Konferensi Asia – Afrika 1955 : Pewujudan Solidaritas Bangsa Asia – Afrika Dalam Menentang Penjajahan

Nasionalisme dan Humanisme Bangsa Asia dan Afrika

Bangsa Asia dan Afrika merupakan dua benua yang terdiri dari beragam negara dan suku bangsa ini sama-sama berada di wilayah bumi bagian selatan yang memiliki persamaan akan sumber daya alam yang melipah serta memiliki persamaan nasib atas penindasan yang dialami akibat dari penjajahan Bangsa Eropa.

 Pasca menjamurnya paham Nasionalisme dan Humanisme banyak bangsa Asia dan Afrika yang melakukan perlawanan atas tindakan penindasan serta penjajahan yang dilakukan oleh Bangsa Eropa. Akibatnya banyak bangsa yang berusaha memerdekakan diri mereka atas penjajahan yang mereka alami. Dan banyak pula dari bangsa yang telah memerdekakan diri itu kemudian akhirnya bersatu-padu menentang adanya penjajahan dan penindasan.

Indonesia merupakan salah satu bangsa yang berhasil memerdekakan diri dari penejajahan. Setelah Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaan, Indonesia kemudian menjadi salah satu negara yang turut serta menentang adanya penjajahan dan penindasan serta kebebasan lewat asas kebijakan politik luar negerinya yang  bebas-aktif. Maksudnya ialah Indonesia senantiasa berusaha untuk  turut serta dalam menciptakan perdamaian dunia dan menghapus penjajahan karena tidak sesuai dengan perikeadilan dan perikemanusiaan. Dalam merealisasikan hal tersebut Indonesia akhirnya melakukan konsolidasi dan kerjasama bersama negara-negara Asia-Afrika lainnya untuk mewujudkan suatu tatanan dunia yang penuh perdamaian serta bebas dari adanya penjajahan.

Perjalanan Terbentuknya Konferensi Asia – Afrika

Dilatarbelakangi oleh adanya sebuah konflik di wilayah Kashmir antara India dan Pakistan yang dinilai melanggar nilai perdamaian. Akhirnya beberapa negara menginisiasi diadakannya sebuah pertemuan untuk membahas hal tersebut.

Dari hal ini itulah kemudian terbentuk Konferensi Kolombo pada 28 April – 2 Mei 1954 yang dihadiri oleh lima negara: Ceylon (Sri Lanka) diwakili Sir John Kotelawala sebagai tuan rumah; Burma (Myanmar) diwakili U Nu; India diwakili oleh Jawaharlal Nehru; Pakistan diwakili oleh Mohammed Ali; dan Indonesia diwakili oleh Ali Sastroamidjojo. Dalam konferensi tersebut dihasilkan berbagai pernyataan sikap antara lain: (1) menentang penggunaan senjata nuklir dan alat pemusnah massal apapun; (2) menentang adanya penjajahan (kolonialisme); (3) mendukung pembentukan demokrasi; (4) menentang adanya campur tangan negara-negara komunis dan antikomunis; (5) serta mendukung perdamaian dunia.

            Dari hasil Konferensi Kolombo juga dinyatakan perlunya diadakan pertemuan lanjutan yang untuk membahas hal tersebut lebih luas dengan melibatkan berbagai negara-negara di Asia-Afrika. Konferensi ini menunjuk Indonesia untuk menjajaki kemungkinan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA). Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan melalui saluran diplomasi politik kepada delapan belas negara di Asia-Afrika. Dari pendekatan diplomatik tersebut akhirnya membuat banyak negara menyambut baik dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah dari konferensi tersebut. Untuk mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika, Perdana Menteri Ali mengundang peserta Konferensi Kolombo (Sri Lanka, Myanmar, India, dan Pakistan) ke Bogor, “Maksud konferensi tersebut ialah untuk membicarakan persiapan-persiapan terakhir daripada Konferensi Asia-Afrika yang telah disetujui dengan lebih tegas oleh empat perdana menteri daripada ketika saya mengusulkannya di dalam Konferensi Colombo”, ujar Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Konferensi yang diadakan di  Bogor tersebut dinamanakan Konferensi Panca Negara dan merumuskan kesepakatan: (1) KAA diadakan atas penyelenggaraan bersama lima negara; (2) kelima negara konferensi tersebut menjadi negara sponsornya; (3) undangan kepada negara-negara peserta disampaikan oleh pemerintah Indonesia atas nama lima negara; (4) waktu konferensi ditetapkan pada minggu terakhir April 1955; (5) dan negara-negara yang diundang disetujui berjumlah 25 negara.

Konferensi Asia-Afrika dan Terbentuknya Dasasila Bandung

            Pada 18 April – 24 April 1955 di Bandung dilaksanakanlah Konferensi Asia-Afrika dengan lancar. Konfernsi ini dihadiri oleg 29 negara dan menghasilkan keputusan – keputusan yang seluruh poin keputusan hasil pertemuan tersebut tertuang dalam “Dasasila Bandung” yang berisi deklarasi mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia dengan menggabungkan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Berikut merupakan poin – poin yang tertuang dalam Dasasila Bandung :

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB;
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa;
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil;
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain;
  5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan piagam PBB;
  6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain;
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara;
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase (penyelesaian masalah hukum), ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan piagam PBB;
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama;
  10. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Aksi Solidaritas Pasca KAA dan Problematikanya

Solidaritas Asia-Afrika tidak berhenti pada terlaksananya KAA saja. Setelah sukses menyelenggarakan KAA, Indonesia menginisiasi diadakannya ajang olahraga antar negara-negara berkembang yang disebut The Games of The New Emerging Forces (GANEFO). GANEFO pertama resmi dibuka pada tanggal 10 November 1963 di Indonesia. Ajang olahraga ini diikuti oleh 51 negara yang turut bertanding dalam dua puluh cabang olahraga. Pembentukan GANEFO ini sangat dipengaruhi oleh Soekarno sebagai presiden Indonesia saat itu. Ia merasa harus menciptakan ajang olahraga besar guna menandingi pelaksanaan olimpiade yang diselenggarakan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Penyelenggaraan GANEFO berawal dari persoalan sikap Indonesia menolak keikutsertaan Israel dan Taiwan pada Asian Games IV di Jakarta, Indonesia menilai tidak memiliki hubungan diplomatik dengan kedua negara tersebut dan solidaritas rakyat Indonesia terhadap perjuangan negara-negara Arab dan Republik Rakyat Tiongkok. Saat itu negara-negara Arab sedang bersengketa dengan Israel yang juga disokong oleh negara-negara barat, khususnya Amerika. Sedangkan Tiongkok seperti tidak dianggap di dunia internasional karena berideologi komunis dan hanya mengakui Taiwan sebagai pemerintah yang sah. Ini yang dirasa oleh Soekarno sudah melecehkan negara-negara berkembang.

Setelah kejadian itu, Indonesia diskors dari keanggotaan IOC dalam batas waktu yang tak ditentukan sampai Indonesia meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi tindakannya. Tetapi alih-alih meminta maaf, Soekarno malah mengatakan IOC sudah menjadi alat kaum imperialis untuk mendominasi urusan olahraga demi kepentingannya sendiri. Maka dengan itu Soekarno memutuskan untuk membuat GANEFO sebagai cerminan dari semangat Dasasila Bandung 1955, yaitu mempromosikan kemandirian perkembangan kebudayaan berolahraga di seluruh negara-negara Nefos, menstimulasi hubungan baik di antara pemuda-pemudi Nefos, serta mempromosikan jembatan persahabatan dan perdamaian dunia pada umumnya.

Pada pelaksanaannya Ganefo tidak sekadar ajang olahraga semata, tetapi juga merupakan ajang pertunjukan seni dan tur delegasi ke beberapa daerah di Indonesia. Selama 12 hari itu juga diadakan Ganefo Art Festival, yang terdiri dari acara pentas seni dan pemutaran film negara-negara Nefos. Acara ini dimaksudkan untuk memperkenalkan kesenian dari masing-masing negara kepada peserta GANEFO dan yang terpenting adalah untuk lebih mengeratkan solidaritas antar negara yang mengikuti GANEFO terutama negara-negara di Asia-Afrika. Pada akhir kompetisi, Republik Rakyat Tiongkok berhasil meraih posisi pertama dengan perolehan 171 medali sedangkan Uni Soviet dan Indonesia masing-masing menduduki posisi kedua dan ketiga. Setelah acara penutupan, para kontingen lomba melakukan kunjungan ke berbagai wilayah Indonesia, antara lain ke Bali, Bandung, Jakarta dan Medan dan Jakarta.

Keberhasilan penyelenggaraan GANEFO pada akhirnya juga menginisiasi pembentukan CANEFO atau Conference of New Emerging Forces selang 2 hari dari penutupan ajang GANEFO. CANEFO dibentuk oleh Soekarno untuk mempermanenkan GANEFO, menurutnya perjuangan melawan imperialisme belum akan berakhir dan GANEFO akan terus ada untuk melawan. Sayangnya GANEFO hanya bertahan sampai pada peran penyelenggaraan yang kedua di Kamboja yang sebelumnya direncanakan di Kairo tetapi batal terlaksana akibat pertimbangan politik saat itu. GANEFO ketiga direncanakan di Pyongyang, Korea Utara tahun 1970, namun tak pernah direalisasikan hingga akhirnya organisasi penyelenggara GANEFO kolaps hingga saat ini.

Kolepsnya GANEFO bukan berarti solidaritas negara-negara Nefos –khususnya  negara di Asia-Afrika berhenti, mereka tetap menjalin solidaritas dan hubungan diplomatik secara baik. Ini dibuktikan dari semangat kerja sama antar bangsa yang tergabung dalam Konferensi Asia-Afrika untuk bahu-membahu saling menopang satu sama lain untuk memenangkan perang melawan pandemi global COVID-19. Semangat Dasasila Bandung 1955 masih amat relevan dan terasa di negara-negara KAA. Prinsip-prinsip inklusivitas, kesetaraan, kerja sama, non-intervensi, dan perdamaian dunia akan terus diupayakan sebagai bentuk komitmen dan solidaritas negara-negara Asia-Afrika.

Ditulis oleh Raihan Imaduddin & Muhammad Daffa Firdauz (Kastrat HM Sejarah UNDIP 2021)

Referensi:

Kurniawan, Bayu. 2013. Ganefo Sebagai Wahana dalam Mewujudkan Konsepsi Politik Luar Negeri Soekarno 1963-1967. Avatara. 1(2): 118-197

Historia.id : Ganefo, Bukan Sekadar Kompetisi Olahraga Biasa

Historia.id : Politik Olahraga Negeri Dunia Ketiga 

kemlu.go.id : 65 Tahun Konferensi Asia Afrika: Semangat Solidaritas Asia Afrika

Tirto.id : Sejarah Hari Ganefo yang Diperingati pada 10 November

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *