Per Memoriam Ad Spem: Melalui Kenangan Menuju Harapan (KKP-RI TIMOR LESTE 2008)

Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) atau Commission Of Truth and Friendship (CTF) merupakan sebuah lembaga yang dibentuk guna memenuhi tuntutan pembentukan pengadilan yang didukung oleh PBB. Komisi ini dibentuk untuk penyelesaian masalah antara Indonesia-Timor Leste pasca kerusuhan di Timor Timur pada tahun 1999. Tanggal 15 Juli 2008 merupakan sebuah pemutusan akhir dari kerusuhan tersebut. Pemutusan akhir berisi tentang kasus pelanggaran HAM lebih tepatnya mengenai pembantaian warga Timtim oleh apartur sipil negara termasuk polisi dan militer yang dilatar belakangi oleh upaya Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia.

Saat sidang putusan di Tahun 2008 Indonesia dinyatakan sebagai pihak paling bersalah atas kerusuhan yang terjadi. Hal itu didukung oleh laporan berisi 300 halaman mengenai bukti-bukti yang telah ditemukan dan dikaji sejak 2005. Seperti yang dikutip surat kabar Australia, Sydney Morning Herald terdapat 300 halaman tersebut berisi bukti-bukti mengenai:

  1. Aparatur sipil negara yakni TNI, POLRI, dan Pemerintah Indonesia di Timor Timur memiliki andil dalam memberi fasilitas berupa dana dan perlengkapan senjata serta mengkoordinasi misi pelanggaran HAM yang berlatar belakang antikemerdekaan bagi Timor Timur.
  2. Pelanggaran HAM berat yang ditemukan merupakan tindak pelanggaran karena pembunuhan kurang lebih 1.400 warga, pemerkosaan, penangkapan ilegal, pemaksaan deportasi, dan penganiyayaan besar-besaran.
  3. Pada awalnya ditemukan bukti bahwa aktivis pro-kemerdekaan Timor Leste melakukan kekerasan pada saat digelarnya referendum. Akan tetapi pada akhirnya pihak aktivis pro-Indonesia terbukti bersalah sebagai pelaku utama.

Ketua KKP Indonesia yakni Benjamin Mangkoedilaga bersama ketua KKP Timor Leste Dino Babo Soares menyerahkan bukti tersebut kepada Presiden Indonesia pada saat itu yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Timor Leste Ramos Horta beserta Perdana Menterinya Ray Xanana Gusmao. Pada saat pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan “Laporan akhir KKP adalah sebagai upaya mencari kebenaran hakiki untuk penyelesaian tuntas pelanggaran berat HAM dimasa lalu meskipun hal itu dicapai dengan jalan yang kadang menyakitkan. Hanya melalui akuntabilitas yang akurat atas berbagai ketidak adilan missal yang pernah terjadi di masa lampau, kita akan dapat memberdayakan sebuah masyarakat yang terbelah untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dalam hal ini, berbagai ketidakbenaran tentang apa yang pernah terjadi harus dikeluarkan agar proses rehabilitasi efektif ” dikutip dari Tabloid Diplomasi. Kemudian dilanjut dengan penandatanganan pernyataan bersama yang berisi 14 pokok pernyataan yang menjadi inti penyelesaian luka antara Indonesia dan Timor Leste. Penyelesaian melalui KKP disebut sebagai proses non yudisial sebab para pemimpin Timor Leste tidak menuntut pada jalur pengadilan.

Setelah diputuskannya akhir dari buntut permasalahan kerusuhan di Timor Timur. KKP memberikan sebuah Rekomendasi KKP yang merupakan sebuah bentuk tanggapan guna memberi penyembuhan atas dampak pelanggaran HAM. Rekomendasi KKP itu yakni:

  1. Rekomendasi akuntabilitas dan reformasi kelembagaan.
  2. Rekomendasi kebijakan perbatasan.
  3. Rekomendasi guna peningkatan resolusi konflik dan penyediaan layanan psikososial bagi para korban.
  4. Rekomendasi yang berhubungan dengan sosial, ekonomi, dan asset.
  5. Rekomendasi pembentukan komisi untuk oang yang hilang akibat kerusuhan.
  6. Rekomendasi pengakuan melalui penyesalan dan permintaan maaf.
  7. Rekomendasi jangka panjang dan aspiratif mencakup pertukaran kebudayaan, pendidikan, kesehatan, memelihara jasad orang yang gugur, dan kemungkinan kewarganegaraan ganda.

Tanggal 15 Juli 2021 merupakan peringatan 13 tahun Indonesia-Timor Leste yang mengusaikan luka hitam demi memulihkan ikatan persaudaraan meski tak lagi berpijak pada tanah yang sama. Tawa yang direnggut, luka, dan nyawa yang telah lama menerpa menjadi pulih dengan cara menyelesaikan segala bentuk permusuhan dengan jalur Perdamaian. Mari bersama-sama menumbuhkan semangat nasionalis dan berbudaya untuk menjadikan Indonesia lebih kuat agar terhindar dari segala bentuk penindasan dan pelanggaran. Bersama Kita Bisa!! Salam Sejahtera!!

Makan ikan sama aura kasih,

Cukup sekian dan Terima Kasih ^_^

Ditulis oleh Intan Nur Shaqila

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *