Mengurai Polemik Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Kampus Budaya

Tembalang, hmsejarah.fib.undip.ac.id – Kekerasan seksual yang makin marak dewasa ini , di lingkungan kampus turut mengugah warga fakultas ilmu budaya (Undip) melakukan diskusi terkait kekerasan & pelecehan seksual. Teman- teman divisi kastrat HM Sejarah (UNDIP). Dalam acara diskus Kopi HM Sejarah kali ini (16/10) turut mengundang Vania Pramudita Hanjani, M.Si. (Kak Vania) yang juga sebagai dosen antropoligi sosial (UNDIP).

Dalam diskusi kali ini dibahas bagaimana perempuan sejak dulu jika dilihat dari kacamata gender perempuan sering kali dianggap hanya berperan diranah domestik saja atau urusan dalam rumah ,beres- beres rumah,masak dan mengurus keuangan keluarga.

Pandangan perempuan hanya berperan di ranah domestik ini membuat perempuan terbatas secara akses hubungan kekuasaan sosial. disinggung pula terdapat suatu konsepsi yang mana perempuan harus berpakaian , berpenampilan yang baik, bisa memasak dan beranak. hal ini membuat perempuan menjadi objek kepuasan seksual” atau juga hanya sebatas pelayan bagi laki laki .

Diskusi ini lebih lanjut mencoba mengurai permasalahan kekerasan seksual di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB UNDIP), “Bagaimana kekerasan seksual sejatinya bisa menyerang kepada siapa saja tampa terkecuali, korban kekerasan & pelecehan seksual yang di dominasi perempuan ini adalah salah satu bentuk dari ketika ruang relasi untuk perempuan cenderung dibatasi, di saat terjadi kekerasan seksual perempuan tidak punya tempat mengadu,” Ujar kak Viana.

Polemik terkait kekerasan ini juga didasarkan juga pada pola pendidikan keluaraga yang agaknya sifatnya patriakal (menempatkan laki – laki sebagai yang mendominasi dalam dalam berbagai aspek kehidupan), yang membuat terkadang perempuan tidak merasa bahwa sebenarnya telah mengalami pelecehan.

Hal ini kembali lagi kepada hubungan atau relasi kekuasaan pada perempuan yang masih terbatas dan dibutuhkan nya ruang aman guna memberikan rasa aman untuk berekspresi tampa takut terjadi sesuatu bagi setiap insan di (FIB), yang harusnya bisa menjadi ruang yang positif untuk saling berdiskusi dan melakukan hal positif lainnya.

Optimalisasi wadah aduan terkait kekerasan & pelecehan seksual diperlukan guna bukan hanya menyerap aduan korban saja , tapi harus dapat merangkul dan mendampingi para korban, wadah aduan juga harus dapat memberikan upaya efek jera ke pelaku. Kak” Vania” juga mengingatkan kepada semua warga (FIB) untuk berani bersuara , jangan takut untuk mencari bukt- bukti walau badai menghadang sesulit apapun melawan kekerasan seksual.

Dalam diskusi ini memunculkan gagasan bahwasannya setiap program studi sejatinya harus memiliki wadah aduan kekerasan & pelecehan seksual masing- masing guna mengangakat dan membersamai aduan – aduan kepada pihak prodi.

Selain itu, di tekankan pula perihal sosialiasasi terkait betapa pentingnya kesadaran akan pelecehan & kekerasan seksual secara masif sebagai langkah prefentif dan memberikan tekananan nyata dengan skala yang ramai dilingkungan kampus, lalu optimalisasi peran satuan pencegahan pelecehan , kekerasan seksual (PPKS ) di UNDIP.

Harapan dari diskusi KOPI HM kali ini adalah kampus Fakultas Ilmu Budaya ( FIB) Faculty of Humanities , dapat benar – benar menjadi ruang kampus yang aman, berbudaya dan humanis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *