kita mencoba untuk kilas balik dahulu, hal-hal apa yang menghambat, (serta) evaluasi dari periode sebelumnya. Kemudian mencoba untuk membicarakan bersama-sama dengan pengurus HM agar solusinya itu benar-benar merupakan solusi yang dicari bersama-sama, tidak hanya dari beberapa pihak saja,” ungkap Debora.

Sementara, menurut Ayudya Ratih Dewi, Wakahim Sejarah 2020, kebutuhan kepengurusan HM Sejarah selanjutnya adalah komunikasi. Ia mengungkapkan, terutama di tengah pandemi seperti sekarang ini, yang mengharuskan segala kegiatan offline ditunda dan dialihkan menjadi online, komunikasi menjadi momok masalah. Berawal dari komunikasi itulah, kata Ayud, semua aspirasi dan kegiatan akan terselenggarakan dengan baik.

Ayud berpesan, kepengurusan selanjutnya agar lebih sering mendengarkan keresahan teman-teman.  “Jangan lupa sounding mengenai info apapun dari pihak akademik maupun birokrat, entah melalui media sosial maupun diskusi juga,” tutur Ayud, Sabtu (9/1/2021).

KMI juga memberikan mandat kepada Kahim dan Wakahim baru. Naufal Sa’ad, mahasiswa Sejarah 2017, menyampaikan dua poin mandat, yaitu kaderisasi dan divisi penerbitan. Kaderisasi, kata Naufal, adalah hal yang paling mendasar dalam organisasi.

“Sementara untuk penerbitan, merupakan napas dari HM Sejarah untuk menghimpun tulisan-tulisan dari mahasiswa Sejarah. Khusus penerbitan, saya berharap juga ada tulisan-tulisan jurnalistik dari program-program yang dijalankan HM secara umumnya,” kata Naufal, Sabtu (9/1/2021).

Adapun sejumlah mandat yang telah disampaikan dalam KMI, antara lain: Pembuatan buku kaderisasi HM Sejarah; soal Divisi Penerbitan; mewadahi dan memfasilitasi mahasiswa sejarah untuk urusan akademik dan non-akademik; meningkatkan kualitas Pekan Kesejarahan Undip (PKU) dan kerja Divisi Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma) serta Pengabdian Masyarakat (Dimas); Memperkuat internal HM.

Selain itu, Naufal juga berharap, kepengurusan HM yang baru dapat mempererat hubungan antar angkatan di prodi sejarah. Salah satu pengusul mandat lainnya, Gumelar Yugi Cahyadi, mahasiswa Sejarah 2017, berharap Kahim dan Wakahim yang baru dapat menjalankan mandat KMI.

Menanggapi soal mandat, Debora, sepakat bahwa beberapa mandat itu merupakan hal-hal yang perlu dibenahi. “Saya saat ini hanya meminta doa dan dukungan dari warga sejarah agar saya, wakil ketua himpunan, dan teman-teman pengurus lainnya agar kami bisa menjalankan mandat yang disampaikan kemarin dengan baik dan maksimal,” pungkasnya.

Penulis: Airell Luthfan Ababiel

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *