Membedah Permasalahan Internal, Hima Sejarah Gelar Musyawarah Anggota

Semarang – Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Himpunan Mahasiswa Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar Musyawarah Anggota (Musang). Acara tersebut berlangsung pada Selasa (15/4/2025) di Joglo besar fakultas ilmu budaya. Musang kali ini dihadiri oleh mahasiswa sejarah yang tergabung kedalam Himpunan Mahasiswa Sejarah.

Ketua Himpunan Mahasiswa Sejarah Undip, Daffa Alifrizki Medy menyatakan bahwa acara Musang kali ini dilakukan untuk menuntut beberapa point penting dari permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam Himpunan Mahasiswa Sejarah.

“Menuntut point-point yang menjadi keresahan dalam himpunan mahasiswa ini, mulai dari ketua saya sendiri, BPH hingga kepala divisi masing-masing,” ujarnya. 

Ketua pelaksana dari kegiatan Musang kali ini, Ifa mengatakan bahwa program Musang dilaksanakan untuk mengetahui kritik dan saran dari tiap anggota.

“Untuk bisa tahu kritik dan saran dari masing-masing anggota buat divisi, kadep, kahim dan BPH,”ucapnya.

Point jam ngaret menjadi fokus pembahasan dalam musang kali ini. Kerap kali anggota hingga ketua himpunan terlambat datang baik dalam pertemuan ataupun rapat biasa. Hal tersebut kerapkali dianggap sepele oleh semuanya entah itu anggota atau bahkan ketua himpunan itu sendiri.

“Yang di highlight tadi itu soal ontime bukan soal kahim namun juga tiap anggota himpunan yang hadir. Ini perlu banget soalnya sebagai tanggung jawab kita sebagai orang berorganisasi ini dianggap sepele,” ucap Ken Sae staff ahli Divisi Kajian Aksi Strategis sekaligus peserta dalam acara musang kali ini.

Pelaksanaan Musang terbilang berjalan lancar dan demokratis, setiap peserta memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan saran. Kendati demikian masih terdapat beberapa peserta yang belum berani berbicara ataupun aktif dalam forum. Beberapa peserta juga terlihat lebih fokus pada urusan pribadi dibanding menghargai peserta lain yang mengutarakan pendapatnya dalam forum. 

“Kalau ngomongin soal diskusi, sebenernya buat membicarakan itu sudah termasuk. Namun kalau melihat tadi masih banyak yang tidak menyimak dan lebih fokus berbicara sendiri atau main hp. Saya berharap kedepannya yang lain lebih perhatian, terutama jika ada yang ngomong. Setidaknya kelihatan formalitas aja sih,” tambah Ken.

Dengan adanya Musang, harapannya himpunan mahasiswa sejarah menjadi lebih baik. Melalui kritik dan saran tersebut hendaknya siapapun yang tergabung dalam himpunan sejarah berusaha sebaik mungkin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sekiranya menghambat perkembangan himpunan sejarah. 

“Untuk komitmen saya berusaha untuk menjadi yang terbaik. (Memang) tidak bisa memenuhi semua keinginan anak-anak, (tapi) seenggaknya ada kesan sendiri bagi saya sebagai kahim untuk kedepannya,” ujar Daffa.

Selain itu untuk kedepannya himpunan juga diharapkan dapat menjadi tempat yang sesuai untuk berkembang dan belajar bersama, serta menjadi tempat yang demokratis.

“Semoga nanti kita bisa menjadikan himpunan ini benar-benar untuk  satu demokrasi kemudian membenarkan diri atau belajar lebih banyak lagi dari staf ahli atau dari kakak tingkat dari angkatan kita,” ungkap Fikri staf muda divisi Penelitian dan Keilmuan.

Penulis : Mukti

Reporter : Eva, Velita & Jesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *