Peristiwa Seputar 13 – 15 Mei 1998

Apa yang terlintas dibenak kita ketika ditanya tentang kondisi di tahun 1998? Pasti dari kita akan menjawab kekacauan dimana-mana, chaos, mencekam, ketakutan, mengerikan, kerusuhan, tragedi, dan lain sebagainya. Anggapan itu benar adanya dan tercatat di lembar sejarah sebagai satu peristiwa yang amat krusial dan tak terlupakan. Stabilitas nasional yang tak lagi mungkin tercapai oleh pemerintah, mau tidak mau membuat rakyat bergerak untuk melakukan perubahan demi terciptanya kondisi yang jauh lebih baik.

Berbagai aksi protes dari tahun 1996 sampai 1998 dilakukan oleh rakyat di berbagai daerah kepada Presiden Soeharto atas kepemimpinannya yang dirasa tidak memuaskan rakyat saat itu. Hal ini diperparah dengan terpilihnya kembali Soeharto untuk ketujuh kalinya sebagai presiden Indonesia pada tanggal 11 Maret 1998. Belum berhenti sampai sana, pada tanggal 4 Mei pemerintah resmi menaikan harga bahan bakar minyak dan tagihan listrik. Jelas, kebijakan ini semakin memperburuk kehidupan rakyat Indonesia dan memicu gerakan massa yang lebih besar.

Penembakan Mahasiswa Trisakti

Tanggal 12 Mei terjadi penembakan kepada empat mahasiswa Trisakti yang sedang melakukan demonstrasi oleh aparat keamanan yang berjaga sore itu. Sontak kematian empat mahasiswa Trisakti ini semakin memancing kemarahan mahasiswa dan masyarakat di seluruh Indonesia khususnya Jakarta. Pada keesokan harinya, yaitu tanggal 13 Mei atas usulan senat mahasiswa UI untuk mengenakan pita hitam di tangan kiri sebagai tanda berkabung sekaligus simbol perjuangan reformasi, massa aksi pun kompak mengenakan hal tersebut dalam demonstrasinya.

Setelah acara pemakaman keempat mahasiswa Trisakti, massa yang berjumlah ribuan tersebut melakukan aksi berkabung di depan kampus Trisakti tetapi aparat keamanan mencoba menghalangi aksi massa tersebut. Akibatnya amarah massa semakin menjadi-jadi kepada aparat keamanan saat itu. Sebuah truk sampah yang ada di perempatan jalan layang Grogol akhirnya dibakar massa, rambu-rambu lalu lintas dan pagar pembatas jalan dicabuti, membakar dan merusak gedung juga mobil di halaman parkir Mal Ciputra.  Aparat yang berjaga di Mal Ciputra pun dilempari massa dengan batu, botol, dan benda lainnya sehingga aparat harus melepas tembakan peringatan dan gas air mata ke kerumunan massa untuk membubarkan aksi.

Aksi massa ini meluas sampai di kawasan pertokoan Benhil. Massa aksi yang didominasi oleh mahasiswa Unika Atma Jaya, pegawai kantor, dan warga setempat melakukan aksi massa di depan gedung BRI I dan III. Keadaan saat itu juga sudah sangat rusuh dengan berbagai bentrokan antara aparat yang ingin membubarkan aksi massa dengan para demonstran. Suasana terus memburuk. Pukul tiga sore di kawasan Daan Mogot, tiga helikopter terbang rendah dan petugas di dalamnya meminta massa untuk pulang ke rumah-masing dan menyudahi aksinya. Tetapi himbauan tersebut tak digubris bahkan massa menyerang pos polisi di Terminal Grogol dengan lemparan batu.

Sekitar pukul empat sore menurut data dari Pos Kesehatan Universitas Trisakti sedikitnya ada sembilan demonstran terkena tembakan. Menurut seorang paramedis yang merawat korban, hanya tiga orang yang terkena tembakan peluru karet, namun lainnya terkena peluru tajam. Berbagai tindakan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan menyebabkan tingkat kemarahan massa meningkat. Menjelang malam kerusuhan pun muncul di sejumlah kawasan, terutama di Jakarta Barat. Di Jalan Bandengan Selatan, Tubagus Angke, dan Jembatan Dua, banyak terjadi penjarahan dan perusakan rumah-rumah dan toko-toko warga.

Kerusuhan dan Penjarahan Terhadap Etnis Tionghoa

Kerusuhan masih berlanjut di tanggal 14 Mei 1998. Kerusuhan saat ini lebih banyak menyasar pada warga Indonesia etnis Tionghoa. Pada tanggal tersebut suasana Jakarta dalam keadaan mencekam. Banyak kawasan pertokoan yang tutup dimana – mana. Hal ini disebabkan karena banyaknya aksi penjarahan yang terjadi di sekitar Jakarta. Mayoritas toko–toko yang dijarah kebanyakan ialah milik pedagang etnis Tinoghoa.

Massa melakukan aksi penjarahan milik pedagang etnis Tionghoa dikarenakan adanya hasutan – hasutan kelompok tertentu. Selain itu pula, faktor kesenjangan sosial antara kaum pribumi dengan etnis Tinghoa yang sudah begitu mengakar turut menjadi alasan dari aski penjarahan ini.

Dari penjarahan tersebut banyak orang Tinghoa yang kemudian menutup toko milik mereka serta mengungsikan diri mereka agar tidak terdampak menjadi sasaran massa. Dari banyaknya toko yang dijarah sebagian besar toko juga turut dirusak hingga dibakar. Dan lebih parahnya lagi terjadi juga tindakan kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan terhadap warga etnis Tionghoa. Hal ini dibuktikan dengan adanya warga dari Etnis Tinoghoa yang menjadi korban dari kekerasan hingga pemerkosaan dari oknum massa. Hal tersebut terus terjadi hingga puncaknya pada tanggal 15 Mei 1998, sedikitnya 273 orang tewas terpanggang api di dua pusat perbelanjaan akibat dijarah dan dibakar massa, yakni Sentra Plaza Klender Jakarta Timur dan Ciledug Plaza Tangerang. Dalam peristiwa tersebut jumlah korban diperkirakan terus bertambah karena evakuasi belum selesai.

Peristiwa yang terjadi selama beberapa hari tersebut menjadi sebuah preseden buruk bagi pemerintahan presiden Soeharto. Dan dari perstiwa-peristiwa ini muncul lah perlawanan dari berbagai kalangan di berbagai daerah di Indonesia. Perlawanan tersebut bertujuan menggulingan pemerintahan Soeharto lewat demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari kalangan mahasiswa hingga masyarakat biasa yang saling bahu membahu dalam aksi ini. Aksi massa yang tecipta ini ibarat api dalam sekam yang terpupuk dari keresahan–keresahan terhadap pemerintah yang telah terpendam sekian lama. Puncak dari aksi ini yaitu turunnya Presiden Soeharto sebagai penguasa sekaligus menjadi sebuah era baru bagi demokrasi di Indonesia.

Ditulis oleh Raihan Immadu

Author: hmsejarah1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *