Cina Benteng: Jejak Sejarah dan Harmoni Budaya di Kota Tangerang


Kota Tangerang yang terletak di Provinsi Banten merupakan daerah dengan interaksi antaretnis yang kuat, salah satunya adalah masyarakat Cina Benteng, komunitas Tionghoa yang unik dibandingkan dengan komunitas Tionghoa lainnya di Indonesia. Masyarakat ini memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda hingga saat ini.

Mereka dikenal karena akulturasi budaya dengan masyarakat lokal Sunda dan Betawi, menciptakan identitas khas yang mencerminkan perpaduan budaya Indonesia-Tionghoa. Meskipun terintegrasi dengan baik, komunitas Cina Benteng mengalami perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan dari masa
kolonial hingga masa kemerdekaan, di mana awalnya mereka hidup dalam kecukupan tetapi kemudian menghadapi kesederhanaan hidup

Sejarah Masyarakat Cina Benteng

Kehadiran masyarakat Cina Benteng di Tangerang sudah dimulai sejak abad ke-15 ketika gelombang pertama orang Tionghoa tiba di muara Sungai Cisadane. Pemukiman awal mereka didirikan di Teluk Naga, dan mereka berasimilasi dengan penduduk lokal Sunda dan Melayu.

Gelombang migrasi berikutnya terjadi pada abad ke-18, ketika orang Tionghoa melarikan diri dari pembantaian oleh VOC di Batavia pada tahun 1740. Banyak dari mereka yang melarikan diri ke Tangerang, di mana mereka mendirikan pemukiman baru. Mereka mendapatkan nama Cina Benteng karena tinggal di sekitar benteng-benteng pertahanan yang dibangun oleh Belanda di tepi Sungai Cisadane.

Pada masa kolonial Belanda, orang Tionghoa Benteng dianggap sebagai mitra dalam perdagangan, yang membuat mereka hidup dalam kecukupan. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, situasi mereka berubah drastis. Banyak dari mereka kehilangan hak istimewa yang mereka miliki selama era kolonial dan menghadapi diskriminasi serta serangan anti-Cina, termasuk kerusuhan pada tahun 1946. Kondisi ini menyebabkan kemunduran ekonomi mereka, dari pedagang sukses menjadi petani, nelayan, dan buruh sederhana.

Budaya Masyarakat Cina Benteng

Salah satu hal yang menonjol dari komunitas Cina Benteng adalah akulturasi mereka dengan budaya lokal.

Mereka telah berasimilasi dengan budaya Sunda dan Betawi, menggunakan
bahasa lokal dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan beradaptasi dalam hal fisik, sehingga secara kasatmata sulit dibedakan dari pribumi. Budaya Tionghoa Benteng mempertahankan tradisi leluhur mereka melalui perayaan keagamaan seperti Imlek, Cap Go Meh, dan Peh Cun (festival perahu naga).

Meskipun begitu, tradisi ini diwarnai dengan sentuhan lokal, yang
membuat perayaan mereka unik dibandingkan dengan komunitas Tionghoa lainnya di Indonesia. Di bidang seni, mereka berkontribusi pada seni lokal dengan mempopulerkan Gambang Kromong dan Tari Cokek, perpaduan antara musik dan tarian Betawi dengan pengaruh Tionghoa.

Musik Gambang Kromong, misalnya, menggunakan alat musik Tionghoa seperti tehyan dan kongahyan, yang digabungkan dengan alat musik lokal seperti gambang dan gong. Sementara itu, Tari Cokek, yang diiringi oleh Gambang Kromong, menampilkan penari yang mengenakan kebaya khas.


Sumber : Thresnawaty, E. (2015). Sejarah Sosial Budaya Masyarakat Cina Benteng di Kota Tangerang. Patanjala, 7(1), 49-64.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *