Pameran dan Film Dokumenter Warnai Mirsani Project 2025

Semarang — Mahasiswa Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro (UNDIP) angkatan 2022 menyelenggarakan Mirsani Project 2025 pada Selasa (17/6/2025). Acara ini memadukan pameran produk pariwisata lokal dan pemutaran film dokumenter bertema ketahanan sosial. Bertempat di Gedung Art Center Fakultas Ilmu Budaya UNDIP, kegiatan ini sukses menyedot perhatian puluhan pengunjung dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum.

Ketua pelaksana acara, Salsa, menjelaskan bahwa Mirsani Project merupakan luaran dari mata kuliah Sinematografi Sejarah dan Manajemen Pariwisata. Acara ini jadi ajang belajar langsung mahasiswa di luar kelas, sekaligus ruang kolaborasi dengan UMKM dan apresiasi karya film dokumenter.

“Lewat kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk mengasah kemampuan mengatur acara dan berkreasi, sambil lebih peka dengan isu-isu sosial di sekitar khususnya soal ketahanan sosial,” ucap Salsa.

Selain pameran, acara juga menampilkan 13 film dokumenter hasil produksi mahasiswa yang mengangkat beragam isu ketahanan sosial di masyarakat. Film-film tersebut memotret kisah mulai dari perjuangan anak berkebutuhan khusus, dinamika kehidupan di kawasan metropolitan, hingga kisah pelestarian budaya kaset pita. Seluruh film tersebut diputar secara terbuka bagi pengunjung.

Antusiasme tinggi terlihat sejak masa pendaftaran. Salsa mengungkapkan bahwa formulir daring saat dibuka telah melebihi kuota yang disediakan.

“Bukan cuma mahasiswa sejarah yang antusias, tapi juga masyarakat umum di Semarang turut juga,” tambahnya.

Meski dihadapkan pada tantangan waktu karena persiapan yang hanya empat minggu dan bertepatan dengan ujian akhir semester, acara tetap berjalan lancar.

“Saya sangat berterima kasih kepada tim panitia yang super gesit tentunya dalam membuat acara ini terlaksana dengan baik,” kata Salsa.

Salah satu panitia, Ana, menilai bagian pemutaran film dokumenter sebagai segmen yang paling berhasil.

“Banyak penonton yang tetap tinggal bahkan setelah sesi istirahat. Artinya mereka benar-benar tertarik,” ujarnya.

Ana berharap Mirsani Project ini bisa jadi pembuka wawasan buat mahasiswa tentang potensi pariwisata di sekitar, tidak cuma tempat wisatanya saja, tapi juga produk-produk, budaya, sampai cerita di baliknya. Selain selain itu diharapkan pula dari acara ini dapat menambah wawasan mahasiswa terhadap realitas sosial di sekitar mereka dan menumbuhkan empati.

Pengunjung sekaligus mahasiswa Sejarah 2022, Araya, mengapresiasi Mirsani Project sebagai acara yang seru dan berkesan karena dilaksanakan bersama oleh angkatannya. Ia menilai kegiatan ini menarik, mulai dari expo pariwisata dengan beragam produk hingga pemutaran film bertema ketahanan sosial.

“Film yang mengangkat tema ketahanan sosial itu menarik banget, karena kita bisa melihat sisi yang luput terlewat, dengan melalui film itu kita melihat sisi yang belum pernah kita sadari sebelumnya,” tuturnya.

Setelah Mirsani Project 2025, Salsa berharap tradisi ini berlanjut di tangan angkatan berikutnya sebagai bagian dari program tahunan Prodi Sejarah UNDIP.

“Kami bermimpi Mirsani bisa diteruskan oleh angkatan setelah kami. Kalau konsisten, saya pikir Prodi Sejarah UNDIP akan makin dikenal di mata pulik,” ujar Salsa.

Mirsani Project 2025 tidak sekedar menjadi ajang pamer hasil karya, tetapi juga memperkuat kolaborasi akademik dengan pelaku UMKM serta membuka ruang refleksi sosial dengan medium sinema.

Penulis : Jesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *