Webinar GSM 2021: Mengabdi Dari Luar Negeri Dengan Berkontribusi Nyata, Diaspora Indonesia Untuk Negeri

Berbicara mengenai pengabdian berarti bersinggungan dengan panggilan jiwa, dedikasi raga, menuangkan inspirasi dan  berbagi untuk sesama yang dimana memberikan kontribusi nyata dan solusi dari problematika kehidupan sosial. Dengan situasi Pandemi Covid-19 yang tak ujung usai  dan tak pasti sampai kapan itu terjadi. Meskipun banyaknya keterbatasan disebabkan adanya kondisi sekarang ini, tidak menghentikan kita untuk terus menebarkan wujud bakti kami terhadap negeri. Seperti halnya yang dilakukan oleh Divisi Pengabdian Masyarakat HM Sejarah 2021 dengan program kerja GSM (Gerakan Sejarah Mengabdi 2021) yang dimana sebelum adanya Pandemi 2021 dilaksanakan secara offline dengan melakukan pengabdian langsung ke daerah-daerah yang sudah direncanakan. Pada akhirnya mengadakan Webinar yang bertajuk “Mengabdi Dari Luar Negeri:  Kontribusi Nyata Diaspora Indonesia Untuk Bangsa dan Negara” melalui platform Zoom Meeting dimulai sekitar pukul 09:00 WIB (30/10/21).

Webinar tersebut menghadirkan dua narasumber yaitu Diyah Rachmawati Tohari, S.Pd., M.A (Mahasiswi S3 Waseda University) dan Vania Natassia, S.Pd. Gr (Pengajar di Malaysia tahun 2016-2020). Dari narasumber I (Diyah Rachmawati Tohari, S.Pd., M.A) menyampaikan pengalamannya seputar pengabdian dari luar negeri. Terutama fokusnya di mengajar basic bahasa Jepang. Mengajar anak-anak di Malaysia selama 4 tahun. Kontribusi selama di Malaysia diantaranya membuka Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dan Sekolah di sekitar area mengajar, panitia pemilu 2014, sosialisasi masyarakat tentang pentingnya dokumen resmi, pelatih lomba untuk kegiatan Internasional seperti KS20 serta bagian media sosial. Selain itu juga bercerita mengenai profesinya selama di Malaysia sebagai pengajar. Sudah tentu tugas serang Guru sebagai ambassador mereka, jadi peran Guru tidak hanya mengajar saja akan tetapi memberikan sosialisasi pentingnya dokumen resmi seperti raport, bahkan kebanyakan mereka tidak memiliki Surat Niat (Kartu Keluarga atau Surat Akta Kelahiran) sehingga berdampak bagi anaknya yang ingin mendaftar sekolah. Selain mengajar juga memperkenalkan pertukaran budaya. Meskipun memiliki kedekatan secara geografis dan serumpun antara Indonesia-Malaysia tetapi budayanya tidak sama sehingga saling belajar budaya. Dari apa yang dilakukan di Malaysia, Ibu Diyah terinspirasi dari anak didiknya. Anak-anak dengan keterbatasan dan mindset di lingkungannya, tetapi mereka tetap bersemangat untuk melanjutkan pendidikannya sehingga Ibu Diyah termotivasi untuk mewujudkan cita-citanya memutuskan melanjutkan kuliah di Jepang. mewujudkan cita-citanya untuk melanjutkan kuliah di Jepang.  Malaysia menempati posisi pertama untuk sebaran diaspora sedangkan di Jepang menempati posisi ke 11. Kalau kita bertanya, pasti tidak akan puas maka harus ada perubahan dari diri kita sendiri. Meskipun kita di luar negeri, kita bisa untuk membangun Indonesia. Bisa membangun lewat hal Ekonomi, Sosial, Ilmu Teknologi dan Penelitian. Mengabdi bisa dimanapun dan dalam bentuk apapun, jika ingin merubah sesuatu yang besar harus merubah diri sendiri.

Kemudian berlanjut ke narasumber II (Vania Natassia, S.PD. Gr) yang berbagi cerita sekaligus pengalaman mengenai proses, kendala, dan tantangan pengabdian di luar negeri. Berawal dari tahap proses: melewati seleksi, pemberangkatan dan adaptasi, setelah itu pasti akan menghadapoi tantangan: dokumen siswa, status sekolah, fasilitas sekolah, pola pikir tentang pendidikan, pada akhirnya tetap dapat teratasi dengan baik. Kemudian menyinggung tentang perbedaan pengabdian di Indonesia dan Luar negeri ialah di dalam negeri mungkin lebih fleksibel, target ditentukan, dan harus mengikuti birokrasi, sedangkan di luar negeri misalnya di Malaysia: Full kegiatan, ada target sendiri, dan koneksi luas. Sekolah Indonesia di luar negeri di bawah naungan pusat. Kemudian yang menaungi CLC (Community Learning Center) dengan mempromosikan Indonesia. Jadi sekolah Indonesia di luar negeri ini adalah sekolah khusus anak-anak di Indonesia atau diluar sana tidak memandang profesi dari orang tuanya, sehingga sekolah untuk semua. Cara menumbuhkan jiwa nasionalisme untuk anak-anak ke depan dalam pendidikan di luar negeri ialah dengan menciptakan lagu bertema anak-anak. Kemudian diadakan Jambore yaitu JAIM (Jambore Anak Indonesia di Malaysia) dan Sabah Bridge (SB).

“Jangan selalu bertanya apa yang telah negara ini berikan kepada kita, tetapi bertanyalah apa yang telah kamu lakukan untuk negeri ini”. (Diyah Rachmawati Tohari, 2021)

“Tidak akan ada batasan untuk membangun negeri. Dimana pun berada, menjadi apapun kita, lakukan panggilan hati”. (Vania Natassia, 2021)

Penulis : Divisi Pengabdian Masyarakat HM Sejarah UNDIP 2021

Editor : Rika Vrindia Perdana

© Divisi Penerbitan HM Sejarah UNDIP 2021

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *