Sinau Bareng Mahasiswa: Sejarah Konstruksi dan Perlawanan Perempuan di Media Massa

Pada hari Sabtu (26/10/2024), Divisi Penelitian dan Keilmuan Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Diponegoro, melaksanakan salah satu program kerja yang telah dirancangkan dari awal periode. Program itu adalah SIMBA, sebuah abreviasi dari Sinau Bareng Mahasiswa.

Dalam kesempatan kali ini, SIMBA mengangkat tema gender, tepatnya sebuah histori pembentukan citra gender dalam media massa. Ada dua pembicara dalam diskusi kali ini, yaitu Dr. Mahendra Pudji Utama, M.Hum. dan Keke Pahlevi Daradjati S.Pd., M.A.

Acara berjalan dengan lancar, meski tak terlalu meriah, dan hanya dihadiri oleh 30-an mahasiswa saja, tetapi keseruan dalam diskusi masih terasa. Berbagai pertanyaan mengenai pergeseran perempuan, dilayangkan oleh beberapa mahasiswa.

Pergeseran Citra Perempuan dari Masa ke Masa

Pembahasan bermula dengan adanya hubungan asimetris melalui simbol-simbol gender, simbol tersebut hadir dalam berbagai konstruksi budaya. Paradigma budaya, menjadi landasan bagi cara hidup, dan cara pandang seorang manusia. Pada akhirnya manusia sebagai individu, tak bisa dilepaskan dari konstruksi manusia  sebagai bagian dari masyarakat.

Kemudian pemaparan berlanjut pada perubahan dalam konstruksi perempuan dari waktu ke waktu. Pembahasan bermula dari masa kolonial akhir, pandangan ini dikaji dari televisi, radio, dan majalah perempuan, terutama iklan-iklan media massa.

Iklan-iklan dan berbagai media massa, mengonstruksi perempuan berkegiatan di wilayah domestik. Perihal yang menarik, media massa menggambarkan para pria sebagai tokoh utama dalam iklan-iklan dan perbincangan serta diskursus dalam berbagai media massa. Sedangkan para perempuan, dihadirkan sebagai pelengkap saja.

Lebih lanjut, di masa Orba, menurut kajian yang telah dilakukan Pak Mahendra, periode Orba secara khusus melakukan domestikasi perempuan. Politik juga punya pengaruh besar, terdapat semacam narasi emansipasi yang pada akhirnya di arahkan pada konstruksi domestik.

Jebakan domestikasi perempuan dapat ditemukan dalam beberapa organisasi yang dicipta pemerintah. Salah satunya adalah Pemberdayaan dan Penyejahteraan Keluarga (PKK), meski memiliki rupa emansipasi, tetapi PKK pada akhirnya mengajarkan perempuan dalam konstruksi domestikasi.

Media Massa dan Pergulatan Para Puan

Sebelum membahas makanan pokok, Ibu Keke menjelaskan tentang patriarkisme. Ia memaparkan bahwa patriarkisme secara umum, dapat dipahami sebagai struktur timpang yang menempatkan posisi pria lebih tinggi ketimbang perempuan.

Ibu Keke juga menjelaskan tentang kedudukan perempuan sebagai second sex, atau sebuah konstruksi milik Simmone de Beaouvore yang menjelaskan dalam pandangan histori-material ala Engels dan Marx. Jadi, perempuan selalu dinomorduakan pada berbagai kesempatan, sesuai dengan temuan Pak Mahen yang sempat dipaparkan tadi.

Kembali pada struktur patriarki, fungsinya secara umum adalah untuk mempertahankan, melestarikan, atau bahkan memperkukuh keberadaan pria di atas para puan. Norma dan nilai yang telah merasuk sebagai adat-istiadat masyarakat, konstruksi gender ini mau tak mau telah mapan di dalam masyarakat di Indonesia.

Pers dan periode politik etis tak bisa dipisahkan. Kebebasan yang mulai direngkuh perempuan dalam perihal menimba ilmu, menjadikan para perempuan kemudian memiliki kuasa berupa pengetahuan, sehingga perempuan memiliki kesempatan untuk mendobrak kemapanan tradisi masyarakat dalam memandang para puan.

Media perempuan mulai tumbuh dan berkembang dengan pesat, dan pergulatan-pergulatan itu mulai terjadi pada berbagai media massa. Salah satu bentuk manuskrip yang sempat diunggah dalam publik, ada usaha-usaha advokasi oleh para jurnalis kepada publik.

Konstruksi peranan pria dan puan dalam konteks keluarga, mulai dikabarkan secara sehat. Artinya, baik pria atau puan memiliki tanggung jawab yang sama dalam bidang pengasuhan anak. Setidaknya, itu adalah salah satu contoh yang Ibu Keke tunjukkan.

Akhir Kata

Perempuan, menjadi golongan tertindas dari masa ke masa. Perempuan secara sentral dipandang sebagai mesin reproduksi dan produksi anak. Nilai-nilai yang disematkan, juga tak jauh-jauh dari perihal berbau seksual.

Oleh karena itu, manusia perlu mengerti perempuan sekali lagi. Ketimpangan yang terjadi, antara pria dan puan, perlu dikurangi. Menciptakan dunia yang penuh dengan keadilan tanpa pandang-pandang asimetri memang perihal yang sukar, tetapi bukannya tak mungkin untuk dilakukan.

Mari, memandang perempuan seutuhnya, berikan mereka kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang mereka suka. Fungsi-fungsi yang awalnya hanya dilaku para puan di rumah tangga, nyatanya bisa dilaku oleh para pria pula. Mengasuh, juga sama halnya.

Mari menghilangkan sematan-sematan simbolik dalam kebudayaan. Pikiran semacam perempuan harus melakukan x, dan pria harus menjadi y, merupakan bentuk dari sematan simbolik adat-istiadat. Semenjak kita mengerti, apa artinya gender, mengapa tidak kita memilih dan memilah, pemikiran semacam, yang hadir dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *