Workshop Jurnalistik I: Antara Mahasiswa, Budaya Literasi, Pers, Serta Urgensivitas Dunia Jurnalistik di Lingkungan Kampus

Untuk pertama kalinya Divisi Penerbitan mengadakan Program Kerja dengan konsep Workshop Jurnalistik. Workshop ini berlangsung pada hari Rabu pagi (04/08/21) melalui platform online Ms Teams HM Sejarah. Workshop Jurnalistik HM Sejarah UNDIP I dengan mengusung tema “Pentingnya Jurnalistik Bagi Mahasiswa”. Tentu ada maksud dan tujuan dari diadakannya Workshop ini diantaranya yaitu mengenai mandat yang didapatkan dari Sidang Istimewa Mahasiswa Sejarah, pada Kabinet Guna Niyata, maka dari itu dibutuhkan peningkatan iklim jurnalistik pada lingkungan Himpunan Mahasiswa hingga Departemen Sejarah. Selain itu ada juga beberapa output yang diharapan dapat meletakkan pondasi sebagai mahasiswa untuk mengerti jurnalistik, mempunyai minat jurnalistik, dan akhirnya dapat memanfaatkannya dengan peimplementasian jurnalistik. Dalam hal ini terkhusus untuk Divisi Penerbitan sendiri sangat dibutuhkan pengetahuan ataupun pelatihan mengenai jurnalistik sebagai pembekalan. Workshop ini sasaran audience-nya masih sebatas untuk pengurus HM Sejarah UNDIP 2021. Workshop Jurnalistik pertama ini dipandu oleh Saddam Alfauzan sebagai Master of Ceremony. Divisi Penerbitan menghadarkan para pemateri yang expert mengenai dunia perjurnalistikan di Kampus. Pemateri I adalah Andrew Sentanu yang dimana track record-nya sebagai Editor di Pers Mahasiwa lingkup Fakultas (LPM Hayam Wuruk FIB UNDIP). Andrew Sentanu mengangkat topik “Sudut Pandang Jurnalistik dan Kaitannya dengan Budaya Literasi Mahasiswa” yang cukup menelisik, menarik dan crucial karena mengingat urgensinya masalah ini sehingga memang perlu untuk disampaikan di forum publik ataupun workshop di lingkungan mahasiswa. Andrew Sentanu memaparkan bahwasannya dengan jurnalistik tanpa sadar menumbuhkan cara berpikir kritis ini pada ujungnya akan berlabuh dan bersentuhan dengan budaya literasi. Literasi itu berkonotasi sangat luas, seluas hamparan Gurun Sahara yang dimana bukan sekedar berbau media tulisan ataupun setumpuk secarik tulisan kertas berlabel barcode yang menandakan keabsahan sumber tersebut. Literasi memiliki kefaktamorganaan di era digitalisasi ini dengan kemodernisasi sumber literatur yang dimana memvisualisasikan dan memadupadankan dengan audiasi dianggap lebih easy going untuk para penikmat senja bukan kopi.

Jurnalisme menyandarkan dirinya pada fakta. Hal itu sejalan dengan jurnalisme yang memiliki produk seperti tulisan, non-tulisan dan opini. Berawal dari untaian proses dalam jurnalistik melalui perencanaan, pembuatan hingga delivery. Lewat hadirnya pertanyaan-pertanyaan, jurnalistik mengajarkan untuk menjadi “skeptis” dan “kritis”. Skeptis bisa diibaratkan anti-tesis yang berupa pertanyaan dan kritis bermuara dari tindakan untuk mencari tahu. Berpikir kritis menjadi suatu hal yang penting disebabkan karena untuk menghindar bias informasi, menemukan dan mengatasi permasalahan, serta membuka pikiran terhadap paradigma baru. Dengan demikian sangat tentu adanya relevansi antara jurnalistik dan budaya berpikir kritis. Menelisik mengenai alur proses berpikir terdiri dari dua pemikiran yaitu deduktif dan induktif. Alur proses berpikir dimulai dari identifikasi, perumusan masalah, analisis, dan disajikan dalam bentuk informasi. Dengan berpikir kritis tentu terdorong untuk mencari informasi apapun, lalu dikelola, dan disajikan informasi terbaru. Lalu munculnya pertanyaan pemantik sekaligus gebrakan atau bahkan bisa menjadi renungan di malam hari, “Bagaimana peran Mahasiswa Sejarah dalam menciptakan iklim budaya literasi?”, disini munculah diskusi intuisi ide, ini tentu menjadi tugas bersama bahwa modernitas penyajian sejarah memang perlu adanya dan inovasi dalam kajian masa lalu dengan suguhan konsep yang eye catching dengan tetap menjunjung kredibilitas sumber. dengan begitu perlunya rekonstruksi sejarah berbasis teknologi, diiringi  dengan kajian secara metodologi sejarah. Sesuai dengan realitas perkembangan zaman, deskripsi mengenai sejarawan tak seharusnya berbicara statis tetapi justru akan dinamis dan mampu menjawab tuntutan zaman. Kendati demikian, adanya era disrupsi saat ini bentuk sumbangsih mahasiswa sejarah dalam menciptakan iklim budaya literasi mengharuskan bersinggungan dengan teknologi, akan tetapi budaya literasi akan sia-sia dan tidak akan pernah terwujud tanpa diimbangi dengan terwujudnya budaya berpikir kritis. Sebagai penutup pemaparan serta diskusi sesi pertama, sebagai closing statement Andrew Sentanu mengatakan, “Jurnalistik selalu memantik kita untuk menanyakan apapun. Jurnalistik juga mengajarkan untuk selalu skeptis dan berifkir kritis, sehingga mencari informasi, dan menghasilkan budaya literasi.”

Selanjutnya beralih ke Pemateri II yaitu Fidel Satrio dengan menyampaikan topik “Cara Kerja dan Contoh Pemanfaatan Jurnalistik”. Fidel Satrio ini adalah Ketua Redaksi dari Pers Mahasiswa Tingkat Universitas (LPM Manunggal UNDIP). Dalam pemaparannya menyinggungkan mengenai pentingnya jurnalisme di kalangan mahasiswa, karena sebagai sarana penumbuh pemikiran kritis dan sebagai senjata untuk mengubah keadaan masyarakat atau pemerintah. Selain itu jurnalisme juga sebagai agent of change. Objek pemberitaan Pers Mahasiswa biasanya berkaitan dengan mahasiswa dan pemangku kebijakan kampus. Tentu sudah banyak diketahui objek tambahan untuk di luar kampus ada aparat dan demonstran, akan tetapi terkadang yang sering disorot bahkan menjadi trend center adalah demonstran dibandingkan aparat. Fidel Satrio menambahkan bahwa salah satu dasar dari jurnalisme adalah berpihak pada kebenaran. Jurnalisme biasanya menceritakan sesuatu yang ada disekitar masyarakat. Lalu, jenis-jenis berita dalam pers kampus dibagi dua yaitu soft news dan hard news.  Tidak hanya itu, jurnalisme dalam lingkup mahasiswa memiliki kegunaan seperti mengangkat isu-isu kampus atau menjadi wadah opini mahasiswa. Jurnalisme tidak berguna jika tidak ada yang membaca, maka dari itu membaca adalah bagaikan nyawa dan bentuk eksistensi dari mahakarya jurnalisme itu sendiri. “Mahasiswa adalah masa keemasan, karena masa kritis sedang tinggi dan bisa terbentuk, sebelum lulus dan tertampar realita cukup keras. Idealisme mulai hilang, masa-masa kuliah ini cara berpikir kritis harus ditingkatkan. Pers di kampus dimanfaatkan dan jangan diabaikan”, imbuhnya sebagai klimaks dari diskusi materi kedua. Pada akhirnya setelah terselesaikan pemaparan serta diskusi yang membawa insight terutama tentang seluk beluk dunia jurnalistik, dan workshop pun ditutup oleh MC.

Reporter: Egi Salma Sugiharto

Penulis: Hawari Jaelani Fadilah dan Rika Vrindia Perdana

© Divisi Penerbitan HM Sejarah UNDIP 2021

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *