Maritime Study Group 2025 Tumbuhkan Minat Mahasiswa dalam Kajian Sejarah Kemaritiman

Semarang – Maritime Study Group (MSG) 2025 resmi dimulai dengan pertemuan perdana yang berlangsung di Gedung Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) pada Sabtu (08/03/2025). Acara ini bertujuan untuk mengembangkan minat riset mahasiswa sejarah khususnya terkait kajian dalam bidang kemaritiman.

Ketua pelaksana MSG 2025, Muhammad Rizky Agli, mengungkapkan bahwa program ini adalah upaya membangkitkan kembali fokus penelitian mahasiswa mengenai sejarah maritim.

“Kajian sejarah maritim merupakan keunggulan dari program studi sejarah UNDIP, namun minat mahasiswa dalam menyusun tugas akhir minim yang membahas studi maritim. Dengan MSG, kami berharap dapat menumbuhkan minat mahasiswa terhadap bidang maritim, guna menaikan lagi nama program studi sejarah,” ujarnya.

MSG pada tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya karena tidak sekedar berupa forum diskusi, namun juga melibatkan penelitian lapangan langsung di Kampung Tambak Lorok, Semarang Utara. Lokasi ini dipilih karena masyarakatnya yang banyak bergantung pada sektor kelautan dan pesisir.

“Di Tambak Lorok, tidak hanya nelayan yang mencari nafkah, tetapi juga petani garam, pengusaha, serta pelaku usaha pengasapan ikan. Selain itu, aspek budaya dan sosial masyarakat pesisir menarik untuk dibahas,” tambah Rizky.

Dalam pertemuan pertama ini, peserta diberikan pengenalan terkait metode penelitian, wawancara, dan teknik pengumpulan data dari narasumber. Salah satu peserta, Des Fitra dari angkatan 2023, mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ini.

“Kita bisa mendapatkan wawasan dan juga teman dari komunitas ini, sekaligus bisa menambah pengalaman penelitian kita,” katanya.

Dosen sejarah UNDIP, Rafngi Mufidah yang turut hadir sebagai pembicara, menyoroti tantangan dalam penelitian sejarah maritim.

“Banyak mahasiswa takut dengan keterbatasan data, padahal sebetulnya peluang penelitian dalam bidang ini masih sangat besar. Kita bisa memanfaatkan sumber-sumber misalnya penelitian lapangan melalui metode penelitian sosial dan sejarah lisan untuk mengatasi kendala tersebut,” jelasnya.

Selain itu Rafngi berharap kegiatan MSG mampu berkontribusi untuk departemen sejarah sebagai bank untuk topik-topik penelitian di bidang kemaritiman.

“Juga teman-teman MSG nanti akan berani melakukan penelitian dan terbiasa denganya. Harapanya nanti akan ada karya-karya skripsi yang bertema kemaritiman,” ujarnya.

Ada tiga tahap dalam acara MSG 2025. Setelah pertemuan perdana, mahasiswa akan melakukan penelitian lapangan di Tambak Lorok dengan fokus pada isu sosial, ekonomi, lingkungan, budaya, dan politik. Hasil penelitian akan disusun dalam artikel ilmiah dan dipresentasikan dalam pertemuan ketiga, yang nantinya akan dinilai oleh dosen ahli sejarah maritim. Artikel terbaik rencananya akan dipublikasikan di jurnal program studi sejarah.

Penulis : Jesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *