Pembebasan Irian Barat Dari Belenggu Penjajah, Bagaimana Keadaan Irian Barat (Papua) Sekarang?

Pembebasan Irian Barat Dari Belenggu Penjajahan dan Bagaimana Keadaan Irian Barat (Papua) Sekarang? Pada tanggal 1 Mei 1963 merupakan hari yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia. Selain sebagai hari Buruh Internasional, 1 Mei adalah hari dimana Irian Barat terbebas dari belenggu penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. Pembebasan Irian Barat merupakan salah satu masalah kedaulatan Indonesia pada masa awal kemerdekaan Indoneisa . Konflik pembebasan Irian Barat berawal dari sikap Belanda yang tidak segera menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Belanda menjadikan Irian Barat sebagai negara boneka untuk mengganggu kedaulatan Indonesia. Konflik ini cukup menguras tenaga karena pembebasan Irian Barat melalui berbagai jalur mulai dari diplomatik dan militer. Proses pembebasan Irian Barat membutuhkan tenaga yang cukup banyak dan waktu yang cukup panjang. Berbagai rintangan telah dilalui dan berbagai cara untuk membebaskan Irian Barat agar bisa bergabung dengan Republik Indonesia. Namun Belanda memang sulit untuk disingkirkan dari tanah air Indonesia. Bahkan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar dan dalam perjanjian itu seharusnya Irian Barat dibahas oleh Indonesia dan Belanda setahun berikutnya, namun Belanda tidak segera menyerahkan Irian Barat. Indonesia awalnya melakukan perundingan-perundingan dengan Belanda, namun dalam perundingan-perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan yang memuaskan. Indonesia akhirnya membawa perkara ini ke sidang Majelis Umum PBB, namun Indonesia kurang mendapat dukungan dan banyak pihak yang mendukung aksi Belanda. Belanda mencoba untuk membentuk Negara Papua. Dengan cara diplomatik juga yang tidak membuahkan hasil, maka Indonesia memilih cara militer. Indonesia mulai memperkuat kekuatan militernya melalui kerja sama dengan Uni Soviet. Indonesia membeli persenjataan termasuk kapal perang, dari sini hubungan mesra Indonesia dan Uni Soviet tercipta. Kemudian Presiden Soekarno mencetuskan TRIKORA (Tri Komando Rakyat) pada 19 Desember 1961 bertujuan untuk mencegah pembentukan Negara Papua dan membebaskan Irian Barat. Dibentuk Komando Mandala yang menjadi Panglima Mandala adalah Soeharto. Dengan aksi ini Indonesia mampu membuat posisi Belanda tidak aman. Belanda juga mendapat tekanan dari Amerika Serikat agar mau berunding dengan Indonesia. Tujuannya agar Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak terlibat secara langsung dalam konfrontasi tersebut. Amerika Serikat memberikan usulan kepada PBB untuk menyelesaikan masalah Irian Barat. Dengan cara militer Indonesia dianggap tidak main-main soal Irian Barat. Karena Irian Barat termasuk dalam kesatuan wilayah Indonesia bukan milik Belanda. Kemudian ditandatangani perjanjian New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Isi perjanjian tersebut menyatakan bahwa, Belanda akan menyerahkan kekuasaannya atas Irian Barat kepada Badan Pemerintahan (Peralihan) sementara PBB yakni United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) dan kemudian UNTEA akan menyerahkan kekuasaan atas Irian Barat kepada Indonesia, kemudian sebelum akhir tahun 1969 dengan berada dibawah pengawasan PBB, Indonesia akan melaksanakan suatu Act of Free Choice (PEPERA) penentuan nasib sendiri bagi orang Papua/Irian apakah mereka ingin bergabung dengan Indonesia atau berdiri sendiri sebagai sebuah Negara yang merdeka. (Rycho, 2005: 4) Kemudian operasi militer Indonesia dialihkan untuk menghadapi penyerahan Irian Barat kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963, operasi itu dinamakan operasi Wisnu Mukti. Dengan demikian, pada tanggal 1 Mei 1963 tugas dari Komando Mandala yang dipimpin oleh Soeharto telah selesai dan komando tersebut secara resmi dibubarkan . Act of Choice atau PEPERA dilaksanakan di Irian dimulai dari Merauke pada tanggal 14 Juli dan berakhir di Jayapura pada tanggal 2 Agustus 1969. Hasil dari pelaksanaan PEPERA yang melalui para wakil atau utusan dan secara bulat menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun sebagian warga Papua tidak serta merta menerima keputusan itu. (Rycho, 2005: 4) Setelah Presiden Soekarno tidak menjabat sebagai presiden, Irian Barat menjadi kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat. Pembangunan daerah kurang merata dan di fokuskan di Pulau Jawa saja. Kemiskinan yang terjadi di tanah Papua masih menjadi masalah hingga saat ini. Seakan-akan wilayah Irian Barat yang sekarang menjadi Papua di anak tirikan. Dan seakan-akan negara tidak hadir ketika Papua mengalami masalah. Papua hanya diambil kekayaan alamnya saja, contoh Freeport itupun sudah lama dikuasai oleh pihak asing, dan Papua hanya mendapat keuntungan yang sangat sedikit, kalau dibandingkan dengan kerugian pasti lebih banyak mendapatkan kerugian. Banyak aset negara yang dijual karena alasan untuk kepentingan rakyat. Walaupun saat ini pembangunan Papua digalakkan namun hal itu belum cukup, karena wilayah Papua merupakan wilayah NKRI juga tetapi sebelumnya kurang diperhatikan. Sehingga di Papua terdapat Kelompok Kriminal Bersenjata, hal itu didasari ketidak puasan terhadap pemerintah dan menginginkan pembentukan negara sendiri. Kelompok itu bernama OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kelompok itu sering melakukan aksi-aksi yang membahayakan. Belum lama ini terjadi masalah di tanah Papua yang dipicu dari masalah ras. Hal tersebut sangat sensitif terutama di Indonesia yang memiliki berbagai suku dan ras. Masalah tersebut jangan sampai terjadi kembali, kita sebagai warga negara Indonesia harus menjunjung tinggi nilai keberagaman dan toleransi. Pemerintah sebaiknya memberikan perhatiannya ke semua wilayah Indonesia termasuk Papua. Wilayah lain juga perlu digalakkan pembangunan agar kesejahteraan masyarakat meningkat. Untuk menjaga persatuan bangsa, jangan sampai melupakan nilai pancasila dan UUD 45 karena mengandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Jangan sampai Papua lepas dari Indonesia, jangan terluang kembali kejadian seperti Timor Timur. Semua suku, bangsa, ras yang ada di Indonesia adalah saudara, maka kita perlu menjaga hal itu. Kedaulatan negara harus terus diperkuat agar pengaruh-pengaruh perpecahan dan faham dari luar bisa dilawan.

Oleh: Kastrat dan Penerbitan HM Sejarah Undip 2020

Referensi

Rifai Shodiq Fathoni, “Pembebasan Irian Barat (1945-1963)”, diakses dari https://wawasansejarah.com/pembebasan-irian-barat/, pada 20 April 2020 pukul 17.00

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *