-Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia 23 April 2022-
Rohana Kudus adalah salah satu tokoh pers perempuan pertama Indonesia yang juga berpengaruh dalam usaha kemajuan perempuan Indonesia. Rohana Koeddoes atau Siti Rohana lahir pada 20 Desember 1884, Sumatera Barat dari pasangan Moehammad Rasjat Maharadja Sutan (kepala jaksa/hoofd djaksa) dan Kiam.
Meski tidak mengenyam pendidikan formal, Rohana mampu mengenal abjad latin, arab, dan melayu karena Rohana tumbuh dalam keluarga moderat yang gemar membaca.
Rohana memiliki cita-cita untuk membela kaum perempuan karena prihatin dengan nasib perempuan yang tidak mendapat hak yang sama dengan kaum laki-laki, Untuk mewujudkan cita-citanya itu Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah untuk perempuan yang mengajarkan keterampilan. Tidak hanya itu Rohana juga mengirim surat kepada Datuk Sutan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe di Padang agar perempuan di beri ruang untuk tulisan dan menerbitkan surat kabar khusus perempuan. Pada akhirnya permintaan tersebut di setujui oleh Datuk Sutan Maharadja dengan mengusulkan putrinya yaitu Ratna Juwita Zubaidah untuk membantu Rohana. Maka terbitlah “Soenting Melajoe”, Surat kabar fenomenal yang di peruntukan kepada seluruh perempuan di tanah Melayu. Surat kabar ini berisi edukasi berkeadilan gender.
Soenting Melajoe terbit pertama kali pada 10 Juli 1912. Surat kabar ini terbit seminggu sekali dan tersebar tidak hanya di Melayu, Minangkabau tapi juga menjangkau wilayah Malaka, Singapura. Beberapa tulisannya yang terkenal adalah Setia Gerakan Perempuan Zaman Ini (SM 23 Mei 1913), Perhiasan Pakaian (SM 7 Agustus 1912), Perempuan (SM 15 Desember 1918), dan Mencari Isteri (19 Desember 1920).
Tulisan Rohana kebanyakan berisi tentang ajakan-ajakan untuk kaum perempuan agar lebih maju, Mengkritik praktik pergundikan yang di lakukan Belanda kepada perempuan Indonesia, Mengkritik pekerjaan tak manusiawi di perkebunan Deli, Mengkritik para mandor yang menjebak para buruh perempuan kedalam prostitusi.
Kiprah Rohana di bidang jurnalistik tidak hanya di surat kabar Soenting Melajoe.Tahun 1920 saat Rohana pindah ke Medan,beliau juga memimpin redaksi “Perempuan Bergerak” bersama Satimah. Di Tahun 1924, Saat Rohana kembali ke Minangkabau, Rohana di angkat sebagai redaktur Surat Kabar Radio harian yang di terbitkan Cinta Melayu di Padang.
Pada 1987, Rohana kemudian dianugerhahi gelar Perintis Pers Indonesia dalam peringatan Hari Pers Nasional ke-3 pada 1987. Pada 2019, Presiden Joko Widodo menganugerahi Rohana dengan gelar pahlawan nasional Indonesia pada perayaan Hari Pahlawan. Gambar dirinya sempat ditampilkan Google pada Senin (8/11/2021) dalam rangka mengenang pencapaian beliau di bidang pers dan perjuangan hak-hak wanita.
Sumber :
Oktarina, Soraya. Heru P. P. (2021). Rohana Kuddus: Gender Dan Gerakan Sosial-Politik. Journal of Feminism and Gender Studies Volume (1) Nomor: 2 Juli – Desember 2021 Halaman 59-74 URL: https://jurnal.unej.ac.id/index.php/FGS/index,
INN. (2021). Jejak Kisah Rohana Koeddoes, Wanita di Google Doodle Hari ini. CNN Indonesia. PUBLIKASI 8 NOV 2021 URL : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20211108100903-185-717953/jejak-kisah-roehana-koeddoes-wanita-di-google-doodle-hari-ini
Kajian dan Aksi Strategis 2022/2023
Tinggalkan Balasan