Forum Diskusi Mahasiswa Sejarah: “Pop Culture: Budaya Dulu, Kini, dan Nanti”

Di bulan November lalu Forum Diskusi Mahasiswa (FORDIM) kembali lagi. Berbeda dari Fordim sebelumnya karena Kastrat HM Sejarah UNDIP bekerjasama dengan bidang Kastrat BEM FIB UNDIP dan Rumah Tjokro.  Forum Diskusi Mahasiswa ini diadakan Selasa (16/11/21) melalui platform Zoom Meeting dengan membawakan tema “Pop Culture : Budaya Dulu, Kini, dan Nanti”. Tak kalah menariknya ada dua Pembicara : 1. Al Nino Utomo dari Kelas Isolasi dan 2. Rizkindo Junior dari Rumah Tjokro. Fordim dimulai pukul 19:32 WIB oleh Mario Septiano sebagai Moderator. Pop Culture dapat dikatakan sebagai tren dari anak-anak muda yang bersifat sementara, mempunyai keunikan memiliki sudut pandang lain di masyarakat. Budaya populer terkadang menjadi musuh budaya lama. Selanjutnya dari Rizkindo Junior (Pembicara 1) menjelaskan bahwa perkembangan industri memiliki simbol sehingga menjadi suatu keyakinan yang ril. Seperti halnya di Eropa mengalami perkembangan industri yang dikatakan Adam Smith dengan bukunya menciptakan pola perekonomian modern yang dikenal dengan nama pasar bebas. Lalu industri semakin berkembang dengan tidak adanya peraturan-peraturan tersebut. Dalam hal ini tentunya Renaisans juga berperan, dimana masyarakat nasrani mengilhami pemikiran yang mempengaruhi. Disertai kemunculan kapital menggusur feodalisme. Berdampak pada produksi berlebihan menjadikan pekerja jadi korban. Sampai di titik dimana perkembangan akumulasi modal membuat masyarakat Eropa berpindah ke wilayah Asia-Afrika mencoba kolonialisme. Pada akhirnya masyarakat mengkonsumsi simbol yang berarti kita dijadikan subjek dan objek dari industri. Kemudian pemaparan dari Al Nino Utomo (Pembicara II). Budaya pop tidak harus dilihat secara linear, karena yang terjadi dengan budaya pop minimal ada 5 hal, repetisi, kesalingan (makna rumah), ditentukan karena sudah menentukan high culture dan diferensiasi. Kesalingan itu terjadi, pendekatan post modern. Pada akhirnya ditingsi antara high culture dengan pop culture sudah hilang. Contohnya, sepakbola adalah pop culture tapi ada semacam usaha meleburkan tradisi dengan pop. Pada akhirnya kesalingan ini penting. Sehingga budaya pop mengikuti industri. Setelah pemaparan dari kedua pembicara, sesi berikutnya adalah diskusi. Diskusi sangat seru dan banyak memberikan insight. Sekitar pukul 21:48 WIB Fordim ditutup oleh Moderator.

Reporter          : Rika Vrindia Perdana

Penulis            : Hawari Jaelani Fadilah

© Divisi Penerbitan HM Sejarah UNDIP 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *