PERINGATAN HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN INTERNASIONAL: KAMPUS DARURAT KEKERASAN SEKSUAL

Dilansir dari catatan tahunan KOMNAS Perempuan bahwa selama 12 tahun terakhir kekerasan terhadap perempuan di Indonesia meningkat sebanyak 729%, artinya meningkat hampir 8 kali lipat. Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) menyebutkan bahwa sejak 1 Januari – 31 Juli 2020 kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa mencapai 3.179 kasus dan 3.218 korban serta 3.928 kasus kekerasan terhadap anak sejak 17 Juli 2020.

Kampus menjadi salah satu tempat kekerasan seksual yang masih sering terjadi dalam berbagai bentuknya, hal ini sudah menjadi rahasia umum. Nama baik masih menjadi pertimbangan utama yang membuat akademisi atau pihak kampus menutup rapat kasus-kasus kekerasan seksual di balik mereka dengan cara melindungi pelaku dan justru memberi hukuman kepada korban karena dinilai telah mencemarkan nama baik kampus. Menurut kesaksian UNY dalam testimoninya, terdapat 174 penyintas kekerasan seksual di 79 Universitas di Indonesia.

Hal ini bisa terus terjadi tanpa celah dikarenakan belum adanya kebijakan peraturan yang tegas mengenai pencegahan atau penanganan untuk menindaklanjuti hal tersebut dari pihak kampus. Tidak banyak perguruan tinggi yang mempunyai peraturan khusus mengenai tindakan kekerasan terhadap perempuan dalam lingkup institusinya, jika pun ada, biasanya hanya sebatas pada kode etik civitas akademika. Kejadian yang terlaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan kejadian yang sudah terjadi. Hal ini terjadi karena consent culture di perguruan tinggi masih absen dan sebaliknya rape culture di perguruan tinggi masih menggejala, stigma terhadap korban membuat korban tidak berani untuk melapor. Kekerasan seksual terhadap perempuan pelakunya bisa oleh siapa saja, dosen, staf, senior, atau teman sendiri, belum lagi jika hal ini dilakukan oleh pihak yang mempunyai kuasa lebih dalam institusi pendidikan, alasan tersebut juga mempengaruhi korban untuk enggan melapor, karena kampus demi nama baiknya akan melindungi pelaku dan mengancam korban. Dibutuhkan kesadaran pula dari tiap mahasiswanya dan warga kampus lainnya untuk bersama hentikan kekerasan seksual dalam lingkungan kampus.

Kekerasan perempuan bisa terjadi di mana saja, kapan saja, tanpa melihat bentuk tubuh, pakaian, umur, dan strata sosial. Adili pelaku. Stop salahkan korban kekerasan. Temani ia, rangkul ia, dengarkan kisahnya tanpa menyalahkan dan menghakimi, jangan biarkan ia berjuang sendirian, karena ini bukan hanya perjuangan sesama perempuan, tetapi sesama manusia. Kita semua harus turut andil untuk hentikan kekerasan seksual.

Oleh: Divisi Kastrat & Divisi Penerbitan HM Sejarah Undip 2020

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *