Peristiwa Kudatuli: Megawati dalam Pusaran Hegemoni Orde Baru

Hari ini tepat sudah 25 tahun berlalu sejak terjadinya peristiwa besar yang cukup mengubah wajah perpolitikan di Indonesia. Peristiwa tersebut berupa terjadinya kerusuhan di Kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Jalan Diponegoro, Jakarta atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Kudatuli (Kerusuhan dua puluh tujuh juli) yang terjadi sebagai akibat dari ketegangan Politik antara pendukung Megawati, Soerjadi, serta Pemerintah Orde Baru. Sejak terjadinya peristiwa tersebut benih – benih perlawanan terhadap rezim Orde Baru menjadi kian masif hingga kemudian melahirkan reformasi di Indonesia kemudian hari.

Kiprah PDI Pada Masa Orde Baru

Dalam mempertahankan hegomoni politiknya, Pemerintah Orde Baru melebur partai – partai yang ada di Indonesia menjadi kedalam 3 partai besar atau yang lebih dikenal dengan kebijakan Fusi Partai yaitu Partai Golongan Karya (Golkar) yang mewadahi para pendukung Orde Baru, TNI, dan Pegawai Negeri. Partai Persatuan Pembangungan (PPP) yang mewadahi golongan Islam, serta PDI yang mewadahi golongan nasionalis dan juga non – islam.

Perjalanan PDI sendiri dalam kiprah perpolitikan Indonesia kurang begitu mulus. Teracatat sejak pemilu 1977 PDI selalu mendapatkan perolehan suara buncit tak lebih dari 10 persen dibawah capaian Golkar dan PPP. Oleh karena itu, Soerjadi –pemimpin partai PDI kala itu- membuat sebuah langkah dengan membuat mengangkat kembali tentang sosok Soekarno. Sosok Soekarno pada masa pemerintahan Orde Baru yang sempat redup dihidupkan kembali oleh Soerjadi lewat Sosok Megawati dan Guruh Sokernoputra.

Pada awalnya keluarga Soekarno tidak ingin teribat dengan politik praktis. akan tetapi, seiring berjalannya waktu keputsan itu pun berubah setelah Megawati dan Guruh Sokearnoputra memutuskan untuk terjun langsung kedalam PDI pada tahun 1987. Hal ini pun membuahkan hasil. Tercatat pada pemilu 1987 perolehan suara PDI berhasil meningkat secara signifkan akibat efek Soekarnoisme dan juga menempatkan Megawati sebagai anggota DPR.

Langkah Politik Megawati

Sejak mengawali langkah poltiknya dengan mulus sebagai anggota DPR pada tahun 1987, Megawati pun terus bergerilya untuk memperoleh dukungan dalam perpolitikannya. Lewat kemampuan orasi serta kecerdikannya, Megawati berhasil mendapatkan dukungan dari berbagai daerah di Indoenesia.

Hal ini pun  membuat suara terhadap PDI menjadi kian meningkat teruatama pada Pemilu 1992. Ketokohan Megawati pun menjadi sebab dari meningkatnya perolehan suara PDI. Hal ini kemudian membuat pemerintah Orde Baru menjadi khawatir. Hal yang sama juga menjadi kekhawatiran bagi Soerjadi lantaran pamor dari Megawati yang menyaingi dirinya. Puncaknya pada tahun 1993, Megawati pun berhasil meraih kepemimpinan partai setelah melalui kongres luar biasa di Surabaya.

Pasca menjadi ketua umum PDI, Megawati pun kian aktif bergerilya ke daerah – daerah dan mendapatkan simpati serta dukungan dari masyarakat. Megawati dinilai mewarisi semangat dari Soekarno dan juga dari rakyat – rakyat kecil. Dari hal ini, membuat Megawati menjadi oposan  bagi Orde Baru. Namun, siapa sangka hal tersbut malah membuat para simpatisannya menjadi kian bersimpatik terhadapnya.

Perebutan Kepemimpinan PDI Antara Mega dan Soerjadi

Pada tahun 1996, Soerjadi yang didukung oleh beberapa Dewan Perwakilan Cabang (DPC) PDI mengadakan kongres luar biasa tandingan yang dilaksanakan di Medan. Dengan tambahan dukungan dari pemerintah, Ia berusaha menggeser kepemimpinan Megawati sebagai pemimpin partai. Pemerintah Orde Baru sendiri mendukung bukan tanpa alasan. Hal ini lantaran Megawati dinilai sebagai sosok oposisi yang dapat mengancam eksistensi dari Pemerintahan Orde Baru.

Keterlibatan pemerintah dalam urusan internal partai PDI ini menyebabkan para pendukung PDI khususnya pendukung Megawati turun ke jalan melakukan demonstrasi besar-besaran. Mereka menolak kongres luar biasa tandingan dan mengkritik pemerintah yang terlalu ikut campur dalam internal partai. Demonstrasi ini berlangsung dari awal Juni 1996 dan dilakukan hampir di seluruh kota-kota besar Indonesia. Gerakan ini sangat masif karena didukung berbagai organisasi yang mengambil sikap oposis terhadap pemerintah. Sebenarnya tuntutan mereka tidak hanya mengenai keikutsertaan pemerintah terhadap urusan internal partai tetapi mengadakan reformasi terhadap pemerintahan Soeharto.

Selain itu juga,  Megawati yang dibantu oleh Bambang Widyanto dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengajukan tuntutan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta. Tak hanya sampai disitu, Megawati dan para simpatisannya bahkan menjadikan kantor pusat PDI di Jalan Diponegoro sebagai sarana mimbar bebas setiap untuk menyuarakan perlawanannya terhadap pemerintah Orde Baru .

Pecahnya Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli

Beberapa hari sebelum tanggal 27 Juli 1996, terdengar desas – desus jika kubu Soerjadi hendak mengambil  alih kantor Pusat PDI yang berada di Jalan Diponegoro, Jakarta. Oleh karena itu, setiap harinya kantor pusat PDI ini dijaga oleh sekitar 200 orang lebih.

Pada tanggal 27 Juli 1996, pagi hari pukul 05.00 massa pendukung Soerjadi yang menumpang 15 truk mulai berdatangan ke kantor pusat PDI di Jalan Diponegoro. Pada mulanya saling terjadi dialog antara perwakilan massa Megawati dan Soerjadi. Namun, karena tak adanya kesepakatan yang terjadi antara kedua belah pihak terjadilah bentrokan antara massa PDI pendukung Soerjadi dan Megawati di depan kantor pusat PDI.

Pada pukul 08.00 aparat keamanan sudah mengambil alih dan mengusai kantor pusat PDI sepenuhnya. Para pendukung Megawati yang masih tertahan di dalam kantor PDI lantas diamankan dengan menggunakan tiga truk ke markas Kepolisian Daerah DKI Jakarta, beberapa korban luka-luka juga langsung dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan ambulans. Meski begitu, massa yang terdiri dari berbagai kelompok LSM, mahasiswa, dan simpatisan pendukung Megawati terus berdatangan dan berkumpul di luar lingkaran penjagaan aparat keamanan. Mereka terus berorasi dan menyanyikan lagu-lagu protes.

Massa pendukung Megawati pun akhirnya terlibat bentrok dengan aparat lantaran tidak diperbolehkan mendekati Kantor PDI di Jalan Diponegoro. Massa pun berhasil dipukul mudur oleh aparat. Namun, imbas dari hal tersebut kerusuhan menjadi melebar. Tercatat massa membakar beberapa tempat seperti Gedung, Bank, hingga Pertokoan. Selain itu, banyak juga kendaraan yang dibakar. Kerusuhan baru dapat diredakan pada pukul 16.35 WIB ketika militer diterjunkan untuk menertibkan keadaan.

Dari kerusuhan tersebut diperkirakan terdapat 5 korban tewas, 149 korban luka –luka, dan 23 orang yang hilang. Disamping itu sebanyak 171 orang ditangkap dalam kerusuhan karena terlbat pengrusakan dan pembakaran yang mana 146 orang dari pendukung Megawati dan 25 orang dari Pendukung Soerjadi. Selain itu juga terdapat beberapa aktivis yang ditangkap lantaran dicurigai menunggangi aksi Kudatulin seperti Budiman Sudjatmiko dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), Garda Sembiring, serta Immanuel Pranowo.

Benih Reformasi

Hingga kini peristiwa kudatuli tidak pernah diusut secara serius oleh pemerintah. Mulai dari sejak tumbangnya Orde Baru, naiknya Megwati menjadi presiden, hingga sampai pemerintah saat ini. Peristiwa Kudatuli dan juga para korbannya seolah dibiarkan menghilang oleh waktu tanpa pernah ada kepastian dalam hukumnya. Meskipun begitu peristiwa kudatuli merupakan menjadi benih dari lahirnya sebuah era baru di Indoensia yaitu era reformasi.

Peristiwa kudatuli merupakan kulminasi dari intervensi Pemerintah Orde Baru dalam mempertahankan kekuasaannya. Dalam mempertahankan hegemoninya, Pemerintah Orde Baru mengintervensi hingga kedalam partai politik yang mana seharusnya hal tersebut tidak patut dilakukan. Hal ini jelas mencederai nilai demokrasi yang seharusnya dijunjung tinggi sekaligus menjadi preseden buruk bagi Orde Baru yang telah sekian kalinya mencederai nilai dari demokrasi dan kebebasan berekspresi.

Peristiwa Kudatuli juga kemudian menjadi benih – benih perlawanan kepada rezim Orde Baru yang kian sewenang – wenang hingga membatasi panggung perpolitikan. Dari sinilah resistensi masyarakat mulai masif terhadap pemerintah hingga kemudian terjadilah berbagai macam peristiwa seperti tragedi Trisakti hingga kepada lahirnya peristiwa Reformasi yang menjadi akhir dari rezim Orde Baru.

Ditulis oleh Raihan Immadu

Referensi

Kompas.com : Hari Ini dalam Sejarah: Mengenang Peristiwa Kudatuli, Sabtu Kelam 27 Juli 1996…

Nasional.Kompas.com : Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, Saat Megawati Melawan tetapi Berakhir Diam…

Nasional.Tempo.co : Cerita Kudatuli, Sabtu Kelabu 23 Tahun Silam

tirto.id : Sejarah Kerusuhan 27 Juli 1996: Soeharto Gembosi Megawati

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *