26 Oktober 2010: Letusan Terbesar Gunung Merapi dalam 100 Tahun Terakhir

Sejarah Letusan Gunung Merapi

Secara geografis, Gunung Merapi terletak di pulau Jawa. Di lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagian lagi berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yakni Kabupaten Klaten di sisi tenggara, Kabupaten Magelang di sisi barat serta Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur.  Menurut Etimologi, nama Merapi sendiri disarikan dari kata meru yang bermakna gunung dan api, sehingga nama merapi berarti gunung api.

Gunung Merapi termasuk gunung aktif, Mengutip data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), selama era 3000 sampai 250 tahun lalu, Gunung Merapi diperkirakan sudah meletus 33 kali. Sebanyak tujuh di antaranya adalah letusan besar. Data ini menunjukkan letusan besar Merapi memiliki pola yang terjadi sekali dalam kurun 150-500 tahun.Sementara berdasarkan data yang tercatat sejak tahun 1600-an, Gunung Merapi meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata sekali meletus dalam empat tahun. Masa istirahat Merapi antara 1-18 tahun.

Berikutnya, pada periode Merapi baru, terjadi beberapa kali letusan besar pada abad ke-19 (tahun 1768, 1822, 1849) dan abad ke-20 (1930-1931). Erupsi pada abad 19 jauh lebih besar dari letusan selama abad ke-20, sebab luncuran awan panas bisa mencapai hingga 20 km dari puncak. Sementara letusan terbesar Gunung Merapi terjadi pada 1872 dan 2010. Letusan Gunung Merapi tahun 2010 adalah rangkaian peristiwa gunung berapi yang terjadi di Merapi di Indonesia. Aktivitas seismik dimulai pada akhir September 2010 hingga benar-benar meletus pada tanggal 26 Oktober 2010

Letusan Gunung Merapi 2010

Letusan Merapi di tahun 2010 memang menjadi yang terbesar dalam 100 tahun terakhir. Bahkan saking besarnya, letusan itu tidak sepenuhnya terekam seismograf karena overscale. Bila letusan sebelum-sebelumnya menghasilkan awan panas yang mengalir turun dari puncak menuju lereng, pada letusan tahun 2010 material letusan membumbung tinggi. Material itu jatuh ke bumi dalam bentuk butiran bebatuan panas dengan berbagai macam ukuran. Tragisnya, hujan bebatuan itu jatuh tepat di sudut perkampungan yang ada di lereng barat daya dan selatan Merapi. Akibatnya, banyak orang meninggal, binatang ternak mati terpanggang, dan ratusan hektar lahan pertanian tertutup material Gunung Merapi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal akibat erupsi Merapi mencapai lebih dari 300 orang. Salah satu yang menjadi korban adalah juru kunci Kraton Yogya di Gunung Merapi yang kerap disapa Mbah Maridjan. Kala erupsi terjadi saat itu, gulungan awan panas yang melambung hingga 1,5 kilometer turut menghampiri kediaman Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo dan menewaskannya.

Sebelumnya, Mbah Maridjan adalah seorang juru kunci Gunung Merapi sejak tahun 1982. Pasa awalnya Mbah Marijan diangkat menjadi Abdi Dalem Keraton Kesultanan Yogyakarta oleh Sultan Hamengku Buwono XI dengan nama baru Mas Penewu Suraksohargo. Mbah Maridjan lalu diberi tanggung jawab sebagai wakil juru kunci dengan pangkat Mantri Juru Kunci, mendampingi ayahnya yang menjabat sebagai juru kunci Gunung Merapi. Setelah ayahnya meninggal, Mbah Maridjan diangkat menjadi juru kunci Gunung Merapi menggantikan ayahnya.  Sejak saat itu, Mbah Maridjan dan Merapi seakan tak bisa dipisahkan sampai dengan kematiannya di tanggal 26 Oktober 2010 tersebut.

Balik pada kejadian meletusnya Gunung Merapi 2010, sebelum erupsi Gunung Merapi dinaikkan statusnya dari siaga menjadi awas. Peningkatan ini membuat 40.000 warga yang tinggal di kawasan rawan bencana III atau dalam radius 10 kilometer dievakuasi. Peningkatan aktivitas gunung diiringi dengan terlihatnya kawanan kera dan burung turun dari hutan ke kebun-kebun penduduk di Kabupaten Boyolali. Tak hanya itu, warga di Dusun Karangbutan, Desa Sidorejo, Klaten juga telah merasakan adanya peningkatan suhu udara. Terjadi lonjakan aktivitas vulkanik yang sangat tajam, terutama mulai pukul 17.02 WIB, yang ternyata adalah luncuran awan panas. Empat seismograf tadi semuanya mencatat amplitudo getaran yang sangat lebar (besar), bahkan jarumnya pun terlepas berulang kali. Petugas monitoring mulai sibuk dan panik luar biasa, apalagi karena besarnya amplitudo dan lamanya kejadiann

Pada 26 Oktober 2010 Gunung Merapi mengalami tiga kali erupsi yakni pukul 18.10, pukul 18.15, dan pukul 18.25 WIB. Erupsi terakhir Letusan ditandai dengan awan panas yang membumbung tinggi hingga ribuan meter ke angkasa dan kemudian jatuh lagi ke bumi. Awan panas itu kemudian melibas hampir 20 km persegi sisi merapi, mulai dari puncak hingga kaki gunung. Selain awan panas, bahaya yang mengancam sangat serius saat ini adalah banjir lahar dingin, sungai yang berhulu di Gunung Merapi rata dengan perkampungan sekitar, imbas lahar dingin atau material gunung yang terbawa hujan. Pasir, kerikil, lumpur, dan batu besar memenuhi sungai-sungai tersebut.

Dampak Letusan Gunung Merapi 2010

Pada tanggal 28 Oktober 2010, Merapi memuntahkan lava pijar bersamaan dengan keluarnya awan panas pukul 19.54 WIB. Awan panas yang menggulung bersamaan dengan letusan merapi mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo. Erupsi terus berlanjut beberapa kali hingga November. Akibat letusan tersebut, wilayah sekitar gunung yang meliputi Magelang, Boyolali, Klaten dan Sleman mengalami kerusakan besar. Ribuan orang harus mengungsi dan ternaknya banyak yang mati. Puluhan dusun juga harus rata dengan tanah akibat dari tumpahan material Merapi yang diperkirakan mencapai 140 juta meter kubik dan menjangkau hingga 13 kilometer dari hulu. Di kawasan Kali Gendol, sungai yang biasanya curam dan sangat dalam sudah tak lagi terlihat karena dipenuhi material vulkanik. Diperkirakan kerugian materi dari meletusnya Gunung ini mencapai 4,23 triliun rupiah dan 60.000 ribu korban.

Sejarah mengenai Merapi itu pun tersimpan rapi di Museum Gunungapi Merapi (MGM) yang berada di Jalan Kaliurang, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Terdapat banyak pengetahuan tentang Gunung Merapi dari berbagai sisi, baik dari sisi legenda atau mitos, kearifan lokal, sejarah panjang letusan Gunung Merapi, bahkan sampai melihat sisa-sisa efek dahsyat letusan yang masih tersisa. Museum ini sudah berdiri sejak tahun 2009 atas prakarsa dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Departemen ESDM. Museum ini dibangun dengan tujuan untuk memberikan edukasi, informasi, tentang ilmu gunung berapi yang dibalut dengan konsep pariwisata.

Ditulis oleh Kastrat HM Sejarah UNDIP

Referensi

kompas.com : Melihat Letusan Besar Gunung Merapi 10 Tahun Lalu

kompas.com : Mengenal Profil Gunung Merapi yang Kini Statusnya Naik Jadi Siaga

liputan6.com : Cerita Meletusnya Gunung Merapi 5 November 2010 dan Meninggalnya Mbah Maridjan

news.detik.com : Kronologi Letusan Merapi Versi Pemantau Langsung

Tirto.id : Sejarah Gunung Merapi: Bukan Sekadar Legenda dan Mitologi

Tirto.id : Sejarah Letusan Merapi, Perbedaan Erupsi pada 2006 dan 2010

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *