Sarasehan 2021: Mengajak Mahasiswa Baru Lebih Dekat Melihat Prospek Jurusan Sejarah

Pada hari sabtu 9 Oktober lalu, divisi kesejahteraan mahasiswa (Kesma) HM Sejarah UNDIP telah menyelenggarakan Sarasehan dengan tema “Tantangan Mahasiswa Baru Dalam Perkuliahan di Masa Pandemi”. Sarasehan sendiri merupakan kegiatan rutin yang telah beberapa kali diselenggarakan secara rutin tiap tahunnya oleh Kesma HM Sejarah UNDIP sebagai sarana bagi mahasiswa terutama mahasiswa baru untuk bisa lebih dekat dan mengenal prospek dari jurusan sejarah lewat pemaparan dari beberapa alumni dan tentunya juga bersama dosen. Kegiatan ini dimulai pada 08.28 WIB dengan sambutan dari Ketua Pelaksana kegiatan, Arista Febriani. Setelahnya Ketua HM Sejarah, Debora Alfi juga menyampaikan sambutannya dengan berharap sarasehan dapat menciptakan hubungan baik antara mahasiswa dan departemen serta dapat memberikan gambaran apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas di masa pandemi saat ini ataupun setelah lulus nanti. Acara secara resmi dibuka oleh Bapak Dhanang Respati Puguh selaku Ketua Departemen Sejarah UNDIP yang menyampaikan bahwa Sarasehan secara rutin telah dilaksanakan karena memiliki arti yang penting, yaitu; 1.) Sebagai bentuk silaturahmi yang dianjurkan dalam agama manapun, 2.) Jalinan komunikasi langsung antara departemen, dosen, mahasiswa, dan alumni, 3.) Sarana untuk mengetahui apa yang dirasakan mahasiswa terlebih pada masa pandemi yang kurang mendukung terciptanya iklm akademis secara maksimal.

Setelah sambutan-sambutan barulah rangkaian pemaparan materi dari para pembicara dimulai. Bapak Dhanang Respati kembali lagi sebagai pembicara dari perwakilan dosen bersamaan dengan Ibu Siti Maziyah. Bapak Dhanang dan Ibu Maziyah berbicara bahwa kuliah daring merupakan tantangan yang besar apalagi untuk mahasiswa baru yang merupakan individu dalam proses transisi pembelajaran (sekolah ke perguruan tinggi). Namun dibalik tantangan yang berat, kuliah daring juga memungkinkan mahasiswa untuk belajar sebebas-bebasnya, semerdeka-merdekanya, apalagi dengan hadirnya program Kampus Merdeka dari Mendikbud. Dengan kenyataan yang ada, Bapak Dhanang menyebut bahwa tantangan bisa dijadikan pertanyaan untuk diri masing-masing “apakah mampu menaklukan hingga memanfaatkan persoalan yang ada, atau justru kalah dari situasi?”. Bapak Dhanang juga memberikan pernyataan kepada mahasiswa baru terkait bagaimana mindset positif masyarakat terhadap sejarah cendrung masih rendah, masyarakat masih belum mengetahui bagaimana bidang sejarah menghasilkan produsen sejarah yang sangat dibutuhkan demi menjaga dan memastikan identitas serta jati diri bangsa. Oleh karena itu mahasiswa baru diharapkan tidak memiliki mindset yang sama karena program studi sejarah pada jenjang Pendidikan tinggi dengan menempatkan sejarah sebagai ilmu sangatlah bersifat praktis sehingga akan selalu bermanfaat. Bapak Dhanang pun menutup pemaparannya dengan memberikan wejangan bahwa “kompetensi bisa terbentuk karena kebiasaan, orang dapat disebut sebagai ahli karena telah mumpuni lewat pengulangan dan ketekunan di suatu bidang. Maka dari itu, teruslah tekun maka pada akhirnya diri kita akan menjadi pribadi yang kompeten”  

Setelah sesi pemaparan materi oleh dosen, acara dilanjut dengan sesi pemaparan materi oleh alumni. Sarasehan kali ini berkesempatan menghadirkan 2 orang alumni yang sudah terpaut sekitar 1 dekade lamanya. 2 orang alumni itu adalah Muhammad Mujibur Rohman / Mas Mujib dan Ade Imani Arsyad / Mas Ade. Saat ini, Mas Mujib adalah seorang Pamong Budaya Ahli Pertama Permuseuman di Museum Sangiran, sementara Mas Ade adalah seorang pemandu tersertifikasi di Museum Bank Indonesia. Mas Mujib membagikan pengalamannya saat masa kuliah, ia membenarkan apa yang dikatakan Pak Dhanang terkait mindset masyarakat terhadap sejarah, namun Mas Mujib berpandangan bahwa “tidak masalah dipandang inferior karena setiap orang punya jalan masing-masing, yang terpenting ialah dapat membawa kebermanfaatan”. Mas Mujib juga memberikan saran kepada mahasiswa yang sedang menghadapi pandemi untuk; banyak-banyak belajar mandiri apalagi disaat internet sudah banyak menyediakan sumber-sumber pembelajaran, perbanyak relasi dan koneksi meskipun secara daring, dan tentunya terus update terhadap informasi. Berkaitan dengan prospek kerja jurusan sejarah, Mas Mujib menegaskan bahwa banyak instansi yang memerlukan sarjana sejarah karena kemampuan memanfaatkan masa lalu untuk masa depan paling dikuasai oleh sarjana sejarah, sehingga mahasiswa tidak perlu takut menganggur selama terus membangun kompetensi. Setelah Mas Mujib, Mas Ade pun melanjutkan pemaparan materi. Mas Ade menegaskan bahwa para mahasiswa yang sudah ada di jurusan sejarah saat ini sudah harus yakin terhadap jurusan sejarah karena “sejarah adalah jurusan yang keren, kemampuan analisis dan kronologis yang mahal dan tidak disampaikan di jurusan lain justru dikuasai lewat jurusan sejarah. Lewat sejarah ada kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada konteks yang sesuai secara urut dan sistematis dan hal itu sangatlah penting dalam dunia kerja”. Dengan jurusan sejarah yang memiliki banyak kelebihan, Mas Ade tetap mengajak mahasiswa untuk tidak membatasi kemampuan hanya sebatas kepada bidang yang dipilih karena hal seperti itu sudah ketinggalan zaman. Mas Ade pun menutup materinya dengan menghimbau mahasiswa untuk berusaha sukses secepat-cepatnya agar di masa kemudian menjadi lebih mudah dan instan di umur yang semakin tua.

Setelah pemaparan materi selesai pada 11.55 WIB, perwakilan dari mahasiswa baru, Luke Verdien menyampaikan kesan dan pesannya mengikuti Sarasehan. Luke menyebut “Sarasehan sangatlah berharga, banyak hikmah yang bisa diambil, kita pun menjadi tergerak untuk terus semangat dan terus mencoba sebanyak apapun itu karena pasti akan menghasilkan pengalaman yang membentuk diri kita”.

Penulis            : Saddam Alfauzan

© Divisi Penerbitan HM Sejarah UNDIP 2021

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *