Sedikit informasi, Damono adalah Sapardi Djoko Damono. Sengaja saya tuliskan nama akhirnya saja, agar vokal akhiran tetap berbunyi “O”, sehingga senada dengan nama Vicky Prasetyo. Demikian, mari langsung meluncur ke isi kepala yang penuh dengan kebusukan.
Ini adalah kecamuk pikiran saya sebagai seorang pria yang kerap memasak kata. Meski pada akhirnya, kalimat bersajak yang telah saya pikirkan dengan matang itu, membuat saya disandingkan dengan Vicky Prasetyo.
Tak masalah saya kira, tapi hal tersebut bergumam di dalam pikiran untuk beberapa hari. Sebab, puisi tampaknya tak lagi dilihat sebagai karya sakral, yang sarat akan makna, seperti Fajar Merah yang menarasikan Widjie Thukul sebagai puisi, yang seperti bawang, ia berlapis arti.
Sayangnya, sekarang berpuisi hanya dipandang sebagai sebuah ajang untuk menggoda para puan. Padahal memang benar, eh salah maksud saya! Enak saja, rangkaian kata yang dipikirkan matang-matang, untuk menujum kepala para pendengar atau pembaca, di degradasi maknanya, “Hanya untuk merayu,” Katanya sih begitu. Haduh… puisi, riwayatmu kini hanya jadi runtutan kata penggoda saja.
Aplikasi KBBI yang telah terpasang di dalam gawai saya itu bukan tanpa arti. Laman web Tesaurus yang telah diberi tanda, dan antologi puisi yang telah terpajang manja di rak buku sederhana, ada bukan untuk merayu para puan saja! Mereka hadir untuk mengisi kekosongan jiwa. Menyambar kepala manusia, dan memaksa mereka untuk menilik ulang kehidupannya.
Bahkan ketika teater dipentaskan, atau pembacaan puisi dilantunkan. Entah kenapa, banyak yang tertawa atau tersenyum keanehan sendiri. Aneh rasanya, karya-karya itu mampu menggetarkan jiwa saya, tapi untuk beberapa, itu tontonan lucu dan menggelitik kepala.
Apakah mereka yang tertawa, takut untuk menenggelamkan diri dalam jiwanya, mungkin tak terbiasa menghadirkan ekspresi telanjangnya di depan khalayak, atau justru saya yang terlalu aneh untuk menganggap rangkaian kata adalah rapalan magis sentimental penggerak jiwa? Entah, saya juga sama bingungnya.
Mengapa Kita Menulis Puisi?
Beberapa dari kalian mungkin pernah menonton Dead Poet Society atau setidaknya melihat cuplikan filmnya di Reels Instagram. Ada salah satu kalimat yang kerap disadur dalam film tersebut, dan diunggah menjadi kutipan-kutipan di berbagai sosial media. Berikut saya sadur dalam terjemahan kepala saya pribadi.
“Kita membaca dan menulis puisi, sebab kita adalah bagian dari manusia. Dan manusia penuh dengan renjana. Dan obat, hukum, bisnis, teknik, adalah tujuan yang mulia dan penting untuk keberlanjutan hidup. Tapi puisi, keindahan, romansa, cinta, adalah perihal yang membawa kita untuk terus hidup.”
– John Keating, Dead Poet Society –
Kutipan tersebut perlu menjadi landasan pemaknaan puisi saya rasa. Masing-masing manusia menuangkan jiwanya dengan cara yang berbeda. Beberapa memilih untuk melukis, beberapa memilih untuk mengolah suara, dan beberapa menyederhanakan perasaannya dalam sebuah rangkaian kata yang berima. Begitulah seharusnya puisi dicipta, dilaku, dipuja, dan diwujud. Namun, keindahan tak selalu hadir dalam diksi-diksi anti-mainstream, atau kalimat berima dengan segala kiasan di segala sisinya.
Charles Bukowski contohnya, ia mampu mendorong para pembacanya untuk berpikir. Ada salah satu puisi yang begitu menohok, hanya saja saya lupa judulnya. Akan tetapi, hampir banyak puisi Bukowski yang baitnya berupa kalimat tanya. Membaca karya beliau rasanya seperti diajak ngobrol dengan pria paruh baya, yang mudah tersinggung dan marah dengan segalanya.
Bila di Indonesia, kita punya Rendra. Caranya menyampaikan berbagai perasaan, cukup serupa dengan Bukowski. Gurauan jorok, satir-sarkas, dan marah-marah adalah karakter yang sangat Rendra. Adapula Amir Hamzah, yang dalam menulis masih sarat akan aturan-aturan sajak Melayu lama, yang berbait empat dengan rima a-a-a-a atau a-b-a-b dengan suku kata yang ketat akan aturan di setiap baitnya.
Berbagai macam tulisan dapat kalian eksplorasi. Bagaimana para pujangga menuliskan relung kalbu, berbeda dari yang satu dan lainnya. Mengapa demikian? Sebab puisi adalah lukisan hati, ia tak dapat ditiru (kecuali pake AI, wkwk), dan hadir tak hanya untuk merayu, tetapi juga untuk bertanya, berprasangka, meraba, mengkritisi, menghanyutkan, mendeduksi, menyarikan, dan macam-macam kata kerja lain yang serupa.

Tinggalkan Balasan