Diskusi Liar FIB Undip: Membahas Kebebasan Berekspresi dan Pembungkaman Karya

Semarang – Kebebasan berekspresi dalam seni menjadi topik panas di acara Diskusi Liar (Duar) yang diselenggarakan oleh Bidang Sosial Politik BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro pada hari Kamis (27/02/2025). Acara ini awalnya digelar di Crop Circle FIB, namun karena hujan tidak pandang bulu, terpaksa dipindah lokasinya ke depan Gedung B Sejarah.

Mengangkat tema “Nyalakan Apinya, Gelap Ini Hanya Sementara”, diskusi yang digelar pada sore hari itu membahas melonjaknya aksi pembungkaman terhadap karya seni yang bermuatan kritik sosial dan politik. Contoh kasus terbarunya ialah datang dari band Sukatani yang mendapat intimidasi dari pihak tertentu setelah merilis lagu berjudul “Bayar Bayar Bayar”. Melalui peristiwa ini menjadi pemantik api solidaritas di kalangan musisi serta seniman, diawali dengan seruan masal tagar #KitaBersamaSukaTani dan #1312 di media sosial.

Selain band Sukatani, pembredelan karya seni sebelumya terjadi kepada pelukis Yos Suprapto, yang tidak jadi memamerkan karyanya di Galeri Nasional Indonesia dua bulan lalu. Setali tiga uang kelompok teater Payung Hitam juga berada di kapal yang sama. Pentas mereka yang berjudul “Wawancara Dengan Mulyono” batal akibat penggembokan ruang pementasan oleh pihak kampus.

LBH Semarang: Pembungkaman Seni merupakan Pelanggaran HAM

Tuti Wijaya, perwakilan dari LBH Semarang Bidang Sipil Politik yang menjadi pembicara utama dalam diskusi, menegaskan bahwa pembredelan seni adalah ialah wujud dari pelanggaran hak asasi manusia.

“Berekspresi dijamin oleh konstitusi, tapi nyatanya banyak sekali pembredelan itu terjadi. Pemerintah tidak melihatnya sebagai kebebasan berekspresi tapi justru sebagai bentuk penghinaan dan pelanggaran,” tegas Tuti.

Ia juga mengkhawatirkan dampak psikologis yang timbul malah membuat seniman enggan membuat karya yang kritis terhadap pemerintah. Namun, Tuti juga menegaskan bahwa, meski mendapat tekanan semacam itu seharusnya malah lebih memperkuat solidaritas di kalangan seniman.

“Tapi aku pikir dengan kejadian itu temen-teman dari kebudayaan dan kesenian seharusnya menjadi lebih kuat, lebih bersatu. Semakin banyak membuat lagu dan lukisan bermuatan kritik,” tambahnya.

Terkait kemungkinan terjadi stagnasi seni seperti yang terjadi pasca-1965, Tuti berpendapat bahwa walaupun tekanan belum sampai yang sampai mirip tahun tersebut. Tapi, perlawanan tetap ada.

“menurut aku kayaknya belum sampai terjadi seperti benar-benar mati dan diam, tapi memang dengan kejadian seperti ini harusnya lebih bangkit lagi dalam melawan,” ujarnya.

Selain itu, Tuti juga mengungkapkan bahwa pemerintah mencoba masuk dan mengontrol seni, maka dari itu dia menyuarakan soal perlawanan.

“Aku nggak tahu kedepannya ada pembredelan lagi atau nggak, tapi mereka mencoba semakin mengontrol dan kita harus melawan,” tanggapnya.

Pagelaran Seni sebagai Perlawanan

Setelah sesi diskusi selesai, acara berlanjut ke beragam aksi pertunjukan seni sebagai wujud solidaritas terhadap Sukatani dan kebebasan berekspresi. Sejumlah band seperti WMS, Al-Ikhlas, May, Women in Bloom, dan Kemaluan turut meramaikan panggung. Selain itu hadir pula pembacaan puisi dan pementasan teater dari Emka.

Sebagai akhir dari malam yang meriah itu, acara ditutup dengan tribute kepada Sukatani melalui penampilan lagu “Bayar Bayar Bayar”, yang menjadi simbol perlawanan terkait pembungkaman seni.

Reporter : Awan

Penulis : Jesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *