Sinau Bareng Mahasiswa (SIMBA) 2021: Belenggu Perbudakan Bentuk Representasi dari Penindasan Perempuan Era Kolonialisasi Hindia Belanda

Pada hari Minggu (09/05/21), telah dilaksanakan kegiatan Sinau Bareng Mahasiswa (SIMBA) 2021 dengan tema “Perempuan sebagai Komoditas Perbudakan di Zaman Kolonial Hindia Belanda.” Sinau Bareng Mahasiswa ini adalah salah satu program kerja dari Divisi Penelitian dan Keilmuan HM Sejarah. Acara dibuka dengan pembacaan sejarah singkat mengenai topik tersebut oleh Fitri Nur Lita sebagai moderator. Pada zaman kolonial Hindia Belanda, perempuan dijadikan budak, pembantu, atau simpanan laki-laki Eropa yang disebut dengan istilah nyai atau gundik. Faktor yang mendorong adanya praktik tersebut adalah adanya ketimpangan jumlah laki-laki dan perempuan Eropa sehingga, laki-laki Eropa mencari perempuan lokal. Dominasi laki-laki Eropa yang merasa paling superior turut mendukung praktik pergundikan ini. Di sisi lain, selain dipandang rendah oleh orang-orang Eropa, para nyai atau gundik juga dipandang negatif oleh orang-orang pribumi dan sering dilecehkan karena dianggap sudah ternodai.

            Setelah pembacaan sejarah singkat, acara dilanjutkan dengan menjelaskan susunan acara dan tata tertib diskusi. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. Dhanang Respati Puguh, M.Hum. selaku Kepala Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro. Ketua HM Sejarah, Debora Alfi Teofani, juga memberikan sambutan. Penjelasan materi pun dimulai oleh pembicara, yaitu Dra. Titiek Suliyati, M.T.

            Penjelasan dimulai dengan memaparkan definisi dan pengertian perbudakan beserta sejarah perkembangannya sampai mulai ada usaha-usaha untuk menghapuskannya. Perbudakan sudah ada sejak masa peradaban Mesopotamia dan muncul di berbagai kebudayaan di seluruh Dunia. Di Indonesia, perbudakan semakin marak sejak masa kolonial Hindia Belanda. Pada masa itu, jumlah budak menunjukkan status sosial orang Belanda dan munculah adanya stratifikasi sosial. Semakin banyak budak, maka semakin tinggi statusnya. Saat itu, budak diperlakukan seperti barang. Mereka tidak punya hak dan dapat diperjualbelikan dengan bebas. Budak laki-laki disebut jongos, sedangkan budak perempuan disebut babu. Namun, sebenarnya latar belakang perbudakan di Indonesia sudah ada sejak zaman kerajaan kuno dalam bentuk pernikahan politik, yaitu seorang raja memberikan putrinya sebagai seserahan yang kemudian dijadikan selir. Budaya masyarakat lokal yang memandang perempuan tidak setara dengan laki-laki juga memengaruhi adanya praktik perbudakan perempuan. Pada masa kolonial Belanda, praktik perbudakan perempuan atau pergundikan tidak jarang menghasilkan keturunan. Bila bernasib baik, sang anak akan dirawat dan diberi pendidikan Eropa. Namun, banyak juga anak-anak yang ditelantarkan.

            Setelah penjelasan materi selesai, diadakan sesi diskusi dan tanya jawab. Sesi ini berlangsung dengan aktif dan tertib, banyak partisipan yang ikut serta. Ibu Titiek sebagai pembicara juga memberikan rekomendasi beberapa buku yang berhubungan dengan perbudakan perempuan pada masa kolonial Belanda dan juga pendudukan Jepang. Rekomendasi buku tersebut diantaranya Jangan Panggil Aku Miyako (Jugun Ianfu), Kembang Jepun (Remy Silado), Momoye Mereka Memanggilku (Eka Hindra dan Koichi Kimura), dan Perawan Remaja Cengkeraman Militer (Pramoedya Ananta Toer). Setelah seluruh pertanyaan telah terjawab dan waktu pelaksanaan sudah selesai, acara SIMBA 2021 pun ditutup oleh moderator dan pembicara.

Ilustrator : Divisi Kantor Media dan Komunikasi (KMI)

Reporter         : Egi Salma Sugiharto

Editor              : Rika Vrindia Perdana

© Divisi Penerbitan HM Sejarah Undip 2021

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *