BULELENG, 9 Mei 2026 – Sebanyak 143 mahasiswa Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang sukses melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) untuk mata kuliah Metode Penelitian Sosial di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Menggunakan jalur darat dengan armada bus, rombongan bertolak dari Semarang dan melangsungkan riset lapangan intensif sejak tanggal 1 hingga 9 Mei 2026.
Penelitian sosial kali ini difokuskan pada dinamika masyarakat di empat wilayah di Buleleng, yakni Kampung Baru, Kampung Anyar, Kampung Bugis, dan Kampung Kajanan. Lokasi-lokasi tersebut dipilih karena merepresentasikan keragaman budaya yang lengkap, mulai dari aspek ekonomi, agama, sosial, pernikahan, hingga komunitas Islam di Bali Utara.
Ketua Pelaksana KKL Angkatan 2024, Najeh Ahmad Naf’an, menjelaskan bahwa pemilihan lokus ini didasarkan pada karakteristik wilayahnya yang dinilai sangat representatif bagi studi sejarah dan sosial. Untuk memastikan kelancaran akses data di lapangan, pihak panitia telah menerjunkan tim humas guna berkoordinasi dan mengurus perizinan sesuai SOP ke pemerintah daerah setempat, termasuk pihak kelurahan.
”Kami sowan dan menyerahkan surat izin sesuai SOP ke pihak pemerintah daerah seperti kelurahan. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapatkan akses resmi untuk melakukan penelitian demi menambah ilmu dan pengetahuan baru yang nantinya dapat kami bawa kembali ke ranah akademik,” ujar Najeh dalam wawancara di lapangan.
Meski demikian, Najeh tidak menampik adanya berbagai dinamika dan tantangan besar yang dihadapi oleh panitia maupun peserta sejak awal persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Tantangan utama yang dirasakan sebelum keberangkatan adalah masalah finansial karena waktu persiapan yang mendadak serta besarnya biaya iuran kegiatan KKL bagi mahasiswa. Sementara saat sudah terjun ke lapangan, tantangan berubah pada penyesuaian topik penelitian di mana beberapa judul bentukan dosen harus disesuaikan lagi dengan realitas sosiologis di masyarakat.
Dinamika riset lapangan yang penuh tantangan sekaligus keseruan ini dirasakan langsung oleh Nafisa Nada Amin, yang akrab disapa Sasa, mahasiswa Sejarah Undip angkatan 2024 yang meneliti topik pengelolaan sampah di Kampung Baru. Bagi Sasa, perjalanan ini terasa sangat spesial karena merupakan pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Pulau Dewata.
”Kesan pas KKL sih seru ya dari berbagai pihak. Panitia tuh udah bekerja keras banget buat KKL tuh semeriah ini. Terus karena ini pengalaman aku pertama kali ke Bali jadi itu spesial banget sih karena aku baru lihat Bali itu kaya gimana, tempat wisatanya indah. Kesannya happy sih, tapi happy-nya ketimpa sama capek karena kan penelitian. Kita pusing mikirin habis wawancara terus langsung nyusun laporan,” ungkap Sasa jujur.
Mengenai dinamika penelitian, Sasa mengaku kelompoknya sempat menemui kendala unik terkait psikologis narasumber lokal saat mengulik isu lingkungan.
”Narasumber yang kita wawancara itu mau semua karena topik permasalahan sampah yang kita ambil tuh sensitif gitu loh di mereka. Jadi mereka tuh kayak mau, cuman kesusahannya tuh mereka nggak mau direkam atau di-record, kalau difoto mau. Gara-gara waktu itu masih ada ketakutan antara masyarakat dan pemerintah,” jelas Sasa mengenai kendala di Kampung Baru. Namun, ia bersyukur KKL ini membuka matanya bahwa Bali memiliki sisi realitas sosial-kemasyarakatan yang kompleks di luar apa yang biasa ditampilkan oleh media.
Pengalaman metodologis yang tidak kalah menantang juga diungkapkan oleh Muhammad Gibran Adiyono, mahasiswa Sejarah Undip angkatan 2024 yang melakukan riset di Kampung Anyar. Kelompok Gibran berfokus meneliti tentang masyarakat pendatang di wilayah tersebut. Gibran mengaku pelaksanaan KKL ini sangat menguras tenaga mahasiswa, bahkan dirinya sempat jatuh sakit akibat kelelahan dan adaptasi pola makan setelah pulang dari Bali.
Di samping faktor fisik, kelompok Gibran menghadapi dinamika lapangan yang relatif sulit saat mencari sumber sejarah dan narasumber.
”Kalau dari kelompok saya itu relatif agak susah ya. Soalnya kan kita nyarinya orang-orang pendatang, sedangkan di kampung yang saya teliti itu, di Kampung Anyar, ada sekitar 40% saja perpindahan penduduk dari luar. Dan kemudian 40% itu rata-rata kebanyakan dari Bali juga, bukan dari luar Bali. Jadi kita agak kesusahan cari narasumber. Ketika udah dapat narasumber, narasumbernya enggak mau diwawancara gitu,” papar Gibran.
Kondisi tersebut memaksa mahasiswa untuk memutar otak agar riset tetap bisa berjalan. Gibran menjelaskan bahwa dalam penelitian sosial ini, mereka harus berhadapan dengan warga lokal (random people) yang sering kali kurang memahami substansi penelitian, berbeda dengan narasumber ahli pada penelitian Sejarah Lisan yang waktu itu mereka lakukan di kampus. Hambatan bahasa juga menjadi tantangan tersendiri bagi kelompoknya.
”Kadang juga ada orang yang enggak lancar bahasa Indonesia juga kan? Kita juga jadi problem juga di situ. Soalnya kemarin aku sempat wawancarai orang yang katanya enggak begitu paham bahasa Indonesia. Pas aku wawancarai, aku sampai mengulang pertanyaan tiga kali, kemudian jawabannya cuma dua sampai tiga kalimat saja. Jadi kalau ada narasumber sedikit bicara pun, kita harus memutar otak bagaimana biar kita bisa dapat informasi lebih banyak dan membuat narasi sedemikian rupa,” pungkas Gibran mengenai pengalamannya melatih kelihaian teknik wawancara di lapangan.
Data, rekaman wawancara, dan catatan observasi yang telah dihimpun oleh seluruh mahasiswa dari empat wilayah di Buleleng ini selanjutnya akan diolah dan disusun menjadi laporan penelitian sebagai output akademis utama mata kuliah Metode Penelitian Sosial di jurusan Sejarah Undip.
Penulis: Iyock

Tinggalkan Balasan