Minat PKM Rendah, PEKA Gelar Tinta Karya untuk Dorong Mahasiswa Sejarah Berpartisipasi

Dokumen by : PEKA

Semarang – Divisi Penelitian dan Pengembangan (PEKA) Himpunan Mahasiswa Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar seminar kepenulisan Tinta Karya: Memanfaatkan Kreativitas untuk Perubahan Nyata untuk meningkatkan minat mahasiswa sejarah dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (09/03/2025) di gedung sejarah FIB, ruang B 1.1, ini dihadiri oleh mahasiswa sejarah yang tertarik mengembangkan proposal PKM.

Person in Charge (PIC) PKM Program Studi Sejarah Undip, Desi Susanti, sekaligus sebagai pemateri Tinta Karya menjelaskan beberapa poin utama dalam acara pengenalan PKM ini. Seperti apa tujuan, manfaat, dan definisi PKM. Serta beberapa skema dan jenis PKM.

“PKM itu sendiri diluncurkan atau dibuat untuk mengakomodasi mahasiswa untuk menyalurkan ide-ide kreatif mereka sebagai bagian dari solusi yang ditawarkan kepada Masyarakat,” terangnya.

Kemudian Desi turut mengungkapkan beberapa tantangan mahasiswa dalam mengikuti PKM. Pertama ialah kesulitan mahasiswa dalam menentukan ide. Kedua yaitu tuntutan kedetailan dalam menulis PKM dan yang terakhir yaitu rendahnya minat mahasiswa,

“Terkait minat ini sebetulnya telah diberikan stimulus terhadap mahasiswa, misalnya memberi iming-iming konversi sks dan bebas tugas akhir. itu sebenarnya bentuk stimulus agar minat mahasiswa mengikuti PKM ini meningkat,” ujarnya.

Ketua pelaksana Tinta Karya 2025, Rizcha Amalia, menyebutkan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan minat mahasiswa sejarah yang masih minim terlibat dalam PKM.

“Di sejarah itu minat terhadap PKM sangat sedikit. Melalui acara ini kami ingin mahasiswa memiliki ketertarikan lagi terhadap PKM dan menghasilkan karya ilmiah di tingkat nasional,” katanya.

Tinta Karya terdiri dari tiga tahap yaitu pengenalan PKM, coaching class penulisan proposal, serta simulasi presentasi dan penjurian. Walaupun antusiasme peserta masih tergolong rendah dengan hanya delapan hingga sepuluh mahasiswa yang ikut serta dan enam proposal diajukan, penyelenggara tetap optimis.

“Menurutku ini sudah cukup bagus, meski jumlahnya sedikit,” tambah Rizcha.

Salah satu peserta, Pasya Nurul dari jurusan sejarah 2023, mengaku terbantu dengan format acara yang dinilai lebih mudah dipahami dibanding seminar PKM lainnya.

“Pembicaranya sangat ahli di bidangnya dan konsep acaranya menyenangkan. Jadi lebih menarik dan menginspirasi,” ujarnya.

Harapan besar turut diungkapkan Rizcha agar peserta tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi juga dapat melanjutkan proposal mereka hingga tingkat nasional.

Selain itu Desi juga berharap agar selain minat mahasiswa terhadap PKM meningkat, mahasiswa mampu memaksimalkan potensi diri mereka selama perkuliahan.

“Apa bila mahasiswa hanya berfokus pada perkuliahan saja, sekadar kuliah pulang kuliah pulang begitu, tanpa mengikuti beberapa proyek atau kegiatan-kegiatan yang bisa mengembangkan softskill maupun hardskill, sebetulnya sangat disayangkan.

Terakhir, dosen Program Studi Sejarah Undip ini berharap agar struktur organisasi, baik program studi, fakultas, maupun universitas dapat memberikan dorongan, akomodasi, dan kerangka kerja yang terstruktur serta sistematis untuk sama-sama mendorong pemaksimalan PKM di Undip.

Penulis : Jesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *