Sinopsis
Bagaimana jika kamu terlahir dengan kondisi tidak bisa mendengar juga berbicara sepenuhnya? Tentu, membayangkannya saja sudah membuat sebagian dari kita merasa tergores hati, namun, kondisi inilah yang dialami oleh main character pada serial ini, Yuki Itose, seorang gadis kuliah tahun pertama yang sepanjang hidupnya hanya diisi oleh kesunyian.
Sebelum memasuki kuliah, Yuki menghabiskan seluruh masa sekolahnya di sekolah berkebutuhan khusus tunarungu, sehingga dunianya hanya diisi oleh beberapa orang saja. Sampai, ia bertemu tanpa sengaja dengan laki-laki bernama Itsuomi, seorang mahasiswa penyuka kebudayaan, travel, dan mampu berbicara banyak bahasa.
Kebaikan dari Itsuomi dalam pertemuan pertamanya dengan Yuki, menarik rasa penasaran Yuki lebih jauh, begitu juga sebaliknya, siapa sangka kondisi spesial yang dimiliki oleh Yuki, justru mampu menggerakkan dan menyita perhatian laki-laki berparas keren yang menjadi idaman banyak wanita.
Apa yang Serialnya Tawarkan?
Sedikit gambaran awal, cerita diawali dengan bertemunya dua karakter sentral, berlatarkan perjalanan dalam kereta, Yuki, seorang gadis tunarungu yang menuju arah pulang seorang diri dihampiri oleh warga negara asing yang menanyakan sesuatu dalam bahasa non-jepang, meskipun mampu membaca gerak bibir, Yuki yang tidak mengerti bahasa yang digunakan, tidak mampu memahami apa yang dimaksud oleh orang tersebut.
Tanpa berselang lama, menyadari kesulitan yang Yuki alami, seorang laki-laki jepang berbadan tinggi, berparas menarik, dan mampu mengerti bahasa yang digunakan, dengan sigap menggantikan posisi Yuki untuk menjawab pertanyaan dalam bahasa asing, membantunya keluar dari situasi yang membuat dirinya merasa kecil itu, pria itu adalah Itsuomi.
Pertemuan singkat ini membawa kesan bagi kedua belah pihak, bagi Itsuomi yang memang tertarik dengan bahasa, dirinya langsung menyadari bahwa wanita yang ditemuinya tersebut “berbeda” dari orang-orang biasanya, sehingga membuatnya sedikit memberikan perhatian lebih.
Sedangkan bagi pemeran utama, Yuki, kehadiran Itsuomi secara tiba-tiba di kereta, melegakan hatinya karena telah membantunya keluar dari situasi canggung, Itsuomi juga langsung mengerti atas kebutuhan khusus yang ia miliki sehingga perlakuan baiknya kala itu sangatlah membekas.
Terdengar seperti pertemuan awal yang terlalu fantasi dan template? Mungkin iya, tapi perasaan seperti ini tidak akan didapatkan oleh kalian ketika menontonnya sendiri, pertemuan dua karakter lawan jenis ini masih tergolong natural dan masih bisa diterima. Apalagi, rangkaian kejadian yang kemudian bergulir, dari pertemuan awal sampai kemudian menyatukan mereka, masih dapat dikatakan berdiri di ambang realist.
Lantas, apa yang spesial dan membedakannya dari serial anime lain? Sambil menyadari bahwa anime bergenre seperti ini bukanlah cup of tea semua orang, penulis tetap sangat merekomendasikan serial kisah cinta masa muda ini karena mengangkat irisan cerita yang berbeda dari serial-serial bergenre serupa.
Kombinasi anime bergenre romance, slice of life, shojo (pemeran utama wanita), memang sudah banyak, tapi yang ini bisa dikategorikan sebagai one of a kind, karena mencampurkannya dengan sedikit isu sosial, yakni disabilitas dalam masyarakat.
Dengan menonton serial ini, penonton diajak melihat dunia dari sudut pandang gadis yang memiliki hambatan besar dalam hidupnya, tanpa perlu menyelami jauh soal isu disabilitas di dunia nyata, penonton langsung diketuk hatinya untuk sepakat bahwa disabilitas, merupakan sebuah kemalangan yang memengaruhi semua aspek dalam kehidupan, baik itu dalam pendidikan, pekerjaan, maupun dalam kegiatan bersosialisasi sehari-hari.
Terlepas dari disabilitas yang dimiliki, Yuki tidak mau benar-benar dikalahkan oleh kekurangan tersebut, seorang gadis yang tidak bisa mendengar dan berbicara total ini tetap ingin melihat dunia luas, melanjutkan hidup dengan bergerak keluar dari zona aman, branjak dari yang semula menempuh pendidikan sekolah khusus tunarungu, menjadi melanjutkan kuliah di universitas umum.
Jadi, Bagaimana Serial ini Secara Keseluruhan?
Kembali lagi kepada apa yang terjadi dalam serial, A Sign of Affection tidak terlalu memiliki banyak karakter sebagai penggerak alur, karakter penting pada plot masih berada dalam hitungan jari, sebagian besar screentime dalam serial bahkan hanya dihabiskan untuk berfokus kepada pengembangan karakter Yuki sebagai main character dan pendalaman karakter Itsuomi yang semula tidak memiliki banyak latar belakang.
Meski begitu, pergulatan konflik dalam cerita tetap menarik untuk diikuti, pertanyaan yang muncul seperti “bagaimana bisa laki-laki setampan dan semapan itu mau berpasangan dengan Yuki” mampu dijawab oleh ceritanya seiring episode bergulir. Percaya penulis, meski sangat terdengar seperti kisah shojo mainstream, kualitas dari ceritanya tidak sedasar seorang wanita hamba sahaya biasa yang berhasil menemukan pangerannya.
A Sign of Affection mampu memanfaatkan waktu yang dipunya untuk menjelaskan kepada penonton bahwa kisah romansa yang terjadi antara dua karakter utama, merupakan kisah romansa yang memang layak dan sah untuk terjadi. Tidak hanya berhasil menarik penonton lebih jauh kepada dunia di dalamnya, tapi juga berhasil membuat penonton ikut merasakan kehangatan perasaan jatuh cinta pertama dan perasaan tulus laki-laki, dalam terus melindungi senyuman wanita yang dicintainya.
Secara keseluruhan, serial ini dikemas dengan cukup baik, mulai dari plot, pacing cerita, maupun kualitas visual yang animasinya sajikan, seluruh sisi dari A Sign of Affection sudah lebih dari sekedar bagus, sehingga serialnya mampu membuat penontonnya ikut merasakan pesan dan impresi dari apa yang coba disampaikan. Tak hanya empati dan simpati, serial ini berhasil membawa perasaan hangat dari romansa-komedi yang membuat penontonnya ikut merasa gumush dan tertawa terpingkal-pingkal melihat interaksi romansa di dalamnya.
Pada akhirnya, serial ini mengajari untuk lebih mawas diri dan bersikap baik terhadap sekitar, khususnya kepada penyandang disabilitas, penonton yang diberi suguhan tontonan terkait kesulitan-kesulitan yang penyandang disabilitas alami, seperti dalam bersosialisasi, kegiatan sehari-hari, sampai mencari pekerjaan, harusnya bisa memetik pelajaran dan mulai bersikap lebih baik untuk menciptakan dunia tempat yang lebih ramah bagi semua orang, tidak terlepas penyandang disabilitas.
Bukan hanya soal itu saja, serialnya yang mengangkat kehidupan cinta masa muda sebagai tema utamanya, juga memberikan sudut pandang yang lebih luas terkait bagaimana seharusnya kamu memanfaatkan peluangmu dengan maksimal untuk mengejar orang yang kamu suka, belajar lebih jujur pada diri sendiri, dan menerima kenyataan bahwa terlepas dari seberapa besar usaha yang kamu lakukan agar kamu bisa masuk ke dunia orang yang kamu suka, bukanlah jaminan bahwa lantas kamu adalah satu-satunya orang yang layak dan tepat untuknya.
Perlu digaris bawahi, meski sama-sama memiliki cerita tentang seorang gadis tunarungu, serial ini benar-benar memberikan tema dan impresi yang jauh berbeda dari film superior yang sudah lebih dulu ada, yaitu A Silent Voice. Sementara A Silent Voice adalah sebuah film bertema disabilitas dan kesehatan mental yang ceritanya berputar kuat pada hal tersebut, jangan mengharapkan hal serupa ketika kamu menonton A Sign of Affection.
Sebuah serial light-hearted yang lebih bisa dinikmati dengan santai karena fokus utama ceritanya adalah kehidupan romansa masa muda. Dua judul dengan fokus cerita yang berbeda, sehingga peruntukkannnya juga berbeda, jika kamu memang menyukai serial anime romance, slice of life, dan terlebih menyukai pemeran karakter utama wanita (shojo), maka A Sign of Affection adalah sebuah serial tepat untuk kamu.
A Sign of Affection terdiri dari 12 episode, memiliki rata-rata rating 8.22 dari 110.114 pengguna situs MyAnimeList.

Tinggalkan Balasan