Umi Sardjono: Pejuang Wanita dari Serikat ke Serikat Berakhir di Pengasingan

Suharti Sumodiwirjo atau yang akrab dikenal sebagai Umi Sardjono lahir pada 24 Desember 1923 di Salatiga. Suharti lahir dalam keluarga yang cukup melek pendidikan. Bersama sang kakak, ia diizinkan untuk mengenyam bangku sekolah dasar di sekolah Belanda untuk bumiputra yang berdiri pada zaman penjajahan Belanda atau Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Seperti pelajar pada umumnya, Suharti sudah dapat membaca sedari sekolah dasar, ia tumbuh dengan mengidolakan R.A Kartini. Buku R.A Kartini yang paling masyhur Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi salah satu dorongannya untuk terlibat dan berperan aktif dalam aktivitas organisasi pergerakan nasional. Sejak usia muda Suharti sudah terlibat dalam perjuangan pemenuhan hak-hak kaum perempuan Indonesia. Selain R.A Kartini, Suharti juga mengidolakan S.K. Trimurti yang merupakan wartawam perempuan yang menjabat sebagai menteri perburuhan di kabinet Amir Sjarifuddin.

Setelah Umi Sardjono berkenalan dengan S.K Trimurti yang juga merupakan anggota Gerindo (Gerakan Indonesia) yang didirikan pada 1937 oleh Amir Syarifudin, Umi akhirnya tertarik masuk Gerindro Blitar. Di Gerindo Blitar, Umi dididik dalam gerakan bawah tanah melawan fasisme Jepang. Pada tanggal 15 September 1945, Barisan Buruh Indonesia (BBI) terbentuk untuk memudahkan mobilisisasi serikat buruh. Pada tahun yang sama terbentuk juga Barisan Buruh Wanita yang didirikan oleh Umi Sardjono bersama Trimurti dengan maksud memperjuangkan buruh perempuan dan hak buruh berbasis gerakan sosialis.

Tahun 1946 Barisan Buruh Indonesia (BBI) dilebur menjadi GASBI (Gabungan Serikat Buruh Indonesia) namun bagi yang tidak bersepakat dengan struktur GASBI lalu membentuk GASBV (Gabungan Serikat Buruh Vertikal). Sekitar November 1946, Alimin dan Haryono dari Partai Komunis Indonesia (PKI) berhasil menggabungkan kedua organisasi buruh tersebut menjadi SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) dan kemudian Barisan Buruh Wanita (BBW) ikut melebur ke dalam SOBSI.

Umi bersama Trees Metty dari Pemuda Putri Indonesia serta S.K. Trimurti mendirikan lagi organisasi massa perempuan yaitu Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) yang merupakan peleburan dari enam organisasi perempuan: Rupindo (Rukun Putri Indonesia) dari Semarang, Persatuan Wanita Sedar dari Surabaya, Istri Sedar dari Bandung, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo) dari Kediri, Wanita Murba Madura, dan Perjuangan Putri Republik Indonesia dari Pasuruan. Gerwis didirikan sebagai akibat dari penolakan Perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar) tahun 1950 dan wadah bagi perempuan untuk melawan imperialisme yang belum hilang dari bumi Indonesia.

Pada kongres kedua Gerwis tahun 1954, Umi terpilih menjadi ketua Gerwis, kemudian ditetapkan bahwa Gerwis berubah nama menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Pada yang bersamaan S.K Trimurti mengundurkan diri dari Gerwani sebab menurut Umi, Trimurti mempunyai masalah masa lalu dengan Partai Komunis Indonesia. Gerwani di bawah kepemimpinan Umi Sardjono berkembang subur hingga menjangkau perempuan, buruh, dan petani di kampung maupun kota. Dari sekitar 500 ribu anggota menjadi 1,5 juta anggota yang tersebar hampir di semua daerah.

Melalui pemilu untuk memilih anggota Dewan Konstituante pada 15 Desember 1955, Umi terpilih sebagai anggota Dewan Konstituante dari Partai Komunis Indonesia. Tugas dewan ini ialah menyusun Undang-Undang Dasar baru menggantikan UUDS 1950, namun Dewan ini kemudian dibubarkan oleh Soekarno karena mengalami deadlock dalam memutuskan dasar negara.

Pada pertengahan Oktober tahun 1964 Umi Sardjono ditangkap setelah peristiwa G30S PKI, Umi Sardjono ditangkap  tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di kantor Gerwani. Ia kemudian dibawa dari rumah tahanan satu ke rumah tahanan lainnya, sampai kemudian diasingkan ke penjara khusus perempuan di Plantungan, Kendal hingga dibebaskan pada 1979. Selama di rumah tahanan khususnya Bukit Duri, nampaknya ada semacam metode untuk membuatnya terisolasi, semacam dijauhkan dari siapapun yang berada di dekatnya. Lebih daripada itu, jika mengamati pola yang dibikin oleh militer pada tahun-tahun itu, mereka dicoba dibunuh secara tidak langsung: dibuat gila karena depresi, diberi jatah makan yang amat sedikit, sehingga lama-kelamaan satu persatu dari mereka yang sudah sangat tidak kuat akan meninggal entah karena bunuh diri, penyakit, kelaparan, dan kekurangan gizi.

Menurut Sulami dan Sudjinah, dua aktivis yang berada dalam lingkaran pusat Gerwani pada tahun-tahun tersebut, melalui memoarnya menceritakan hal tersebut. Dalam pemeriksaan dan interogasi yang dilakukan aparat militer, mereka mengalami pelecehan seksual, ditelanjangi berjam-jam dalam ruang pemeriksaan, dan disiksa menggunakan benda-benda tumpul. Sebuah perlakuan yang begitu biadab dan amoral yang sangat tidak layak dilakukan oleh seorang manusia yang mengaku dirinya waras. Maka hal yang mungkin serupa, atau bahkan lebih gila lagi, terjadi dan menimpa Umi (ketua Gerwani) sehingga menyebabkan ia memilih bungkam dan memiliki ketakutan luar biasa bahkan hingga tahun-tahun ketika rezim diktator Suharto tumbang pada 1998.

Umi Sardjono wafat pada 11 Maret 2011 dan dimakamkan dalam satu kuburan dengan suaminya (Sukisman) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipinang Asem, Jakarta Timur.  Terlepas dari Stigma kepada Umi Sardjono maupun organisasinya dengan Peristiwa G30S PKI, Umi Sardjono tetaplah wanita yang bergelora dalam memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia. Umi menjadi sebuah manifestasi dari pejuang wanita yang progresif, kosmpolit, dan juga gigih bahkan sejak masa kolonial Belanda, ikut gerakan bawah tanah melawan Jepang, mempertahankan kemerdekaan dalam masa Revolusi, dan menjadi pemimpin gerakan perempuan yang berjejaring hingga Eropa dan benua lainnya.

Ditulis oleh Kastrat HM Sejarah UNDIP

Referensi:
https://alfarius.wordpress.com/2021/10/07/umi-sardjono-dalam-liputan-khusus-majalah-tempo/
https://gagasanonline.com/2021/10/umi-sardjono-dan-stigma-gerwani-perempuan-perempuan-yang-dituduh-terlibat-g30s.html
https://indoprogress.com/2017/02/umi-sardjono-feminis-marxis-yang-menakhodai-gerwani/
https://tirto.id/jalan-revolusi-umi-sardjono-pejuang-kemerdekaan-pemimpin-gerwani-dnxi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *