Temcy, hmsejarah.fib.undip.ac.id – Pentas Anak Sejarah (PANAS) merupakan program kerja yang tercipta setelah diskusi panjang para anggota Divisi Seni, Budaya & Olahraga Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Diponegoro. Program kerja ini baru dilaksanakan hari lalu (11/10/2024) dan menjadi pementasan perdana bagi civitas seniman di Program Studi S-1 Sejarah.
Pada pementasan kali ini, terdapat sebelas penampil yang menunjukkan kemampuannya. Di antaranya para penampil musik ang diisi oleh Centipede, Trinitas, OPM, Kapal Tuyul, Al-Ikhlas, dan Bandtal Guling, pula Fahmi yang membacakan puisi, dan sayangnya Veroy serta Priangan tak jadi menampilkan kebolehannya.
Program kerja ini merupakan bentuk dari inklusi masyarakat S-1 Sejarah Universitas Diponegoro. Meski ada beberapa rancangan yang batal dicanangkan, sebab adanya permasalahan yang hadir. Akan tetapi, suasana ramai sepanjang selasar gedung B, terasa begitu menggetar di hati para pemirsa.
PANAS dilaksanakan pada jam 18:15 WIB dan berakhir sekitar pukul 21:00 WIB. Rangkaian acara yang memberi kesan begitu dalam bagi para penonton malam itu, memberi makna tersendiri dan meramu kisah khusus bagi seluruh lapisan masyarakat yang mengikuti acara tersebut. Selama perjalanan acara, seluruhnya dapat ditampilkan dengan begitu lancar dan elegan.
Ragam rupa massa tidak hanya dari Jurusan Sejarah, terdapat orang-orang dari jurusan bahkan fakultas lain. Semuanya membaur menjadi satu mengikuti alunan melodi vokal, hentakan drum, genjrengan gitar dan beberapakali diwarnai tawa terbahak.
Sedikit kembali pada rangkaian acara, Muflih seorang seniman obskur yang menampilkan sholawat dengan gaya rock n’ roll, dan memberikan tawa bagi seluruh pemirsa yang ada di sana. Muflih Funk adalah jelmaan punk yang sesungguhnya, bagi Muflih punk bukan hanya sebuah mode pakaian, tapi merupakan sebuah filosofi yang perlu diamalkan.
Program kerja yang terbilang sukses ini, perlu diteruskan di periode selanjutnya. Inklusi yang di bawa, dan keseruan yang menjiwainya, perlu untuk terus dikembangkan dari generasi ke generasi. Mari mengawasi program kerja ini, jangan biarkan hilang dari peradaban, tak pernah dikenang dan hanya jadi cerita rakyat Sejarah, yang hanya hadir di kening tiap mahasiswa.

Tinggalkan Balasan