Semarang – Diskusi buku Bung Karno dan Asmara Hadi: Pergulatan Ideologis Guru dan Murid diselenggarakan di Gedung Serba Guna Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) pada hari Rabu (19/2/2025). Acara ini menghadirkan Aslama Nanda Rizal atau akrab dipanggil Aslam, penulis buku sekaligus dosen sejarah FIB Undip, sebagai pembicara utama. Serta Muhammad Rafi Aliefanto biasa dikenal dengan Rafi dari LPM Hayamwuruk menjadi penanggap dalam diskusi ini.
Aslam sebagai penulis menjelaskan latar belakang penulisan bukunya yang berjudul “Bung Karno dan Asmara Hadi: Pergulatan Ideologis Guru dan Murid”. Ia mengungkapkan bahwa awalnya ia ingin membahas faksionalisme dalam PNI, tetapi kemudian memilih meneliti sosok Asmara Hadi, tokoh yang dekat dengan Bung Karno namun belum banyak dibahas dalam kajian sejarah.
“Awalnya saya ingin meneliti faksi dalam PNI, tetapi setelah membaca lebih dalam, saya menemukan bahwa Asmara Hadi adalah sosok penting yang belum banyak dikaji. Riset ini saya lakukan selama dua tahun, mulai dari 2015 hingga 2017,” ujar Aslama.
Dalam wawancara, ia menjelaskan bahwa hubungan antara Bung Karno dan Asmara Hadi tidak hanya sekedar guru dan murid, tetapi juga saling memengaruhi pemikiran satu sama lain. Asmara Hadi sering berdiskusi dengan Bung Karno mengenai ideologi dan konsep dasar negara, termasuk saat Sukarno berada di Ende.
“Asmara Hadi sering berdiskusi dengan Bung Karno dan turut memengaruhi pemikirannya, salah satunya terkait konsep dasar negara saat dirumuskan di Ende. Ia juga mengingatkan Sukarno agar tidak melepaskan aspek agama dalam pemikiran ideologinya,” tambahnya.
Dalam proses riset, Aslam menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam mencari sumber primer. Ia membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk menemukan beberapa narasumber. Arsip koran Pikiran Rakyat yang ditelusuri secara manual juga menjadi tantangan tersendiri.
“Saya membutuhkan enam bulan hanya untuk mencari tiga kontak narasumber. Selain itu, saya juga harus membuka arsip koran Pikiran Rakyat yang tebal untuk mencari (sumber) satu persatu,” jelasnya.
Rafi sebagai penanggap dalam diskusi ini, menyoroti peran Asmara Hadi sebagai notulen Sukarno. Ia menyatakan bahwa Asmara Hadi berperan dalam merumuskan pemikiran Sukarno, khususnya terkait Marhaenisme.
“Pada akhirnya aku melihat secara ideologis dan konteks kesejarahan Asmara Hadi sangat berperan penting membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia saat itu terutama bagaimana ia terlibat dalam PNI dan hal hal yang bisa dibilang revolusioner,” ujar Rafi.
Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai program studi di FIB Undip. Salah satu peserta, Lia dari Sastra Indonesia 2024, mengaku bahwa acara ini memberikan wawasan baru baginya mengenai peran Asmara Hadi dalam sejarah Indonesia.
“Jadi ada pembahasan tentang buku yang ditulis oleh soekarno yaitu Sarinah yang ternyata tidak secara langsung ditulis oleh soekarno tapi oleh Asmara Hadi,” kata Lia.
Acara ini diselenggarakan oleh BEM FIB Undip, LPM Hayamwuruk, Himpunan Mahasiswa Sejarah Undip, dan Penerbit Semut Api. Para panitia berharap diskusi ini dapat menjadi ruang edukatif bagi mahasiswa untuk lebih memahami sejarah dan ideologi yang berkembang di Indonesia.
Repoeter : Hans & Ijas
Penulis : Ijas

Tinggalkan Balasan