SEPTEMBER HITAM : ANTARA AKU DAN TUAN

Dalam rangka 55 tahun peringatan tragedi pembantaian 1965-1966, 36 tahun peringatan tragedi Tanjung Priok, 21 tahun peringatan tragedi Semanggi II, 16 tahun peringatan kasus pembunuhan Munir, dan 1 tahun peringatan bengisnya aparat dalam aksi Reformasi Dikorupsi, kusampaikan kemarahanku.

Bagaimana aku bisa percaya pada Tuan kalau kasus yang kutuntut saja tidak ada kejelasan. Septemberku kau abaikan, akhir tahun kau pinta suaraku. Tidak tahu malu? Atau memang sudah tak punya malu?

Bukan kasus pelanggaran HAM berat katamu? Pertama, tragedi pembantaian 1965-1966 Tuan belum juga mampu memenuhi tanggung jawabnya untuk memberikan keadilan terhadap para korban. Kedua, tragedi Tanjung Priok 1984 Tuan tidak memiliki arah kebijakan yang berpihak kepada korban untuk memberikan rasa keadilan dalam bentuk kompensasi, restitusi dan rehabilitasi. Ketiga, Tragedi Semanggi II 1999, Kejaksaan Agung hingga kini masih belum melanjutkan proses hukum atas hasil penyelidikan Komnas HAM. Bahkan Februari lalu Jaksa Agung justru sempat mengatakan bahwa Tragedi Semanggi I dan II bukan termasuk pelanggaran HAM Berat. Keempat, kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib, tidak juga menyentuh aktor utama peristiwa ini. justru negara menunjukkan hal yang kontradiktif dengan tidak menyampaikan kepada publik hasil temuan Tim Pencari Fakta. Kelima, kesewenangan aparat kepolisian dalam aksi Reformasi Dikorupsi 2019 yang sangat keterlaluan.

Tidak adil, tidak peduli, tidak transparan, tidak mau tahu, menghilang, menghindar. Sebegitunya kah Tuan? Pantas kecewalah aku sebab apa yang aku inginkan hanya menjadi serpihan buatmu. Jangan salahkan aku, apabila akan ada lebih banyak aku untuk melawan.

Aku terluka dan Tuan sibuk berpesta, aku sedang berduka dan Tuan bersuka cita. Aku sampaikan pada Tuan murka, Tuan anggap marahku ini jenaka. Aku sampaikan dengan kata, Tuan bilang aku hanya beretorika. Terkutuklah bagi Tuan yang dengan senang dan sengaja memainkan nyawa.

Hukum yang Tuan ciptakan tak pernah sedikitpun kuanggap solusi karena sejatinya hanya bagi Tuanlah hukum bersemayam. Walaupun sudah Tuan ciptakan di atas kertas, namun tidak dengan praktiknya. Hati nuranimu sudah hancur Tuan. Lantas jangan sebal kalau aku sebut negeri ini dipimpin oleh para bedebah.

Pengobral ikrar, omong kosong, kampanye hanya merupakan ruang untuk badut bermain sulap, blusukan hanya untuk mengambil simpati kami tanpa melihat dan merasakan kami benar-benar ada. Istana hanya panggung yang penuh sandiwara. Padahal di luar tempat Tuan menikmati kopi sambil bercanda ada kasus yang masih berserakan. Kopi Tuan tidak sepahit nasib orang-orang itu Tuan, tentu saja karena kopimu ditambahi gula kecongkakkan. Jadi tak usah heran kalau kedepannya Tuan tidak disegani dan tidak dipercayai lagi. Sudah cukup Tuan.

Permasalahan HAM di Indonesia, bukanlah perjuangan satu orang. Perlawanan terhadap Tuan yang keji dan pengecut ini tak harus ditanggung sendiri. Ketakutan yang lahir dari terror juga tak mesti harus dirasakan sendiri. Bagaimana ketidakadilan pada kasus-kasus ini terjadi telah melahirkan banyak pejuang HAM baru. Tak pernah ada usaha yang sia-sia untuk melawan penindasan. Kita hidup sepanjang hari dengan ratusan hiburan yang memborbardir imaji bahwa negeri ini dalam keadaan baik-baik saja. Semoga penduduk negeri ini sadar, bahwa mendiamkan kejahatan adalah sama halnya dengan turut berpartisipasi di dalamnya.

Atas nama menolak lupa,

Untuk mengenang para korban dan keluarga yang ditinggalkan dan dikecewakan , berdoa dimulai.

Oleh: Divisi Kastrat & Penerbitan HM Sejarah Undip 2020

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *