Sekelumit Kisah di Hari Lahir Pancasila

Berdasarkan Keppres No. 24 tahun 2016, pemerintah menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dan Hari Libur Nasional. Perayaan ini dihidupkan kembali setelah 51 tahun yang lalu ia terakhir dirayakan. Awal mula lahirnya Pancasila dapat dilihat pada masa pendudukan Jepang. kala Perang Dunia Kedua telah berada di penghujung masa.

Lahirnya Pancasila

Pergerakan pasukan sekutu telah mencapai pesisir Papua Nugini dan mendekat ke arah Filipina. Mereka juga telah berhasil merebut kepulauan Mariana dan bersiap menuju daratan Jepang. Pada 1 Maret 1945, Letnan Jenderal Kumakichi Harada selaku Saiko Shikikan (最高指揮官) atau Panglima Tertinggi Pasukan di Jawa mengumumkan akan membentuk BPUPKI. Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945, hari terakhir sidang pertama. Sebelumnya sudah ada dua tokoh yang mengutarakan dasar negara yang akan berdiri ini. Soekarno menyatakan pendapatnya pada hari itu. Beliau memberikan lima asas, yaitu:

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasional atau Peri Kemanusiaan
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan yang Maha Esa

Berdasarkan ahli bahasa, kelima asas tersebut diberi nama “Pancasila” yang berasal dari kata “Panca” (lima) dan “Sila” (prinsip). Kelima prinsip ini kemudian disempurnakan oleh Panitia Sembilan hingga pada 22 Juni 1945, lahir Piagam Jakarta yang kemudian pada 18 Agustus 1945 dijadikan sebagai pembuka UUD 1945, tentu dengan perubahan pada butir pertama piagam tersebut. Kelima butir yang berada di piagam tersebut secara resmi menjadi lima sila dalam Pancasila.

Gara-gara Aidit

Suatu ketika pada pada awal Mei 1964, D.N Aidit membuat pernyataan yang mengejutkan. Seperti yang dilansir oleh Historia.id, “Pancasila mungkin untuk sementara dapat mencapai tujuannya sebagai faktor penunjang dalam menempa kesatuan dan kekuatan Nasakom. Akan tetapi, begitu Nasakom menjadi realitas, maka Pancasila dengan sendirinya tak akan ada lagi.” Ujarnya dalam pidato yang berjudul Berani, Berani, Sekali Lagi Berani.

Soekarno jelas marah dengan pernyataan tersebut. Menurut Ganis Harsono pada memoarnya Cakrawala Politik Era Soekarno, sang presiden menuntut 1 Juni 1964 diadakan sebagai Hari Lahir Pancasila. Sementara PKI kemudian meluruskan perkataan ketua CC-nya dengan menerbitkan buku Aidit Membela Pantjasila (1964). Aidit juga menyampaikan pandangannya tentang agama dan Pancasila pada wawancara dengan wartawan Solichin Salam seperti yang dikutip pada Historia.id.

Kekuasaan Soekarno pun lengser dan Mayjen Soeharto muncul sebagai penggantinya. Melalui Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), beliau melarang perayaan Hari Lahir Pancasila mulai tahun 1970. Hal ini merupakan bagian dari de-Soekarnoisasi atau penghapusan pengaruh dan warisan Soekarno di Indonesia. Sebagai gantinya, tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, waktu dimana rezim Orde Baru lahir. []

Oleh : Fidel Satrio Hadiyanto

Divisi Kastrat & Penerbitan HM

Sejarah Undip 2020

Sumber:

  1. Noorfauzia, Natasya. (2019). Sejarah Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia. Academia.edu
  2. https://historia.id/politik/articles/peringatan-hari-lahir-pancasila-yang-pertama-DBKmB di akses 23 Mei 2020 pukul 14:57

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *