Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi: Mengapa Masih Terjadi?

HMSejarah.fib.undip.ac.id – Belakangan ini marak seruan-seruan aksi penolakan keras terhadap kekerasan seksual. Seruan tersebut bukan yang pertama kali dilakukan, sebelumnya telah menjadi bulan-bulanan bagi para aktivis perempuan. FIB-pun, melakukan perihal yang serupa, baik melalui sosial media, ataupun secara langsung pada ruang-ruang kampus budaya.

Sebutan “tobrut” dan diksi lain yang senada, masih kerap dilayangkan masyarakat kepada perempuan, tak terkecuali di perguruan tinggi. Eksistensi diksi tersebut, menjadi pertanda atas kurangnya kesadaran masyarakat, untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi warga negara Indonesia.

Padahal, keamanan dan kenyamanan merupakan hak bagi setiap warga negara. Memberi kedua hal tersebut, bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kewajiban setiap manusia yang masih memiliki hati nurani di dalamnya. Partisipasi seluruh aktor dari atas hingga bawah, akan membawa efektivitas yang jauh lebih terasa.

Latar Belakang

Data Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan yang Dilaporkan ke Komnas Perempuan (2015 - 2021). Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui  https://databoks.katadata.co.id/layanan-konsumen-kesehatan/statistik/023bf0f372da280/kekerasan-seksual-di-lingkungan-pendidikan-terus-terjadi-ini-datanya

Kekerasan seksual di lingkungan kampus dapat ditelisik melalui salah satu data yang telah dikumpulkan oleh Dwi Hadya Jayani (2022) di atas. Perihal tersebut, menunjukkan adanya ekstensi kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Data tersebut tak sempurna untuk menjelaskan keberadaan kasus pelecehan seksual di kampus. Angka yang ada itu, hanya beberapa yang sempat diadukan, mereka yang belum atau tidak melaporkan bisa jadi jauh lebih banyak hadirnya. Hal tersebut cukup wajar, sebab para korban kebanyakan mengalami perasaan takut atas ancaman (dari pelaku), atau stigma masyarakat atas korban, dan perihal lainnya.

Belum lagi nama-nama yang dipajang pada akun @UniversitasX_Cabul. Kemudian, data lain yang belum sampai pada Komnas Perempuan, yang saya yakini, masih berlimpah jumlahnya. Belum lagi, kekerasan seksual terhadap para pria. Oleh sebab itulah, data di atas sebaiknya hanya menjadi sebuah gambaran, bahwa eksistensi kekerasan seksual masih ada, dan nyata kehadirannya.

Mengapa Bisa dan Masih Terjadi?

Menurut WHO (2012), setidaknya ada sembilan faktor, baik secara individual maupun yang ditimbulkan dalam hubungan sosial. Faktor tersebut di antaranya: (1) anggota gang; (2) penggunaan alkohol atau narkoba secara berlebih; (3) kepribadian anti-sosial; (4) paparan orang tua KDRT kala anak; (5) mengalami kekerasan seksual atau fisikal kala anak; (6) edukasi yang terbatas; (7) penerimaan kekerasan (budayawiah); (8) ketidaksetiaan; (9) pandangan gender yang timpang.

Dari beberapa perihal yang sudah disebutkan oleh WHO, tentunya akan memunculkan beberapa solusi di kepala kita. Bila dilihat lebih jauh, para pelaku sebetulnya hanya produk dari lingkungannya, atau makhluk yang deterministik. Lakunya ditentukan oleh bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Namun, bukan berarti mereka tak punya otonomi kebebasan untuk mengubah diri.

Pencegahan Hulu ke Hilir: Pesan untuk Orang Tua

Dari bayi menuju batita menjadi balita, dan perlahan beranjak remaja hingga dewasa, lalu ada masa semua menjadi tua. Begitulah prosesi hidup manusia, dan kala mereka kecil, masih penuh dengan tanya di kepala dan bingung harus kemana. Untuk orang tua, bawalah mereka dengan cinta, kasih yang panjang, juga rampaian diksi yang baik.

Bagaimana manusia tumbuh dan berkembang, benar-benar menentukkan seseorang. Maka dari itu, sudah menjadi perihal wajib bagi orang tua, untuk bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan mereka. Memang, perihal ini bukan soalan yang mudah untuk dilakukan, dan kalian pun masih belajar menjadi orang tua.

Pencegahan Hulu ke Hilir: Pesan untuk Kawan

Berbuatlah baik kepada siapa saja, berilah mereka sedikit kasih, meski pendarnya begitu muram, dan kebencian di dalam hati terpupuk tajam. Berilah setiap orang di jalan sebuah cinta, bukan atas nama senyum mereka, tapi atas nama rasa senang di hatimu.

Sudahilah ejekan menukik, ratusan sepah yang menambah pelik. Juga pukulan itu, atau sikap burukmu itu. Pandanglah manusia sebagai manusia, jangan kau turunkan nilainya, hanya karena rasa tertentu yang hadirnya hanya membawa rusak bagi individu.

Ciptakanlah! Ciptakanlah sebuah tempat nyaman bagi siapa saja. Saya ingat salah satu kalimat yang pernah diucapkan seorang anak, “Membuat tempat nyaman tanpa memandang latar belakang.” Idelanya memang begitu, dan kehadiran suaka itu, akan membawa manusia melaju menjadi seorang individu yang lebih mampu.

Pencegahan Hulu ke Hilir: Pesan untuk Institusi

Berikanlah kurikulum pendidikan seksual yang baik, berikanlah akses bebas bagi siapa saja, untuk si miskin, si nanggung, dan si kaya. Bawalah mereka dalam kesetaraan, dan hapuskanlah ketimpangan pengetahuan di antaranya.

Bawalah lapangan pekerjaan yang begitu luas dan berkualitas. Berikan para remaja sebuah peran dan naikkanlah fungsi sosialnya. Jadikan mereka bermanfaat bagi sekitar. Dengan harapan, ditemukanlah sebuah makna bagi hidupnya seorang.

Untuk institusi kebudayaan, hilangkanlah pandangan merendahkan. Bukalah cakrawala pandang, dan bangunlah kebajikan yang tersesuai dengan zaman. Untuk apa bertahan bila merugikan? Untuk apa keras kepala, bila tiada satupun yang diuntungkan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *